Industri Boiler Dalam Mega Proyek 35.000 MV

Senin, 7 Desember 2015

Boiler merupakan salah satu pernagkat yang dipakai untuk proyek-proyek kelistrikan berbasis tenaga uap.

Boiler atau ketel uap adalah suatu bejana / wadah yang didalamnya berisi air atau flurida lain untuk di panaskan. energi panas flurida tersebut selanjutnya digunakan untuk berbagai macam keperluan, seperti untuk turbin uap, pemanas ruangan, dan lain sebagainya. Secara proses konversi energi, boiler memiliki fungsi untuk mengkonversi energi kimia di dalam bahan bakar menjadi energi panas yang tertransfer ke flurida kerja.

Boiler sendiri memiliki beberapa jenis :

1. “Pot Boiler” atau “Haycock Boiler

Merupakan boiler dengan desain paling sederhana dalam sejarah. Mulai diperkenalkan pada abad ke 18, dengan menggunakan volume air besar tapi hanya bisa memproduksi pada tekanan rendah. Boiler ini menggunakan bahan bakar kayu dan batubara. Boiler jenis ini tidak bertahan lama penggunaannya karena efisiensinya yang sangat rendah.

2. Fire-Tube Boiler (Boiler Pipa-Api)

Pada perkembangan selanjutnya muncul desain bari boiler yakni boiler pipa-api. Boiler ini terdapat 2 bagian di dalamnya, yaitu sisi tube/pipa dan sisi barrel/tong. Pada sisi barrel berisi fluida/air, sedangkan sisi pipa merupakan tempat terjadinya pembakaran. Boiler pipa-api biasanya memiliki kecepatan produksi uap air yang rendah, tetapi memiliki cadangan uap air yang lebih besar.

3. Water-Tube Boiler (Boiler Pipa-Air)

Sama seperti boiler pipa-api, boiler pipa-air juga terdiri atas bagian pipa dan barrel. Tetapi sisi pipa diisi oleh air sedangkan sisi barrel menjadi tempat terjadinya proses pembakaran. Boiler jenis ini memiliki kecepatan yang tinggi dalam memproduksi uap air, tetapi tidak banyak memiliki cadangan uap air di dalamnya.

4. Kombinasi Boiler Pipa-Api dengan Pipa-Air Firebox

Boiler jenis ini merupakan kombinasi antara boiler pipa-api dengan pipa-air. Sebuah firebox didalamnya terdapat pipa-pipa berisi air, uap air yang dihasilkan mengalir ke dalan barrel dengan pipa-api didalamnya. Boiler jenis ini diaplikasikan pada beberapa kereta uap, namun tidak terlalu populer dipergunakan.

Dalam proyek ini, terdapat 10 perusahaan boiler antara lain, Basuki Weltes, BBI, Alsthom dan lainnya. Pabrikan boiler dalam negeri memiliki pengalaman memproduksi boiler sampai dengan kapasitas setara 30 MW. Sebagian sudah memiliki kemampuan inhouse engineering.

Salah satu perusahaan yang sudah menyiapkan diri dalam proyek ini adalah Industri komponen dan pembangkit listrik PT Zug Industry Indonesia berencana menambah produksi komponen boiler atawa ketel uap, untuk memasok kontraktor pembangkit listrik berkapasitas 600 megawatt (MW) dan 1.000 MW.

Terlepas dari kesiapan itui semua, para pelaku industri boiler melalui Indonesia Turbin Boiler Assosiation (IBTA) minta pelaku asing gandeng mitra lokal. Dimana IBTA berharap pemerintah menerapkan kebijakan bagi industri boiler asing yang akan berinvestasi di Tanah Air, menggandeng pelaku industri lokal.

EPC Division Head IBTA Alex Dharma Belen mengatakan pemerintah telah mengatur skema kerja perlindungan bagi bidang engineering, procurement, and construction (EPC) dengan langkah kerja sama antara pebisnis asing dengan lokal untuk dapat ikut tender di Indonesia.

‘‘’Kami berharap hal ini juga diterapkan dalam industri boiler. Salah satunya mungkin dalam konteks TKDN barang dan material harus ada keberpihakan karena pabrikan boiler asing tidak mungkin semua dapat dilakukan di Indonesia,” ujarnya melalui keterangan resmi.

Alex menjelaskan tantangan engineering lokal dalam pengembangan industri boiler terletak pada persoalan lisensi.  Lisensi teknologi itu sebenarnya dapat diambil oleh pabrikan turbin atau boiler yang ada di Indonesia.

Hanya saja, tantangan lainnya terkait besaran nilai investasi dan permintaan pasar. “Mereka berharap kalau bangun investasi akan kembali. Satu sisi tentunya perlu dibantu dari pendanaan dengan bunga murah supaya nilai keekonomian akan lebih kompetitif,” jelasnya.

Menurutnya, sejumlah perusahaan lokal telah bekerja sama dengan beberapa pabrikan asing guna membantu mengembangkan industri boiler di Indonesia.

Upaya itu tentu saja harus tetap diikuti dengan kualitas produk, daya saing harga yang kompetitif, dan kemampuan produksi. “Tantangannya itu investasi, karena kalau terlambat akan bermasalah jadinya,” kata Alex.

Melalui langkah peningkatan investor lokal tersebut, Alex berharap kemampuan dan kemandirian industri dalam negeri mampu mendukung proyek kelistrikan nasional, terutama yang berbasis pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Boiler sendiri memiliki kapasitas sebesar 30% dalam pembangunan pembangkit listrik ini.