Masyarakat Baja Harus Proaktif

Rabu, 3 Agustus 2016

Disela-sela kesibukan beliau, redaksi Steel Indonesia mewancarai profil dan karir Ir. Yaya Supriyatna Sumadinata, M.Eng. Sc. Mulai dari perjalanan keluarga beliau sampai pembahasan karir beliau di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Pria kelahiran bandung 57 tahun silam ini sebernarnya memiliki cita-cita sebagai ahli ekonomi karena dia menyukai pelajaran yang bersifat aljabar serta hitungan. “saya dulu ingin mengambil jurusan ekonomi di Universitas Indonesia, tetapi malah keterima di ITB Teknik Sipil” ucapnya. Selepas mengenyam pendidikan S1, beliau sudah meniti karirnya di Kementerian Pekerjaan Umum di Direktorat Bina Marga Jembatan dan Jalan.

Kemudian beliau yang akrab disapa Pak Yaya mendapat beasiswa S2 di Australia pada University of New South Wales mengambil jurusan Geotechnic. Karir beliau terus naik hingga akhirnya menjadi Direktur Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Ditanya soal peran Bina Konstruksi pada pembangunan infrastruktur beliau mengatakan “tugas kita pengaturan, pemberdayaan dan pengawasan”. Artinya Direktorat Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan kelembagaan dan sumber daya jasa konstruksi.

Soal standardisasi “tetap harus ada pengawasan yang ketat” soal peraturan dan kebijakan memang sudah ada tapi masih ada pengguna yang memanfaatkan produk yang non SNI dikarenakan harga yang lebih murah.  Memang kita hanya mengadopsi apa yang sudah ada. Soal spesifikasi sudah ada dan seharusnya sudah terkendali. Masyarakat baja juga harus lebih hati-hati dalam proses pembangunan. “Untuk itu peran masyarakat baja harus proaktif!!” tegasnya.

Untuk produsen dalam negeri semua kebutuhan infrastruktur dalam negeri harus mampu terpenuhi. “Contohnya apabila kita ingin membuat jembatan langsung saja kita ke Krakatau Steel untuk minta dibuatkan jembatan”. Masyarakat baja juga harus mensosialisasikan untuk penggunaan baja ringan.

Kita tidak cukup hanya memproduksi baja tetapi investasi yang dibangun oleh masyarakat baja itu sendiri.

Infrastruktur  dan konstruksi selalu sinergi dengan desain yang dibuat oleh seorang engineer. Kebutuhan engineer kita tidak kekurangan dan tidak kalah hebatnya dengan engineer asing. Kebutuhan kita cukup untuk kebutuhan engineer.

Beton pracetak dan baja harus dibuat semakin ramping untuk itu dibutuhkan baja bermutu tinggi. “Jadi jangan dipisahkan antara beton pracetak dan besi baja” tutupnya.

 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga