Sinergi ketersedian baja dengan kebutuhan baja dalam perencanaan kontruksi dalam rangka mendukung program "Percepatan Pembangunan Infrastruktur Nasional"

Selasa, 21 Juni 2016

Industri baja merupakan industri strategis sebab diperlukan dalam setiap pembangunan suatu negara, misalnya pembangunan fasilitas infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, maupun bandara. Kebutuhan baja domestik terus meningkat dari 7,4 juta ton pada 2009, menjadi 15 juta ton pada 2015, dan diprediksi terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Baja merupakan induk dari segala industri, mengingat  pabrikan lokal hanya mampu memenuhi kebutuhan baja nasional sekitar 30% atau sekitar 4 juta ton per tahun, untuk itu Steel Indonesia menggelar pameran baja pertama, terlengkap, dan terbesar di Indonesia dengan tajuk “Steel Indonesia Expo 2016” pada tanggal 7-9 September 2016 di JiExpo Kemayoran Jakarta.

Sebagai salah satu langkah persiapan, Kementerian Perindustrian bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyelenggarakan rapat konsolidasi nasional bertajuk “Sinergi Industri Baja & Penyelenggara Konstruksi Dalam Rangka Mendukung Program Percepatan pembangunan Infrastruktur Nasional”. Acara konsolidasi ini sendiri dilaksanakan pada hari Kamis, 16 Juni 2016 pada pukul 14.00 sampai selesai bertempat di Hotel Bidakara, Jakarta.

Pada acara konsolidasi ini menghadirkan pembicara I Gusti Putu Suryawirawan selaku Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian  dan Yusid Toyib, Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR dalam hal ini diwakilkan oleh Ir. Yaya Supriyatna Sumadinata, M.Eng.SC selaku Direktur Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi, Ditjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR. Acara kali ini mengagendakan untuk Melakukan sinergi ketersedian baja dengan kebutuhan baja dalam perencanaan konstruksi dalam rangka mendukung program “Percepatan Pembangunan Infrastruktur Nasional”

Ir. Singgih Wasesa selaku ketua panitia penyelenggara memaparkan “bagaimana program pemerintah tetap di kita, dalam arti kita yang melaksanakan. kita akan sharing dengan semua pihak, pemerintah yang memiliki program dengan kalangan industri nasional yang memiliki kemampuan untuk menyuplai bahan baku demi mensukseskan program pembangunan infrastruktur nasional”

Salah satu pembahasan dalam konsolidasi ini adalah mengenai Steelindonesia Expo 2016.  Steelindonesia Expo 2016 sendiri menampilkan 13 sub industri besi baja mulai dari bahan baku material, produk besi baja, komponen baja untuk bangunan dan konstruksi, permesinan, hingga produk-produk perbankan yang mendukung industri ini. Tidak kurang 200 industri akan terlibat dalam pameran ini, sehingga kegiatan ini menjadi pameran baja yang pertama, terlengkap dan terbesar di Indonesia. Dalam pameran ini industri nasional akan di utamakan, dimana tidak ada produk import yang turut serta. Hal ini akan menjadi kesempatan untuk menunjukan kemampuan dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“pada pameran yang akan diselenggarakan nanti warnanya warna merah putih, tidak ada produk impor kecuali permensinan dan teknologi” lanjut Singgih Wasesa.

Menanggapi kondisi pasar baja di indonesia Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan  dalam diskusi ini menegaskan “kita tidak ingin indonesia hanya menjadi limpahan-limpahan pasar dari negara lain, kita tetap harus hidup sebagai industri baja yang mandiri dan bersaing”

“kita harus tetap optimis, mampu dan bisa memenuhi kebutuhan baja dalam negeri kita tentunya kita bisa survive dengan konstruksi baja yang melalui proyek-proyek pemerintah” sambung beliau.

Acara konsolidasi ini dihadiri oleh kurang lebih 200 peserta yang berasal dari kalangan industri baja dan industri pendukungnya serta dari berbagai asosiasi, antara lain Indonesian Iron Dan Steel Industry Association (IISIA), Asosiasi Pabrikan Tower Indonesia (ASPATINDO), Himpunan Alat Berat Indonesia (HINABI), Asosiasi Galvanis Indonesia (AGI) sebagai pendukung acara ini, turut hadir pula Asosiasi Pengusaha dan Pemilik Alat Konstruksi Indonesia (APPAKSI), Perhimpunan Agen Tunggal Alat-alat Berat Indonesia (PAABI), Asosiasi Aspal Beton Indonesia (AABI), Asosiasi Perusahaan Pracetak dan Prategang Indonesia (AP3I) serta Ikatan Ahli Pracetak dan Prategang Indonesia (IAPPI).

Dadang Danusiri selaku perwakilan dari Asosiasi Industri Besi dan baja Indonesia atau Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) dalam sambutannya mengatakan “Kami atas nama asosiasi industri baja sangat mendukung penyelenggaraan konsolidasi ini, yang nanti hasilnya akan membuat industri baja di indonesia lebih maju. Kami sangat menghargai acara ini semoga nanti pada saat pameran, kita bisa menunjukan bahwa produksi nasional mampu dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur dalam negeri”.

Sementara itu ketua umum ASPATINDO, S. Hapsari menjelaskan ada 2 hal penting yang menjadi masukan, seperti beliau paparkan “Bagaimana pemerintah membantu kita bahwa produksi dalam negeri benar-benar di dalam negeri, memberikan kesempatan bagi pelaku industri yang masih baru dengan step-step yang jelas serta mempermudah birokrasi agar industri ini semakin tumbuh berkembang dengan tidak mengesampingkan kualitas produk dalam negeri”

Selain mendiskusikan tentang agenda diatas, diadakan pula penyerahan penghargaan kepada Subdit Material dan peralatan konstruksi, Kementerian PUPR dan Subdit Logam Mesin Besi, Kementerian Perindustrian serta kepada Asosiasi-Asosiasi Pendukung konsolidasi nasional ini. Kemudian ada pula penghargaan Steel Indonesia Award yaitu suatu bentuk apresiasi Steel Indonesia kepada para member yang loyal. Bersama dengan acara ini juga berlangsung

 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga