Kapasitas Industri Galvanis Nasional Sanggup Penuhi Kebutuhan Tower Transmisi

Senin, 16 November 2015

Industri galvanis tergolong industri pabrikasi yang perannya cukup penting dalam proyek pembangunan transmisi 46.000 kms. Posisi pasarnya pada proses galvanisasi tower-tower transmisi yang nanti akan dibangun.


Galvanisasi penting untuk menghindari korosi pada tower akibat panas dan hujan, sehingga umur tower lebih tahan lama. Terkait kesiapan industri ini, Ketua Umum Asosiasi Galvanis Indonesia (AGI), Suwirja, mengungkapkan, industri galvanis nasional sangat siap mendukung program pembangunan transmisi 46.000 kms.


“Momen seperti ini sudah ditunggu-tunggu oleh kami, sebab efeknya sangat positif bagi industri galvanis dikarenakan sesuai permintaan dari PLN sebesar 500 ribu ton per tahun saja, sudah hampir 60% dari total kapasitas kami. Ditambah dengan permintaan infrastruktur seperti ini, jadi kami sudah menunggu sejak lama,” katanya.


Selama ini permintaan industri galvanis khusus untuk keperluan infrastruktur memang didominasi BUMN seperti PLN. Sisanya untuk sektor industri lain misalnya permesinan, kontruksi bangunan dan lain sebagainya.


Menurut Suwirja, Agustus silam AGI sudah melakukan konsolidasi internal. Konsolidasi untuk memetakan ulang kapasitas produksi AGI apakah sanggup memenuhi permintaan 2,5 juta ton galvanisasi tower transmisi.


“Secara organisasi, kami menyatakan mendukung dan siap. Kapasitas produksi kami 900 ribu ton per tahun. Dari angka itu, seharusnya tidak ada kendala dalam kapasitas produksi,” imbuhnya.


Hitungan diatas kertas, dengan kapasitas 900 ribu ton pertahun, maka kebutuhan galvanisasi proyek itu dapat dipenuhi dalam tempo 3 tahun. Itu jika seluruh utilitas produksi diarahkan untuk menyokong proyek pembangunan transmisi 46.000 kms.


Namun angka realistis  yang mungkin dicapai adalah 500 ribu ton per tahun atau sesuai permintaan rata-rata PLN. Sebab 400 ribu ton sisanya tetap dibutuhkan demi menutupi permintaan sektor industri lain. Itu artinya, industri galvanis nasional mampu menutup kebutuhan   proyek pembangunan transmisi 46.000 kms dalam jangka 5 tahun.


Suwirja berharap proyek ini dapat segera terealisasi karena dapat mendorong pertumbuhan industri galvanis nasional dan indsutri lainnya. “Bukan hanya galvanis, ada efek domino yang positif kepada industri lain jika program ini dilaksanakan. Permintaan baja pasti meningkat, permintaan alat listrik juga akan meningkat, pabrikan tower, dan masih banyak lagi,” tuturnya.


Haris Handraka dari PT Galvindo Ampuh mengungkapkan, seluruh stakeholder harus punya berkomitmen yang sama dengan memprioritaskan produk dalam negeri dalam pelaksanaan proyek ini. “Selama industri dalam negeri masih sanggup mengerjakan, tidak perlu impor. Selain bisa menumbuhkan industri dalam negeri, devisa juga hemat,” katanya.

 

 

 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga