Industri Baja Dalam Negeri Jamin Pasokan Bahan Baku Tower Transmisi

Senin, 16 November 2015

Saat ini kondisi industri baja nasional mengalami pelambatan. Bahkan industri baja nasional diprediksi akan tetap lesu hingga akhir tahun ini. Tren penurunan permintaan lazim terjadi di saat situasi ekonomi dunia yang juga sedang lesu.


Namun proyek transmisi 46 ribu km diyakini mampu membawa gairah baru bagi industri ini. Pasalnya proyek ini membutuhkan ribuan set tower transmisi. Tower ini tentu membutuhkan bahan baku besi baja yang tidak sedikit. Dari hitung-hitungan kasar, setidaknya butuh 2,5 juta ton baja.


Data Kementerian Perindustrian menyebutkan, komposisi keperluan besi baja untuk tower adalah besi profil siku L (86%dari berat tower), besi profil pelat (10%), dan baut (4%). Tower tersebut akan mendukung tiga jaringan transmisi yaitu transmisi 150 kv, 275 kv, dan 500 kv.


Direktur Eksekutif IISIA Hidajat Trisaputro mengatakan, para pelaku industri baja nasional berharap permintaan meningkat menjelang akhir tahun atau di kuartal ketiga dan keempat. “Itu lantaran alokasi dana proyek-proyek yang dibiayai APBN sudah mulai cair,” katanya.


Selain soal itu, proyek transmisi 46.000 kms diharapkan menjadi salah satu pemicu mulai bergairahnya industri baja nasional. Untuk pengadaan besi baja keperluan tower transmisi diperkirakan membutuhkan baja sebanyak 2,5 juta ton.


Angka ini diyakini dapat dipenuhi oleh industri besi baja nasional dalam jangka waktu lima tahun sebagaimana proyek ini berlangsung. Menurut Hidayat, kebutuhan 2,5 juta ton tersebut tentu saja memberikan efek positif terhadap permintaan besi baja nasional. “Permintaan pasti meningkat, saya berharap pemerintah benar-benar menerapkan kebijakan TKDN (tingkat kandungan dalam negeri), sehingga seluruh produk baja untuk tower transmisi diambil dari produk nasional,” katanya.

 

Hidajat mengatakan, pada dasarnya industri dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan besi dan baja dalam melaksanakan program pembangunan infrastruktur yang tengah berlangsung, meskipun impor masih dibutuhkan.


Namun sekali lagi yang terpenting adalah menyerap semaksimal mungkin produksi dalam negeri, dan apabila masih ada kebutuhan, IISIA mempersilahkan untuk impor. "Kami siap. Kapasitas kami sekarang 9 juta ton per tahun. Jika ada permintaan produk untuk keperluan jaringan transmisi, kami rasa produsen baja nasional siap menggenjot produksinya,” katanya.


Permintaan besi siku, plat, atau baut dan mur untuk keperluan tower transmisi diyakini dapat memicu pabrik-pabrik baja yang selama ini meninggalkan produk siku lantaran sepi permintaan, mulai memproduksi kembali.


Misalnya PT Growth Sumatera Industry, pabrik baja berbasis di Sumatera Utara ini siap memproduksi kembali besi siku setelah cukup lama mati suri. “Jika ada permintaan besi siku untuk keperluan tower transmisi, kami siap memproduksi,” ujar Operational Manager Andreas Tarigan kepada Steel Indonesia beberapa waktu lalu.


Kapasitas produk siku PT Growth Sumatera Industry mencapai 200 ribu ton per tahun. Namun saat ini utilitas produk siku menurun hingga 50%. Andreas berharap proyek transmisi ini akan mendorong kembali utilitas produk siku perusahaannya hingga ke level maksimal sehingga bisa menumbuhkan angka penjualan.


Saat ini produsen besi siku dan plat yang tergolong besar kapasitasnya adalah PT Krakatau Steel dan PT Gunung Garuda. Dua pabrik baja ini menguasai hampir 60% pasar besi baja siku dan plat.


Secara total, PT Gunung Garuda mampu memproduksi 1,2 juta ton plat baja per tahun dan siku 800 ribu ton per tahun. Saat ini utilitas pabrik baja tersebut masih 60% lantaran lesunya permintaan. Namun jika proyek pembangunan blast furnace selesai pada 2016, perusahaan ini mampu mencetak tambahan angka produksi hingga 2 juta ton.


Sedangkan PT Krakatau Steel dan Krakatau Posco secara total mampu memproduksi 2,5 juta ton per tahun dengan kapasitas penuh sebesar 3 juta ton. Perusahaan plat merah ini juga sedang membangun blast furnace dengan kapasitas 1,2 juta ton per tahun, sehingga kapasitas total menjadi berkisar 4,2 juta ton per tahun.


Permintaan Baja Infrastruktur

 

Sebetulnya permintaan baja hingga lima tahun ke depan tetap tinggi diluar permintaan proyek transmisi 46 ribu km. Sektor infrastruktur sesuai data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menjadi sektor yang paling banyak membutuhkan pasokan baja konstruksi.


Kebutuhan baja konstruksi  mencapai 40% dari total material kontruksi yang dibutuhkan dalam proyek infrastruktur sepanjang tahun 2015. Angka ini mengalahkan kebutuhan semen 25% dan alat berat sebesar 30%. Baja konstruksi hanya kalah dari kebutuhan aspal sebesar 90% dari total kebutuhan material konstruksi.

 

Pasar Baja Lesu

World Steel Association atau Worldsteel merilis Short Range Outlook pada 2015 - 2016 yang memperkirakan permintaan baja dunia 2016 dengan konsumsi 1.523 juta ton alias hanya bertumbuh 0,7% dibandingkan tahun ini.


Dalam rilisnya yang dimuat dalam worldsteel.org, dipantau Minggu (25/10/2015), Ketua Komite Ekonomi Worldsteel Hans Jurgen Kerkhoff mengatakan kondisi yang dialami industri baja akibat siklus akhir pertumbuhan ekonomi yang melesat dari China.


“Perlambatan ekonomi China dengan diikuti oleh melemahnya investasi menjadi pengaruh utama. Perlambatan ekonomi China yang menyebabkan pelemahan aktivitas sektor konstruksi dan manufaktur terjadi di luar perkiraan,” tuturnya.


Permintaan baja China diperkirakan akan menurun 3,5% pada tahun ini dan 2% pada tahun depan. Dia menambahkan hingga tahun depan, dengan keyakinan stabilnya perekonomian China, permintaan bakal terjaga.


Pasar baja Indonesia pada 2015 ditaksir mencapai US$ 5,35 miliar atau Rp 76,5 triliun, turun dari posisi 2014 sebesar US$ 7,88 miliar atau Rp 112,6 triliun (kurs Rp 14.300/US$). Tim duniaindustri.com memperhitungkan nilai pasar baja Indonesia di 2015 dari prediksi volume pasar baja di Indonesia dengan harga rata-rata di dunia.


Volume pasar baja di Indonesia pada 2015 diperkirakan mencapai 15,3 juta ton, naik 7,7% dibanding tahun lalu 14,2 juta ton, menurut data Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), Kementerian Perindustrian, dan PT BNI Securities.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga