Pabrikan Tower Dalam Negeri Mendukung Proyek Transmisi 46.000 Km

Senin, 16 November 2015

Asosiasi Pabrikan Tower Indonesia (Aspatindo) menegaskan dukungan penuh terhadap proyek transmisi 46 ribu km untuk dalam rangka memenuhi kebutuhan jaringan transmisi pembangkit listrik 35 ribu MW.


“Kami sangat mendukung program ini. Ini kan program untuk kepentingan nasional diantaranya untuk meningkatkan rasio elektrifikasi serta memenuhi kebutuhan listrik industri yang setiap tahun meningkat, jadi Aspatindo menyatakan siap mendukung penuh,” papar Ketua Umum Aspatindo, S. Hapsari, kepada Tabloid Steel Indonesia di Kantornya, Oktober silam.


Menurutnya, secara teknis proyek akan mendorong pertumbuhan industri yang terkait, sebab di dalamnya melibatkan industri kabel transmisi,  tower, besi baja, aksesoris listrik, dan juga kontraktor.


Khusus untuk pertumbuhan permintaan terhadap industri pabrikan tower, menurut Hapsari, dampaknya akan sangat signifikan. Sebab, kata  Hapsari, saat ini anggota Aspatindo yang terdiri 16 perusahaan, memiliki total kapasitas gabungan sebesar 470 ribu ton per tahun.  Sedangkan kebutuhan besi tower untuk proyek transmisi ini mencapai 2,5 juta ton selama lima tahun, atau 500 ribu ton per tahun.


 “Jadi efek pertumbuhan produksinya menurut saya bisa 100%, karena dengan proyek ini produksi pasti meningkat drastis,” jelas Hapsari.


Kapasitas 470 ribu ton tersebut bahkan jika dihitung dari jumlah, masih kurang sekitar 30 ribu ton, tapi Hapsari yakin anggota Aspatindo bisa menggenjot produksinya hingga menutupi kebutuhan.


Peningkatan produksi hingga 100% bisa terjadi lantaran kapasitas produksi selama ini adalah kapasitas standar di luar kebutuhan untuk pembangunan tower transmisi. Jadi dengan kata lain, akan ada peningkatan permintaan mencapai 100% untuk memenuhi kebutuhan tower transmisi tersebut.


“Selama ini (470 ribu ton, red) untuk menutupi kebutuhan rutin, jadi jika proyek transmisi ini berjalan, maka aka nada permintaan baru sebesar 500 ribu ton, inilah yang saya sebut ada pertumbuhan permintaan hingga 100%” jelas Hapsari.


Lantas apakah anggota Aspatindo siap menghadapi tantangan permintaan sedemikian besar tersebut? Hapsari menjawab diplomatis, “Jika industri dalam negeri diberi kesempatan, kami yakin mampu,” katanya.

 

Terkait langkah pemerintah yang memberikan keleluasaan bagi PLN untuk bekerjasama dengan pabrikan tower dalam pengadaan tower transmisi, Hapsari memberikan apresiasi. “Langkah seperti ini memang perlu dilakukan agar terjadi percepatan pembangunan,”katanya.


Gairahkan Industri Pabrikan Tower

Sementara bagi pelaku industri, seperti PT Armindo Caturprima, proyek transmisi ini cukup memberikan dorongan bagi pelaku industri untuk bergairah kembali di tengah lesunya permintaan akibat pelambatan ekonomi.


“Permintaan tower untuk transmisi, memang sudah lama diharapkan oleh pelaku industri. Kami yakin jika proyek ini terlaksana, akan menggairahkan industri pabrikan tower sebagaimana pernah terjadi dalam proyek Fast Track Program pada pemerintahannya sebelumnya,” papar General Manager Marketing PT Armindo Caturprima Leli Zuhratin.


Memang, usai program itu, permintaan tower listrik sedikit menurun. Sehingga jika proyek transmisi 46 ribu ini berjalan, industri ini akan kembali bergairah.


Untuk diketahui, sebelumnya pemerintah telah menggelar poryek listrik bertajuk Fast Track Program (FTP) I dan II dengan kapasitas 10 ribu MW. Program tersebut agak tersendat, sehingga dari target 10 ribu MW baru terealisasi 7 ribu MW.


Dalam proyek itu, kebutuhan transmisi tower diperkirakan mencapai 1 juta ton material tower. Saat itu, hampir seluruh kontrak pembangunan tower transmisi diserahkan kepada industri dalam negeri.


Proyek 35 ribu MW sendiri sebenarnya kelanjutan dari proyek FTP I dan II. Dari total yang ingin dibangun, maka tinggal sekitar 28 ribu MW lagi atau dikurangi dari 7 ribu MW yang telah dibangun pada FTP I dan FTP II. “kalau sebelumnya kita sanggup, maka tidka ada alasan bagi kita pelaku indsutri untuk menyatakan tidak sanggup,” kata Leli optimis.

 

Teknologi Mesin CNC

Kesiapan anggota Aspatindo bukan isapan jempol belaka. Pasalnya, dari segi teknis, seluruh anggota Aspatindo saat ini telah menggunakan teknologi CNC (Computer Numerical Control). Ini merupakan merupakan sistem otomatisasi dalam pembuatan manufaktur modern.


Mesin ini diciptakan pertama kali pada tahun 40-an dan 50-an dan telah mengalami revolusi untuk memenuhi semua kebutuhan manufaktur dalam memproduksi suatu produk konstruksi atau alat permesinan.


Dengan mesin CNC, ketelitian suatu produk dapat dijamin hingga 1/100 mm lebih, pengerjaan produk masal dengan hasil yang sama persis dan waktu permesinan yang cepat. Mesin CNC ini memungkin indsutri pabrikan tower nasional memproduksi tower secara massal, cepat, dan berakurasi tinggi.

 

 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga