Perkuat Kerja Sama Industri Baja, Indonesia Gandeng Jepang

selasa, 24 Mei 2016

Indonesia dengan Jepang terus memperkuat kerjasama dalam bidang industri baja. Upaya itu salah satunya dilakukan melalui pertemuan dalam Forum Indonesia-Japan Steel Dialog (IJSD) ke-6 tahun 2016 di Tokyo, Jepang, yang berlangsung pada tanggal 27 bulan April yang lalu.

 

IJSD merupakan Forum Konsultasi industri baja antara IISIA (Asosiasi Industri Baja Indonesia), yang didampingi Kementerian Perindustrian, dan JISF (Asosiasi Industri Baja Jepang), yang didampingi METI (Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang).

 

"Kami terus dorong industri baja untuk memperlebar produksi dan investasi sehingga menopang industri lain seperti otomotif, permesinan dan elektronika, selain baja untuk konstruksi," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin di Jakarta.

 

Menurut dia, pemerintah Indonesia sudah beberapa kali tegas mendesak Jepang dan negara lain untuk lebih aktif memperkuat struktur industri di Indonesia.

 

Pada sektor otomotif misalnya, jika sebelumnya lebih marak perakitan, kini beberapa pabrikan mulai membangun pabrik mesin dan komponen. Begitu juga dengan elektronika dan produksi mesin.

 

"Produk akhir sudah dibeli masyarakat kita, sudah semestinya proses produksi juga memberi keuntungan ke dalam negeri. Forum dialog khusus baja seperti itu juga demi mempercepat pendalaman industri, menegaskan posisi serta visi industri kita," jelas Saleh.

 

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan menambahkan, pembentukan Forum IJSD pada tahun 2011 dilatarbelakangi kerja sama ekonomi Indonesia dan Jepang dalam kerangka “Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA)” yang ditandatangani pada 2008.

 

Pembentukan forum ini juga didorong oleh pentingnya rantai pasok industri di kedua negara yang dapat dilihat dari banyaknya investasi Jepang di Indonesia khususnya yg berbahan baku baja,” ujar dia.

 

Putu merinci, beberapa investasi Jepang di Indonesia yang terjadi setelah ada forum ini antara lain PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS) dan PT JFE Steel Galvanizing yang memproduksi CRC dan BjLS untuk mendukung bahan baku industri otomotif, permesinan dan elektronika.

 

"Investasi masing-masing sebesar 400 juta dollar AS (Kapasitas 400 ribu ton/tahun) dan 325 juta dollar AS (Kapasitas 300 ribu ton/tahun). Disamping itu juga ada PT Krakatau Osaka Steel (KOS) dgn investasi 200 juta dollar AS yang memproduksi steel bar dan baja profil untuk mendukung industri konstruksi dan pembangunan infrastruktur," papar dia.

 

Sementara itu, menurut Atase Perindustrian di Tokyo, realisasi investasi Jepang di Indonesia pada 2015 meningkat 6 persen dibanding 2014. Tercatat pada 2015 sebesar 2,87 miliar dollar AS dan menyerap 115.400 tenaga kerja.

 

Utamanya investasi didominasi sektor manufaktur khususnya otomotif, elektronika, kimia dan farmasi. Komitmen investasi Jepang pada 2015 mencapai 8,1 miliar dollar AS atau meningkat 95 persen dari tahun sebelumnya,” kata Doddy.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga