Optimisme Proyek 65 Waduk

13, Mei 2016

Pembangunan waduk bertujuan untuk mencapai tingkat kemandirian pangan. Sebab, waduk dapat membantu irigasi atau pengairan sawah-sawah di Indonesia. Apalagi, waduk bisa mendorong ketersediaan listrik di pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Potensi PLTA di Indonesia seharusnya bisa mencapai 75 gigawatt. Namun, hingga saat ini yang dikembangkan untuk listrik hanya 5,75 persen.

Selain itu, pembangunan waduk yang gencar saat ini juga merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah untuk melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian kementrian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR), Mudjiadi mengatakan “menghadapi perubahan iklim kita harus banyak tampungan (air) nya, salah satu dampak perubahan iklim itu musim hujannya tambah pendek kemarau tambah panjang, intensitas hujannya tambah tinggi otomatis distribusi airnya tidak merata sepanjang tahun, kalau kita punya waduk ini tampungannya banyak airnya kan kita terjamin sepanjang tahun”.

Mudjiadi memaparkan bahwa “Saat ini jumlah tampungan air untuk 250 juta orang di Indonesia sebanyak 15 juta meter kubik, artinya hanya sekitar 24 meter kubik per kapita per orang. Apabila dibandingkan dengan Thailand saat ini memiliki tampung mencapai 1.200 meter kubik per kapita”.

Melihat jumlah tampungan air di Indonesia yang dianggap kurang mampu memenuhi kebutuhan air rakyat Indonesia maka pemerintah menaruh perhatian lebih pada pembangunan infrastruktur waduk.

Pemerintah melalui kementrian PUPR memprioritaskan pembangunan sejumlah 65 waduk yang tersebar di indonesia dengan 49 pembangunan waduk baru dan 16 waduk lainya melanjutkan pembangunan yang terdahulu.

Dari 65 waduk yang tengah dikerjakan, sebanyak 49 diantaranya dibangun pada periode 2014-2019. "Program presiden Jokowi itu kan untuk 5 tahun ini melaksanakan pembangunan 49 waduk, sebelum itu kita punya 16 yang on going, jadi total sampai 2019 itu kita akan bangun 65 waduk. Diperkirakan sebanyak 29-30 waduk akan diselesaikan pada periode 2014-2019, sisanya akan selesai pada 2021-2022, dikarenakan pembangunan waduk rata-rata membutuhkan waktu tiga sampai lima tahun” tukas Mudjiadi.

Mudjiadi juga mengatakan, “sampai saat ini sebanyak 6 waduk telah final pembangunannya, yaitu waduk  Nipah di Madura, Bajulmati di Banyuwangi, Titab di Bali, Jatigede di Sumedang, Rajui di Aceh dan Pandan Duri di Nusa Tenggara Barat”.

Sedangkan yang akan dimulai di 2016 sebanyak 8 waduk, yaitu, Waduk Rukoh (Aceh), Sukaraja (Lampung), Sukamahi, Ciawi, Cipanas (Jabar), Keris, Ladongi (Sulteng) dan Kuwil (Sultra).

Kemudian ditahun 2017 nanti, diperkirakan ada beberapa waduk yang juga rampung pengerjaannya, yaitu waduk Gondang dan Logung di Jawa Tengah dan Teritip di Kalimantan Timur.

Seperti diketahui dari 65 waduk yang dikerjakan, sebanyak 49 diantaranya baru dibangun pada periode 2014-2019. Dari jumlah tersebut telah dimulai di tahun 2015 sebanyak 13 waduk yaitu Keureto (Aceh), Seigong (Kepulauan Riau), Karian (Banten), Logung di (Jawa Tengah), Telaga Waja (Bali), Tapin (Kalimantan Selatan), Passeloreng (Sulawesi Selatan), Lolak (Sulawesi Utara), Raknamo dan Rotiklod (NTT), Tanju, Mila dan Bintang Bano (NTB).

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga