Komponen Dalam Negeri Dalam Proyek Kelistrikan Nasional

Senin, 7 Desember 2015

Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kemenperin Teddy C. Sianturi mengatakan selama ini sejumlah proyek pembangkit listrik (powerplant), banyak menggunakan peralatan dan komponen dari China.

“Kami berkomitmen untuk meningkatkan konten lokal dan tantangannya, kami harus bisa meyakinkan pemilik proyek untuk turut menggunakan produk buatan dalam negeri,” tuturnya. Teddy Sianturi yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Industri Boiler dan Turbin Indonesia (Indonesia Boiler and Turbine Association/IBTA) menjelaskan penggunaan komponen lokal akan mendatangkan peluang bagi industri di dalam negeri.

Kementerian Perindustrian akan menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk menyusun standar teknologi penerapan konten lokal. “Memang bukan pekerjaan mudah untuk mensinkronkan peralatan powerplant dengan komponen lokal, ini agak sulit. Tapi harus dimulai dari sekarang dan semua bisa diatasi, sehingga kemandirian industri ketenagalistrikan Indonesia harus terus kita usahakan bersama dalam rangka menciptakan ketahanan nasional di bidang energi,” tambahnya.

Salah satu proyek yang didorong untuk menggunakan komponen lokal adalah pembangunan powerplant berkapasitas 8,5 MW di Timika, Papua. Proyek yang tengah dikerjakan perusahaan asal Jerman, PT Siemens Indonesia, sudah mencapai tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebanyak 27%. Padahal pada 2014 belum ada kandungan lokalnya sama sekali.

Tak hanya itu, BPPT juga sedang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) skala kecil 3 Mega Watt yang diusahakan semaksimal mungkin menggunakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Mengapa TKDN perlu dilakukan? Karena Indonesia harus bisa membuat komponen kelistrikan seperti trafo, turbin, boiler dan lainnya secara mandiri dan tidak beli dari luar negeri.

Kepala BPPT  Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc mengatakan, "Untuk membangun pembangkit skala besar 10.000 Mega Watt membutuhkan dana sekitar Rp 100 triliun. Dan, kalau semua komponennya kita impor artinya banyak uang dari Indonesia yang dikeluarkan hanya untuk membeli komponen. Kedepannya, saya berharap industri-industri dalam negeri yang bergerak dibidang komponen kelistrikan mendapat perlakuan khusus dari pemerintah. Kalau pemerintah membiarkan industri dalam negeri bersaing bebas, tentu Indonesia akan kalah dan hanya jadi pasarnya negara lain. Kita tidak ingin itu," tegasnya.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga