Keunggulan Material Baja dan Pentingnya Penyusunan Katalog Baja Kontruksi

Rabu, 12 Agustus 2015

Berbicara tentang “konstruksi bangunan” tentu akan merujuk pada kegiatan mewujudkan segala prasarana fisik yang dibutuhkan manusia dalam mempertahankan dan mengembangkan peradabannya.

 

Sesungguhnya ilmu kontruksi telah berkembang sejak ribuan tahun lalu. Sebagai bukti kontruksi buatan manusia yang ikonik adalah Piramida Giza di Mesir yang dibangun 5000 tahun lalu.

 

Indonesia tidak kalah bangga dengan peninggalan kuno abad 9 M, yaitu Borobudur dan Prambanan. Bukti fisik seperti itu tentu dapat dijadikan petunjuk bahwa bangsa Indonesia pernah menjadi bangsa yang maju tingkat peradabannya.

 

Berkaitan dengan hal itu, berbagai bahan material telah banyak diteliti dan digunakan untuk material konstruksi bangunan, mulai yang sederhana, yang tersedia di alam bebas, maupun bahanmaterial khusus buatan pabrik.

 

Namun bahan material yang tidak mungkin dilepaskan dari suatu bangunan kontruksi adalah baja. Hampir dapat dipastikan di setiap bangunan kontruksi terdapat baja, meski dalam skala kecil. Paku misalnya.

 

Bicara lebih jauh, dalam pemilihan material bangunan, ada tiga kriteria dasar yang menjadi acuan. Pertama kekuatan (streghtness), kedua kekakuan (deformation), dan ketiga daktilitas (prilaku runtuh).

 

Kekuatan dikaitkan dengan besarnya tegangan yang mampu dipikul tanpa rusak.  Kemudian deformation terkait dengan  besarnya gaya dalam menghasilkan satu unit deformasi (kekakuan) yang dinginkan. Sedangkan,  daktilitas terkait dengan besarnya deformasi sebelum keruntuhan (failure) terjadi.

 

”Jadi jika dilihat dari faktor kekuatan, kekakuan dan daktilitas, baja lebih unggul dari material lainnya,” ujar Singgih Wasesa, salah satu praktisi dan pengamat industri baja  yang juga aktif sebagai tim penyusun Katalog Baja Kontruksi yang digagas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

 

Dikaitkan efisiensi antara material baja dengan kayu atau bambu, maka baja unggul karena kualitas mutu bahannya yang lebih homogen dan konsisten sehingga lebih handal. Itu tidak mengherankan karena material baja adalah produk industri yang dapat terkontrol baik.

 

Meski tangguh sebagai material kontruksi, baja juga memiliki kelemahan. Kelemahan itu diantaranya, material baja sangat rentan terhadap korosi jika dibiarkan terjadi kontak dengan udara dan air sehingga perlu dicat secara periodik.

 
Kemudian material baja juga dapat mengalami penurunan kekuatan jika kebakaran. Selain itu baja juga merupakan konduktor panas yang baik sehingga dapat menjadi pemicu kebakaran pada komponen lain. Akibatnya, portal dengan kemungkinan kebakaran tinggi perlu diberi pelindung. Ketahanan material baja terhadap api dipersyaratkan dalam Pasal 14 SNI 03-1729-2002.

 

Hal selanjutnya adalah material baja juga memiliki risiko buckling (tekuk). Sebagaimana telah disebutkan bahwa baja mempunyai kekuatan yang tinggi per satuan berat dan jika digunakan sebagai kolom seringkali tidak ekonomis karena banyak material yang perlu digunakan untuk memperkuat kolom terhadap buckling.

 

Dirangkum dalam Katalog

 

Banyaknya material baja untuk kontruksi yang beredar di pasaran, menjadi perhatian seluruh stakeholder, mulai dari pelaku industri, pengguna dan pelaku jasa kontruksi, asosiasi, hingga Kementerian PUPR.

 

“Informasi soal pemakaian baja dalam sruktur kontruksi, masyarakat pasti sudah banyak yang mengetahui. Namun jika bicara mengenai jenis dan ragam baja kontruksi, belum tentu semua paham, karenanya perlu disusun sebuah katalog resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah,” ucap Singgih.

 

Karenanya Kementerian PUPR dan sejumlah asosiasi industri baja akhirnya sepakat menginisiasi terbitnya suatu buku panduan atau katalog yang berisi norma, standar, pedoman dan kriteria (NPSK) yang telah divalidasi oleh Kementerian.

 

Seperti tercantum dalam rencana penyusunan atau table of content, katalog tersebut juga akan memuat spesifikasi atau standar kekuatan, kekakuan, dan daktilitas sebagaimana dipersyaratkan dalam bangunan kontruksi.


“Tentu saja produk-produk yang masuk dalam katalog ini adalah produk-produk yang telah dianggap layak masuk, misalnya sudah SNI wajib,” katanya.

Sumber Berita :
Tabloid Steelindonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga