Berawal dari Tanjung Priok….

Senin, 19 Oktober 2015

Dokumen itu menyebutkan, pada periode Mei 2015, banyak baja impor dari Tiongkok masuk Pelabuhan Tanjung Priok. Di antaranya berjenis U-Channel Alloy, Sheet Pile,  Beam Alloy, Beam, dan HR-Coil. Sedangkan pada Juni 2015 disebutkan, telah masuk HR-Coil dan Beam dengan total berat lebih dari 10 ribu metrik ton di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.


Dokumen ini hanya menyebut periode pengiriman Mei hingga Juni (2 bulan). Padahal, ada keyakinan kuat masuknya produk baja impor di lapangan bisa lebih besar dan masif. Lebih jauh, dokumen ini membuktikan bahwa serbuan baja impor bukan omong kosong. Tapi benar-benar terjadi.


Ada juga laporan yang menyebutkan bahwa praktik di lapangan memang sengaja ‘dikondisikan’ oleh pihak-pihak tertentu sehingga produk impor lolos dari pelabuhan. Kabarnya, ada tindakan manipulasi bea impor supaya harganya bisa lebih murah di pasaran domestik.


Manipulasi dilakukan dengan cara mengubah jenis bea masuk produk impor menjadi lebih rendah. Padahal secara fisik, barang tersebut harus dikenakan bea masuk tinggi. Informasi yang didapat Tabloid Steel Indonesia, hal itu dilakukan melalui jasa broker.

Broker ini memiliki jaringan kuat di pelabuhan. Cara kerja mereka juga rapi. Paling naas, jika barang impor itu ternyata ketahuan petugas intelijen atau Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) Bea Cukai yang sesekali melakukan sidak. Kontainer pun disegel.


Salah satu cara antisipasi adalah mempersering pengecekan barang oleh petugas PFPD. Sayangnya, petugas PFPD tidak melulu hadir saat kapal tiba di pelabuhan. Pengambilan sampel secara acak pun kadang tidak manjur. Baja impor tetap menyerbu.


Data Kementerian Perdagangan mencatat, terjadi lonjakan impor terhadap I section dan H section dari baja paduan lainnya. Selama 2010–2013 terjadi lonjakan volume impor secara absolut dari  20.331 ton menjadi 395.814 ton dengan tren lonjakan sebesar 175%.  Tiongkok menempati urutan pertama sebagai negara eksportir baja Tiongkok sebesar 96,62%, Korea Selatan sebesar 1,56%, dan Singapura 0,96%.


Yang miris, produk-produk impor itu sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Ditambah lagi, harganya hampir pasti lebih murah dibanding produk lokal sehingga industri baja dalam negeri pun kewalahan.


Harga murah salah satunya dipicu kondisi oversupply besi baja Tiongkok. Negeri Tirai Bambu itu cukup masif mengirim produk baja mereka ke sejumlah negara. Bahkan menurut rumor, pelaku industri baja Tiongkok bersedia mengirim barang terlebih dahulu tanpa pembayaran atau dengan uang muka yang murah.


“Kalau ada yang pesan dan kebetulan punya gudang, mereka bahkan berani kirim barang dahulu kemudian distok di gudang milik importir. Soal pembayaran, jika ada transaksi atau saat barang itu laku. Ini demi ‘membuang’ besi baja ke luar negeri,” ujar sumber Tabloid Steel Indonesia.


Praktik manipulasi yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok bukanlah hal baru. Pada pertengahan 2014, Presiden Direktur PT Gunung Raja Paksi, Djamaludin Tanoto  sudah pernah mengungkapnya.


Djamaludin mengatakan, impor baja terjadi lantaran produsen asal Tiongkok melakukan praktik bisnis tidak terpuji dengan mengakali aturan bea masuk yang ditetapkan pemerintah untk baja komersial.


Modusnya, kata beliau, dalam dokumen laporannya diklaim telah mengandung boron, yakni bahan campuran baja untuk meningkatkan kekuatan baja berketebalan tipis. Padahal setelah dicek di laboratorium, kandungan boronnya hanya 0,008%  atau tidak ada bedanya dengan baja komersil lainnya. Praktik ini, menurut Djamaludin, untuk menghindari Bea Masuk Anti Dumping (BMAD).


Selama bertahun-tahun praktik seperti seolah dibiarkan, sebelum akhirnya pemerintah mengambil tegas dengan meningkatkan bea masuk impor baja hingga 26% secara bertahap melalui PMK No. 97/PMK.010/2015 pada Juni silam.


 

Namun kebijakan yang baik itu kini terancam lantaran pemerintah akan menderegulasi kebijakan impor baja yang cenderung malah memperlonggar aturan impor baja yang selama ini sudah ditetapkan.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga