Kajian Penyediaan Bahan Bangunan Berkualitas dan Terjangkau Dalam Mendukung Pembangunan Rumah MBR

Kamis. 7 Juli 2016

Selasa 28 Juni 2016, Direktorat Rumah Umum dan Komersial Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan bahasan Penyediaan Bahan Bangunan Berkualitas dan Terjangkau Dalam Mendukung Pembangunan Rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang bertempat di Hotel Atria Gading Serpong.

Ir. Irma Yanti, MT selaku Direktur Rumah Umum dan Komersial Kementerian PUPR dalam sambutannya mengatakan ''kita duduk bersama mencari solusi bersama bagaimana agar MBR dapat rumah murah tetapi juga pengusaha/pelaku pembangunan tidak dirugikan dalam hal ini win-win solution''

Acara ini menghadirkan narasumber baik dari pemerintah maupun pihak swasta dalam hal ini pelaku usaha maupun asosiasi terkait, diantaranya adalah Direktur Bina Kelembagaan dan Jasa Konstruksi, Ditjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR diwakili oleh bapak Herry Kurniawan; Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman, Balitbang Kementerian PUPR Prof (R). Dr. Ir. Arief Sabaruddin, CES; Nurul Wajah Mujahid perwakilan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kepala Dinas Cipta Karya Kabupaten Tangerang  Ir. H. Taufik Emil; Ketua DPD REI Banten bapak Soelaeman Soemawinata; Commercial Director PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk bapak Troy D. Saputro serta Co-Chairman AMBI (Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia) Ir. Singgih Wasesa.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman, Balitbang Kementerian PUPR Prof (R). Dr. Ir. Arief Sabaruddin, CES dalam memaparkan bahwa perlunya standarisasi bahan bangunan menuju rumah murah sesuai dengan Undang-undang Perumahan dan Kawasan Pemukiman No. 1/2011 Pasal 32 yang wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Co-Chairman AMBI (Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia) Ir. Singgih Wasesa mengatakan ''untuk menuju rumah berkualitas dan terjangkau kata kuncinya adalah siapkan desain yang terstandar dan material/komponen bangunan yang berbasis industrialisasi (produksi masal)''.

Acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 dan ditutup dengan buka puasa bersama ini menelurkan beberapa kesimpulan antara lain perlunya ada jaminan kualitas dan fleksibiltas bangunan jika ada penambahan bagian bangunan, kecepatan dalam melaksanakan pembangunan, kemudian diperlukan sinergi antar Kementerian terkait agar program ini bisa berjalan dengan baik, lalu komitmen pengembang perumahan untuk tidak menurunkan standar bangunan dan yang terakhir adalah perlunya pengaturan khusus untuk pasar dan distribusi bahan bangunan berkualitas dan terjangkau.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga