Tekad Mereka Sekuat Kuali

Rabu, 8 Juli 2015

Oleh pengumpul barang bekas, limbah drum bekas biasanya dijual kembali ke pabrik peleburan besi. Tapi bagi pengrajin kuali, limbah drum bekas  dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kuali (wajan), penggorengan, atau panci.

Di era 80-an, sebelum penggunaan stainless steel marak, bahan baku kuali hampir dipastikan terbuat dari drum bekas. Tak heran, dulu masih banyak pengrajin kuali di Jakarta. Tapi setelah muncul stainless steel, jumlah pengrajin makin susut. Bahkan bisa dikatakan, sudah tidak ada lagi.

Sekarang, perajin kuali umumnya berada di pinggiran kota. Yang terdekat misalnya di daerah Jalan Kayu Manis, Bogor. Selebihnya di luar Jabodetabek, misalnya di Sidoarjo, Sragen, maupun Tegal.

Di Jalan Kayu Manis, Bogor, terdapat puluhan lapak penjual wajan dengan berbagai ukuran. Aneka wajan dijual di sini, mulai dari ukuran terkecil berdiameter 10 cm, hingga paling besar sekitar 1 meter hingga 1,2 m.

Kuali ukuran besar biasanya digunakan untuk rumah makan, sedangkan yang kecil untuk pengguna di rumah. Bagi warga Parung, Bogor, dan sekitarnya, sentra wajan ini sudah kondang. Mereka biasa menyebutnya sebagai pasar wajan.


Proses Pembuatan

Membuat kuali dari bahan baku drum bukan perkara mudah, sebab semua prosesnya dilakukan manual. Benar-benar mengandalkan kekuatan tangan alias otot. Tentu saja dengan sarung tangan sebagai pengaman.

Pertama-tama drum bekas yang berbentuk bulat itu dibelah. Proses pembelahan ini menggunakan kekuatan tangan. Biasanya dilakukan dua orang dimana masing-masing orang memegang ujung drum yang berbeda.

Setelah dibelah, drum  diratakan menjadi seperti selembar lempengan dan dibersihkan dari cat, minyak, oli, atau kotoran lainnya. Proses selanjutnya adalah pembuatan mal atau pola lingkaran di atas lempengan drum tersebut.

Untuk membentuk lingkaran sempurna, digunakan jangkar manual, yakni menggunakan pulpen yang diikat di tengah lingkaran dan diputar keliling sehingga membentuk pola lingkaran. Setiap pola biasanya dilebihkan sekian sentimeter lantaran ditengahnya akan diketok.

Pola lingkaran yang sudah dipotong tersebut kemudian mulai diketok di bagian tengahnya menggunakan godam. Ini adalah proses paling penting dan memakan waktu lama.

Pengetokan awal biasanya langsung dengan keras. Tujuannya untuk membentuk pola cekungan keluar. Pengetokan dilakukan terus menerus hingga pola lingkaran itu muali terlihat cekungan seperti kuali.

Ini tentu makan tenaga. Bagi yang tidak biasa, satu dua pukulan pasti sudah berkeringat. Nah bayangkan saja, pengetokan ini bisa memakan waktu 2-3 hari. Jadi setiap hari, pekerjaan para pengrajin ini nyaris diisi dengan mengetok kuali seharian.

Saat pola cekungan sudah mulai terlihat, maka dilakukan pengetokan halus menggunakan palu yang lebih kecil. Tujuannya, untuk memperhalus cekungan agar benar-benar rata. Setelah itu barulah dipasang kuping atau pegangan kuali.

Pegangan kuali juga terbuat dari drum bekas yang dipotong kecil dan dipilin menjadi tabung kecil seukuran lilin. Pegangan ini kemudian ditekuk menjadi berbentuk seperti kuping lalu dipaku di pinggiran kuali. Proses pun selesai.

Proses pembuatan kuali yang serba manual dan butuh waktu berhari-hari, tentu jauh berbeda dengan proses produksi di pabrik. Semua menggunakan mesin. Tapi para pengrajin ini tidak mau menyerah kalah dengan mesin.

 

Kuali buatan mereka tidak kalah dengan buatan mesin. Selain kuat dan tahan lama, kuali yang terbuat dari drum bekas cenderung tahan bocor. Tak heran, meski keberadaan mereka mulai surut, tapi tidak membuat mereka lenyap sama sekali. Tekad mereka sekuat kuali.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga