“Jangan Lupakan Pabrik Yang Eksisting…”

Senin, 14 September 2015

Demi relaksasi terhadap industri-industri yang mengalami tekanan berat akibat pelambatan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan tax holiday bagi 9 sektor industri pionir.


Relaksasi ini diyakini bisa memberi ruang bernafas bagi dunia investasi yang imbasnya diharapkan menumbuhkan kembali geliat ekonomi. Lalu bagaimana pengaruh tax holiday ini bagi industri baja nasional?


Menurut Executive Director IISIA Hidayat Trisaputro, kebijakan tax holiday merupakan langkah yang baik. “Investasi ini dalam rangka menarik modal luar negeri agar mereka mau membuka pabrik di Indonesia. Itu artinya akan ada penambahan tenaga kerja baru. Di tengah badai PHK seperti ini, langkah ini merupakan langkah yang baik,” kata Hidayat.


Saat ini, menurut laporan World Investment Report 2015 milik United Nations Conference Trade and Development (UNCTAD), investasi asing di Indonesia tumbuh 20%, tertinggi di Asia Tenggara. Indonesia di peringkat 114 dari 189 negara yang disurvei dalam indeks kemudahan berusaha 2015. Posisi ini membaik dibanding tahun sebelumya di peringkat 120. Sedangkan negara tetangga seperti Malaysia di peringkat 18 dan Filipina di peringkat 95.


Kepada Tabloid Steel Indonesia, Hidayat menambahkan, Indonesia masih bisa memperoleh peringkat yang lebih baik dibanding negara tetangga asalkan kemudahan dalam berusaha, misalnya dari segi regulasi dan perijinan dipermudah. “Bayangkan, dengan penduduk mencapai 220 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar yang menarik. Pokoknya, orang mau jual apa saja disini, pasti dibeli,” ujarnya.


Apalagi sudah mafhum diketahui, industri baja merupakan industri yang membutuhkan biaya besar. Mulai dari cost pembelian lahan, peralatan produksi, hingga teknologi yang digunakan. Maka, menarik investasi asing bisa menjadi  salah satu alternatif yang ditempuh.


Nasib Pabrik Eksisting

Namun paralel dengan kebijakan tax holiday ini, Hidayat meminta pemerintah juga turut memperhatikan pabrik-pabrik baja yang sudah eksisting atau pabrik–pabrik lama yang sudah lebih dahulu berdiri.


“Jangan menimbulkan kecemburuan antara pabrik lama dan pabrik baru. Jika pabrik baru diberikan tax holiday sampai 20 tahun misalnya, bagaimana dengan pabrik yang lama? Ini harus dipikirkan juga oleh pemerintah,” imbuh Hidayat.


Hidayat mengatakan jika tax holiday ini benar-benar diberlakukan pada industri logam hilir dimana di sektor itu juga sudah banyak pabrik-pabrik eksisting, tidak menutup kemungkinan pabrik eksisting tersebut meminta perlakuan yang sama.


Hal ini lantaran keseluruhan pemain industri baja tersebut relatif berbisnis di satu ekosistem yang sama walaupun mungkin beda segmentasi. “Pemerintah harus memperhatikan hal ini, pabrik eksisting juga perlu diberikan insentif, entah bagaimana bentuknya, apakah tax allowance, ataukah yang lain, saya kira pemerintah yang lebih tahu,” paparnya.

 

Saat ini industri baja baja memang sedang didera berbagai masalah. Mulai dari sebuan baja impor, kelangkaan bahan baku, hingga kenaikan harga BBM dan tarif listrik.


Sejak Mei 2014, tariff listrik terus naik setiap dua bulan sekali. Kenaikan ini berujung pada kenaikan harga produk hilir. Produk-produk industri tersebut sangat berdampak langsung pada harga yang akan ditanggung konsumen. Berdasarkan hitungan Apindo akan ada kenaikan harga bahan baku rata-rata 5%-10%, bahkan lebih jauh dari itu akan ada pengurangan produksi.


Kenaikan tarif listrik tersebut dilakukan secara bertahap selama dua bulan sekali sampai Desember 2014. Total kenaikan tarif untuk golongan I-3 mencapai 38,9% dan untuk I-4 adalah 64,7%.


Golongan I-3 merupakan industri menengah yang memiliki tegangan menengah dengan daya di atas 200 kVA. Golongan I-4 merupkan industri besar dengan tegangan tinggi dengan daya 30.000 kVA ke atas. Sedangkan industri besar dengan daya maksimal 30.000 kVa ke atas, tarifnya naik menjadi Rp 1.063,80 per kWh, dari bulan sebelumnya Rp 991,60 per kWh, atau naik Rp 72,2 per kWh.


BOX :

Perbedaan Tax Holiday dan Tax Allowance

Untuk merangsang pertumbuhan suatu industri, suatau negara biasanya memberlakukan insentif pajak. Ada beberapa jenis insentif yang umum dikenal, diantaranya Tax Holiday dan Tax Allowance. Kedua insentif ini masuk dalam ranah perpajakan. Lalu apa perbedaan kedua insentif dari segi fasilitasnya?


Tax Holiday  : Pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) Badan yang diberikan dalam jangka waktu paling lama 10 tahun pajak dan paling singkat 5 tahun pajak terhitung sejak tahun dimulainya produksi komersial. Setelah masa pembebasan pajak berakhir, Wajib Pajak diberikan keringanan pajak penghasilan badan sebesar 50% dari pajak terutang selama 2 tahun pajak.


 

Tax Allowance : Pengurangan penghasilan netto paling tinggi sebesar 30% dari jumlah penanaman modal yang dilakukan. Kemudian penyusutan dan amortisasi yang dipercepat, diberikan kompensasi kerugian yang lebih lama tapi tidak lebih dari 10 tahun, serta pengenaan pajak penghasilan pasal 26 sebesar 10%, kecuali apabila tarif menurut perjanjian perpajakan yang berlaku menetapkan lebih rendah.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga