Jembatan Merah Putih Kebanggaan Baru Kota Ambon

Senin, 14 September 2015

Patung Pattimura selama ini dikenal sebagai landmark Kota Ambon. Dan sebentar lagi, landmark Kota Ambon akan bertambah satu dengan dibangunnya Jembatan Merah Putih. Rencananya, Jembatan Merah Putih akan diresmikan Presiden Joko Widodo pada Oktober nanti.


Jembatan Merah Putih membentangi Teluk Dalam Pulau Ambon, yang menghubungkan Kecamatan Sirimau pada sisi utara dan Kecamatan Teluk Ambon pada sisi selatan. Jembatan ini juga menghubungkan dua desa yaitu Desa Pokka dan Desa Galala yang selama ini dipisahkan oleh Teluk Ambon.


Panjang jembatan ini mencapai 1.060 meter dengan ketinggian 38 m, lebar 22,7 m dan tipe jembatan utama adalah cable-stayed sepanjang 300 m. Pembangunan jembatan dibiayai oleh APBN sebesar Rp 416,75 miliar. Tiga kontraktor plat merah ditunjuk pemerintah untuk membangun jembatan ini, yakni PT Wijaya Karya (Persero), PT Pembangunan Perumahan dan WIKA.


Pembangunan Jembatan Merah Putih bertujuan untuk menunjang pengembangan fungsi kawasan di Teluk Ambon sesuai dengan Tata Ruang Kota Ambon dimana Poka-Rumahtiga sebagai kawasan pendidikan dan Durian Patah - Telaga Kodok sebagai kawasan pemukiman.


Selain itu, jembatan ini juga menunjang sistem jaringan jalan yang telah ada khususnya pada Jazirah Leihitu serta mempersingkat jarak dan waktu tempuh kendaraan (mengurangi biaya operasi) menuju Bandar Udara Internasional Pattimura di Laha sebagai pintu keluar ke provinsi lainnya.


Pengembangan kawasan Kecamatan Teluk Ambon diharapkan akan lebih meningkatkan aktivitas sosial perekonomian dan pariwisata dengan tetap mempertahankan dan mengembangkan mata pencaharian masyarakat sekitar (pengayuh Perahu).


Selama ini dengan kondisi topografi yang berbukit-bukit, kecenderungan pengembangan Kota Ambon mengarah ke sebelah Barat, mulai dari kawasan Batu Merah ke arah Galala, Passo dan Poka, yang memiliki kelerengan 0-12%.


Karenanya, pengembangan dilakukan mengikuti jaringan jalan yang menyusuri garis pantai. Apalagi di bagian Teluk Ambon terdapat sejumlah fasilitas penting seperti Universitas Pattimura di Poka dan Bandar Udara Internasional Pattimura di Desa Laha.


Sebelum ada JMP, jarak Bandara Internasional Pattimura ke Kota Ambon yang berkisar 35 km harus ditempuh selama 60 menit dengan kendaraan memutari Teluk Ambon.


Atau menggunakan penyeberangan ferry antara Poka dan Galala dengan waktu tempuh sekitar 20 menit, belum termasuk waktu antri. Tentu ini memakan waktu dan biaya.


Karenanya diperlukan pembangunan ruas jalan dan jembatan penghubung antara Galala – Poka yang melewati Teluk Ambon. Tujuannya, untuk mempersingkat jarak dan waktu tempuh kendaraan sehingga dapat mengurangi biaya operasi kendaraan.


Selain itu, juga untuk menunjang pengembangan fungsi kawasan Poka sebagai kawasan Pendidikan dan menunjang pengembangan fungsi kawasan Laha sebagai Bandar Udara.


Pabrikasi Jembatan Merah Putih dilakukan oleh perusahaan pabrikasi terkemuka di Tanah Air, yakni PT Gunung Steel Construction (GSC). Perusahaan ini merupakan bagian dari Gunung Steel Group, salah satu grup perusahaan produsen baja terbesar di Indonesia.


Bahan baku baja yang untuk pabrikasi jembatan menggunakan baja berkualitas tinggi sesuai standar dan telah melewati uji tarik, uji beban dan uji tegangan yang ketat. Seluruh bagan dan modul baja jembatan tersebut telah dirampungkan oleh PT GSC dan telah dikirim ke Maluku melalui jalur laut.


 

Di lokasi proyek, pembangunan dasar jembatan sudah selesai dilakukan, tinggal melakukan erection atau pemasangan modul jembatan utama. Proses erection diperkirakan memakan waktu sekitar 3 bulan sehingga pada bulan Oktober nanti, Jembatan Merah Putih yang menjadi kebanggaan Kota Ambon akan segera terwujud. Selamat!

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga