AMBI Selenggarakan Diskusi Terkait TKDN Pembangkit Listrik

Senin, 22 Januari, 2018
Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia pada jumat (22/12/2017) mengadakan diskusi bersama yang kali ini mengambil topik “Menegok Proyek Pembangkit Terkait Peran Industri Konstruksi Nasional”

Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia pada jumat (22/12/2017) mengadakan diskusi bersama yang kali ini mengambil topik “Menegok Proyek Pembangkit Terkait Peran Industri Konstruksi Nasional” yang diselenggarakan di Ground Up Delicatessen, Tebet, Jakarta. “Acara diskusi seperti ini atau Steel Friday Lunch Club merupakan acara bulanan yang membahas hal-hal yang terkait dengan dunia konstruksi di tanah air, dengan menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan profesional dan instansi,” kata Singgih Wasesa selaku CEO steelindonesia.com saat membuka acara.

Singgih juga mengungkapkan bila acara seperti ini untuk mengedukasi masyarakat terkait industri besi baja yang semakin lama tergerus akan adanya impor dalam proyek infrastruktur. “Industri besi baja mungkin terlihat baik-baik saja selama ini, namun serangan impor yang semakin besar dapat melemahkan industri baja nasional dan lama-lama kita bisa tenggelam karena ancaman impor. Terutama dari cina yang luar biasa perkembanganya, sedangkan Vietnam yang baru saja melakukan peningkatan jumlah produksi saja sudah mengalahkan produksi nasional,” ungkap Singgih.

“Apalagi bila mencermati penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negri (TKDN) dalam proyek 35 ribu megawatt (MW). Proyek yang diselenggarakan pemerintah dengan menggunakan dua model pembiayaan yaitu pemerintah dan swasta atau yang biasa disebut (Independent Power Producer) IPP. Namun IPP yang hampir 75 persen mendominasi proyek 35 ribu MW masih kurang dalam penggunaan TKDN. Bayangkan saja bila 1 MW menggunakan 20 ton, maka besarnya konsumsi besi baja sangat besar dan inilah yang perlu dikawal,” ujar Singgih.

Bimakarsa Wijaya, SVP Head of Marketing PT. Krakatau Steel (persero) Tbk yang turut hadir dalam acara tersebut juga menyampaikan bila industri besi baja nasional sedang berusaha bangkit. “Industri baja sedang berusaha bangkit karena pasar yang juga lagi baik. Tahun depan produksi Krakatau Steel akan meningkat 10 persen. Lalu dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi China yang membaik maka diprediksi permintaan domestik negara itu juga akan meningkat sehingga akan mempengaruhi produk baja impor China,” ungkap Bima.

Di tempat yang sama, Maryu Widayati yang mewakili Kementrian Perindustrian mengatakan bila aturan penggunaan TKDN dalam pembangkit, jaringan transmisi dan gardu induk sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian N0. 54 Tahun 2012 tentang Pedoman Penggunaan Produksi Dalam Negeri untuk Pembangunan Ketenagalistrikan. Menurut PerMen tersebut telah diatur regulasi pemanfaatan kandungan dalam negeri di atas 50 persen sehingga membuka luas kesempatan industri nasional untuk memenuhi kebutuhan mesin dan peralatan.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) sendiri sudah menetapkan enam proyek IPP agar menggunakan boiler produksi dalam negeri. Proyek tersebut di antaranya PLTU Bangka (2x100 MW), PLTU Kalselteng 3 (2x100 MW), PLTU Kaltim 3 (1x200 MW), PLTU Kaltim 6 (1x200 MW), PLTU Kalbar 2 (1x200 MW), PLTG/MG Peaker Jawa Bali 4 dan akan menyusul beberapa proyek IPP lainnya. Untuk mendorong penggunaan komponen lokal, PLN terus melakukan peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dalam setiap proposal tender. PLN juga memberikan syarat penggunaan komponen pembangkitan dan Balance of Plant (BOP) yang difabrikasi dan dirakit oleh BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Strategis dan pabrikan dalam negeri secara maksimal.

Sumber Berita

Tabloid Steelindonesia


Komentar Anda :
Share this post
Iklan

Customer Service : +62 851 0004 9473
Local Marketing : +62 878 8885 5265
International Marketing : +62 878 8885 5371
inforedaksi@steelindonesia.com
Kontak Kami

PT. Global Infotech Solusindo
Jalan Raya Jarakosta - MM 2100
Prapatan Neih Desa Sukadanau
Cikarang Barat, Kab. Bekasi, Jawa Barat 17843 - Indonesia
Telp. :+62 851 0004 9473
© Steelindonesianews. 2008 - 2018 . All Rights Reserved.