Asosiasi Aspal Beton Indonesia (AABI)

Rabu, 12 Agustus 2015

Pembangunan prasarana jalan di Indonesia adalah sektor vital, menghubungkan sentra ekonomi ke sentra pemukiman secara efektif sehingga roda perekonomian berjalan lancar. Pemerintah RI mendukung pengembangan pembangunan prasarana jalan sebagai pendukung pembangunan ekonomi Indonesia.

 

Dewasa ini, pembangunan jalan dengan konstruksi Hotmix mengalami peningkatan pesat, hal ini didukung dengan semakin banyaknya perusahaan pengelola Asphalt Mixing Plant (AMP) baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten.

 

Akan tetapi, hingga tahun 1999 atau ketika pembangunan di era orde sedang giat dilakukan, justru  belum ada organisasi berskala nasional yang menghimpun Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pekerjaan jalan, jembatan dan landasan yang terikat pada kesamaan di bidang teknologi ‘Aspal Beton’.

 

Sebelumnya memang sudah ada Asosiasi Pengusaha AMP (ASPAMP), akan tetapi terbatas hanya di Pulau Jawa dan Bali.  Gagasan untuk membentuk wadah perusahaan pengelola AMP dicetuskan oleh Ir. Moch. Chamim (mantan Ketua Aspamp Jawa Timur), yang kemudian mengajukan gagasan tersebut pada Pertemuan Asosiasi Aspal yang ada di Jawa dan Bali pada tanggal 16 Agustus 1999.

 

Ditindaklanjuti dengan pertemuan di Semarang pada tanggal 23 September 1999 dengan Paguyuban AMP Jawa Tengah sebagai penyelenggara, yang menghimpun 12 Utusan Asosiasi. Lahirnya Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) pada tanggal 9 Agustus 1999 memperkuat keinginan untuk segera mewujudkan organisasi aspal beton tersebut.

 

Melalui Munas I di Denpasar pada tanggal 4 Desember 1999 dengan dihadiri oleh 16 utusan Asosiasi dari 16 Propinsi akhirnya disepakati terbentuknya Asosiasi Aspal Beton Indonesia (AABI) sebagai wadah perhimpunannya para pelaksana jasa konstruksi jalan, jembatan dan landasan (DRTT BM/R) yang memiliki AMP.

 

Tujuan AABI adalah menghimpun, membina, mengembangkan kemampuan dan kegiatan serta mendorong kerjasama usaha antar perusahaan yang bergerak di bidang pekerjaan jalan, jembatan dan landasan yang terikat kesamaan teknologi Aspal Beton dan memiliki AMP, dalam kedudukannya sebagai pelaku-pelaku ekonomi nasional agar menjadi sehat dan kuat.

 

Kegiatan

Kegiatan rutin AABI selain memberikan rangsangan terhadap industri peraspalan nasional, juga mencetak tenaga kerja terampil melalui berbagai kegiatan uji sertifikasi. Misalnya Uji Sertifikasi Kompetensi Operator Alat Berat Bidang Asphalt Finisher dan Road Roller.

 

Uji sertifikasi ini penting, sebab tenaga kerja yang bekerja di bidang pengaspalan terutama operator di bidang asphalt finisher dan road roller harus memahami serta menguasai teknik-teknik pengaspalan yang baik.

 

Tidak hanya itu, AABI juga kerap mengadakan pelatihan Operator Asphalt Mixing Plant (AMP) setiap tahun. Sasaran pelatihan ini adalah para pegawai yang bekerja di perusahaan AMP yang menjadi anggota AABI.

 

Target Hapus Impor

Terkait kebutuhan aspal, menurut data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat (PUPR), total kebutuhan aspel di dalam negeri tahun 2013 mencapai 1,3 juta metrik ton. Dari kebutuhan itu, PT Pertamina memasok 650.000 metrik ton aspal, lalu PT Sarana Karya memasok asbuton ada 40.000 metrik ton, angka ini masih di bawah target produksi asbuton 59.000 ton, dan lainnya.  Sisanya berasal dari impor sebanyak 410.000 metrik ton.

 

Saat ini, kebutuhan nasional mengandalkan aspal dari Buton yang ditaksir cadangannya masih tersisa 670 juta metrik ton. Pemerintah sendiri menargetkan bebas impor produk aspal dalam waktu 3 tahun ke depan. Selama ini Indonesia harus mengimpor 50% kebutuhan aspal untuk keperluan pembangunan dan pemeliharaan jalan.

Sumber Berita :
Tabloid Steelindonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga