Ini Dia Pemain Baja Baru di Indonesia

Senin, 14 September 2015

Tahun 2015 industri baja nasional semakin semarak dengan kedatangan pemain baru dari luar negeri.  Menurut laporan BKPM sampai semester I tahun 2015,  terdapat 157 proyek investasi baja yang sedang melakukan konstruksi, dengan nilai investasi sebesar Rp6,63 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 8.502 orang

 

BKPM juga melaporkan, neraca perdagangan sektor baja mengalami perbaikan, di mana impor baja pada periode Januari-Juni 2015 sebesar US$ 3,44 miliar atau turun 21,04% dibandingkan periode Januari-Juni 2014 sebesar US$ 4,36 miliar. Sebaliknya, ekspor baja periode Januari–Juni 2015 sebesar USD657,7 juta, naik 42,16% dibandingkan periode Januari-Juni 2014 sebesar USD462,6 juta.


Terkait ke-157 perusahaan yang sedang melakukan pembangunan pabrik, pihak BKPM tidak menyebutkan secara detail. Namun dari pemantauan Tabloid Steel Indonesia, ada lima proyek pembangunan pabrik baja yang dapat dikategorikan cukup besar.

 

Yang pertama adalah pembangunan pabrik baja hasil patungan PT Krakatau Steel dengan Nippon Steel Jepang melalui perusahaan patungan bernama PT Krakatau PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS). Proyek pembangunan yang terletak di Cilegon, Banten, tersebut sampai saat ini masih berlangsung dan ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2017.

 

Saham PT KNSS dikuasai oleh PT Krakatau Steel (KS) dengan saham sekira 20 persen dengan Nippon Steel Sumitomo Metal Corporation (NSSMC) Jepang, pemegang 80 persen saham. Pabrik ini rencananya akan menghasilkan baja lembaran dingin, baja lapis seng, dan baja lapis seng anil dengan grade dan kualitas tinggi, termasuk untuk bodi otomotif dan baja kekuatan tinggi yang umumnya diperoleh secara impor. 

 

Diharapkan kehadiran PT KNSS dapat memberikan efek positif dalam peran sertanya untuk semakin majunya perekonomian Indonesia dari sektor industri otomotif. PT KNSS diperkirakan mulai berproduksi sekitar pertengahan tahun 2017 mendatang dengan kapasitas produksi mencapai 480 ribu metrik ton per tahun.

 

Sebelum dengan investor Jepang, KS juga sudah menjalin kerjasama dengan Posco membangun pabrik baja yang telah beroperasi sejak tahun 2013. Pabrik yang memproduksi plat baja dan slab baja ini bernilai investasi mencapai US$ 6 miliar dengan kapasitas terpasang 3 juta ton per tahun.


Tidak kalah menarik adalah maneuver bisnis yang dilakukan Artha Graha Grup milik pengusaha kondang Tomy Winata. Melalui PT Artha Metal Sinergi (AMS), perusahaan ini menjalin kerjasama dengan perusahaan baja asal Taiwan, China Steel Corp (CSC) Taiwan membangun pabrik baja.


CSC dan Arta Metal Sinergi bekerja sama untuk mendirikan pabrik baja berkapasitas 1 juta ton per tahun dengan nilai investasi US$ 500 juta.Pembangunan pabrik penggilingan baja untuk konstruksi ini akan dimulai pertengahan tahun depan dan merupakan tahap pertama kerja sama kedua perusahaan. Pada tahap kedua, pada periode 2020, kerja sama ini akan bergerak lebih ke hulu dengan kapasitas produksi per tahun sebesar 5 juta ton dan dapat ditingkatkan hingga 10 juta ton.


Selanjutnya ada  PT Resteel Industry Indonesia yang menyatakan siap berproduksi baja pada awal 2015 dengan menargetkan 100.000 matrik ton per tahun. Kedepannya perusahaan ini akan menjalankan 10 mesin yang berkontribusi hingga 1 juta matrik ton per tahun.


Pada awal beroperasinya, pabrik masih akan menjalankan satu mesin dan secara bertahap akan menambah kapasitas produksi lewat penambahan mesin. Hasil produksinya sementara masih dipasok untuk kebutuhan Tiongkok. Namun ke depannya juga dipersiapkan untuk kebutuhan domestik.


PT  Resteel merupakan perusahaan patungan PT Shanxi Haixin and Steel Group dan PT Trinusa Group. Pabrik baja ini sudah dibangun sejak tahun 2014 dan mulai beroperasi pada pertengahan Juli 2015. Produk yang dihasilkan adalah baja khusus (super low carbon nickel titanium special steel). Investasi pembangunan pabrik ini memakan biaya US$ 500 juta dolar.

Menyusul PT Resteel, ada China Minsheng Investment Corp (CMI) yang akan mendirikan pabrik baja di Indonesia sebesar US$ 1,6 miliar. Pembangunan pabrik baja akan dilakukan dua tahap.  Pabrik tahap pertama diharapkan bisa memproduksi baja sebanyak 3 juta ton per tahun.


Pabrik tahap kedua juga dipersiapkan kapasitas produksi 3 juta ton. Total produksi pabrik baja yang akan dipersiapkan CMI mencapai 6 juta ton per tahun. CMI merupakan hasil tindak lanjut perjanjian investasi China di Indonesia yang diteken Maret 2015 lalu.


Walaupun CMI punya target membangun pabrik baja di Indonesia tahun ini, namun CMI belum bisa memastikan kapan pabrik baja itu bisa produksi. Sebab, kata Li, pihaknya masih fokus mencari lokasi proyek.


Selain memiliki pilihan membangun pabrik baja sendiri, CMI juga punya pilihan mengakuisisi perusahaan baja yang sudah ada di Indonesia. Namun sayang, Li tidak menyebutkan secara spesifik, siapa perusahaan baja yang sedang mereka incar.

 

CMI merupakan perusahaan private equity yang didirikan oleh 59 perusahaan swasta asal China. Perusahaan yang bermodalkan US$ 8 miliar ini telah menggandeng lebih dari 20 perusahaan China untuk menjalankan bisnisnya.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga