Realisasi Investasi Industri Logam Semester II 2015 Meningkat

Senin, 19 Oktober 2015

Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, secara total realisasi investasi pada kuartal-II 2015 naik 8,4%  menjadi Rp 135,1 triliun dari Rp 124,6 triliun pada kuartal-I 2015. Dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 116,2 triliun, realisasi investasi naik 16,3%.


Apabila dirinci, sepanjang kuartal II 2015, realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 42,9 triliun atau naik 12,3%  dari Rp 38,2 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara realisasi penanaman modal asing (PMA) Rp 92,2 triliun atau naik 18,2% dari Rp 78 triliun pada kuartal-II 2014.


Realisasi serta industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik sebesar Rp 3,3 triliun. Realisasi ini berada di peringkat keempat terbesar industri makanan Rp 8 triliun, industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi Rp 7 triliun, listrik, gas dan air Rp 5,4 triliun, perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp 4,3 triliun.


Adapun realisasi PMA kuartal-II berdasarkan sektor terbesar yakni transportasi, gudang dan telekomunikasi US$ 2,2 miliar, pertambangan US$ 1 miliar, konstruksi US$ 600 juta, industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik US$ 600 juta serta industri mineral non logam US$ 500 juta. Atau apabila digabung setara US$ 2,5 miliar (34% total realisasi PMA).


Jika diakumulasi antara realisasi semester I dan semester II, maka sektor industri logam dasar mencatat total realisasi investasi sebesar Rp 4,08 triliun. Selain itu, dari segi pertumbuhan, sektor ini diyakini akan terus mengalami peningkatan.


Pasalnya, di saat bersamaan investasi di sektor kontruksi pada semester II ini tercatat cukup signifikan, yakni US$ 600 juta. Jika dikurs Rp 13 ribu per dollar, maka investasi kontruksi mencapai Rp 780 miliar. Ini tentu angka investasi yang cukup menggiurkan mengingat sektor industri logam memiliki pengaruh langsung terhadap perkembangan dunia konstruksi.


Realisasi investasi kuartal-II tersebut kebayakan tersebar di Jawa sebesar Rp 74,6 triliun atau setara 55,3 persen, sisanya Rp 60,4 triliun tersebar di luar Jawa.


Dibanding periode yang sama tahun lalu, ada peningkatan investasi di luar jawa 28,2 persen dari Rp 47,1 triliun menjadi Rp 60,4 triliun. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, diperkirakan realisasi investasi tersebut menyerap 370.945 tenaga kerja terdiri dari 147.868 tenaga kerja PMDN dan 223.077 tenaga kerja PMA. 


Laporan Semester I 2015

Sebelumnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga melaporkan  bahwa pada semester I 2015 terdapat 157 proyek investasi baja yang sedang melakukan konstruksi, dengan nilai investasi sebesar Rp 6,63 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 8.502 orang.


Hal tersebut merupakan sinyal positif bagi perkembangan industri baja Indonesia ke depan, karena proses konstruksi sebuah proyek investasi memerlukan waktu 2-3 tahun. Berkembangnya industri baja nasional juga diharapkan dapat menyeimbangkan neraca perdagangan di sektor tersebut.


Selama ini sudah ada sinyal baik terkait keseimbangan neraca perdagangan sektor baja, di mana impor baja pada periode Januari-Juni 2015 sebesar USD3,44 miliar, turun 21,04% dibandingkan periode Januari-Juni 2014 sebesar USD4,36 miliar.


Sebaliknya ekspor baja pada periode Januari – Juni 2015 sebesar USD657,7 juta, naik 42,16% dibandingkan periode Januari – Juni 2014 sebesar USD462,6 juta. Impor baja berkontribusi sebesar 5,66% dari total impor nonmigas nasional.


Dari segi  pernyataan minat (public interest), negara yang cukup berminat investasi di sektor industri baja nasional adalah Tiongkok, Jepang, Korea, dan India.  Keempat negara termasuk yang getol menaruh minat investasi baja di Indonesia, meskipun baru Jepang dan Korea saja yang  sudah merealisasikannya.

 

 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga