Presiden Xi Dorong BUMN Tiongkok Investasi di Indonesia

Rabu, 8 Juli 2015

Bulan Maret lalu Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Tiongkok. Selain bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang, Presiden Joko Widodo juga bertemu dengan ratusan pengusaha Tiongkok. 

Hasilnya, pengusaha Tiongkok berkomitmen mengucurkan investasi senilai US$ 40 miliar (Rp 521,5triliun) yang kemudian dilaksanakan secara nyata melalui penandatanganan MoU antara pengusaha Tiongkok dengan Menteri BUMN Rini Soemarno pada Juni silam di Jakarta.

Yang menarik, tidak semua investasi itu dikucurkan perusahaan swasta Tiongkok. Perusahaan-perusahaan BUMN Tiongkok juga tidak ketinggalan menanamkan investasinya di Indonesia.

Komitmen ini tidak lepas dari ajakan Presiden Xi Jinping ke BUMN-BUMN Tiongkok supaya berinvestasi di Indonesia. Hal itu diungkapkan Indonesia Market Manager China National Building Material (CNBM), Rachel Shao, kepada Tabloid Steel Indonesia saat ditemui di kantor CNBM Indonesia Office, Jakarta.

Presiden Xi Jinping menurut Rachel, sangat menghargai kedatangan rombongan Presiden Joko Widodo. Bagi negara Tiongkok, ini menandakan Indonesia menempatkan Tiongkok sebagai salah satu negara yang penting.

“Tentu Presiden Xi Jinping senang dengan hal itu, makanya ia tidak segan-segan mendorong BUMN-BUMN Tiongkok berinvestasi di Indonesia. Apalagi kultur budaya negara kita hampir sama, jadi ini merupakan hal  yang positif,” tambah Rachel.

Rachel mengatakan, faktor ketertarikan investor Tiongkok berinvestasi di Indonesia adalah karena dalam sepuluh tahun terakhir Indonesia mengalami banyak perubahan. “Situasi ekonomi dan politik Indonesia sekarang lebih stabil. Di sektor pelayanan perizinan dan birokrasi juga sudah mulai membaik. Ini yang membuat para investor tertarik,” katanya.

Sudah banyak memang BUMN-BUMN Tiongkok yang berinvestasi di Indonesia. Misalnya China Power Investment (CPI). BUMN Tiongkok ini menggelontorkan duit 17 miliar US$ atau sekitar Rp 165 triliun untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kalimantan Utara. 

“Tentu Presiden Xi Jinping senang dengan hal itu, makanya ia tidak segan-segan mendorong BUMN-BUMN Tiongkok berinvestasi di Indonesia. Apalagi kultur budaya negara kita hampir sama, jadi ini merupakan hal  yang positif,”

Kemudian ada China Machinery Engineering Corporation (CMEC) yang berminat investasi di Bali dan Nusa Tenggara Timur dan Barat. Komitmen CMEC ini sudah dituangkan dalam MoU meski jumlahnya belum dipublikasikan. 

Ada juga China National Machinery Import & Export Corporation (CMC) yang berkomitmen menjadi investor untuk pembangunan monorel Kota Bandung.  Kemudian China Huadian Corporation juga sudah menanamkan modal dalam proyek Sumsel 8 bersama PT Bukit Asam senilai 2 miliar US$. 

CNBM sendiri menurut Rachel berminat untuk berinvestasi di bidang infrastruktur seperti pelabuhan, jembatan, dan jalan tol. CNBM merupakan BUMN Tiongkok yang bergerak di bidang produksi material bangunan.

“Kami merupakan BUMN di bidang material bangunan nomor 1 di Tiongkok. Jadi konsentrasi kami tentu pada proyek-proyek infrastruktur,” kata Rachel. Sayang Rachel tidak  menjelaskan lebih jauh seperti komitmen investasi CNBM di Indonesia.

Dikatakan Rachel, CNBM berencana membangun komplek pergudangan di Indonesia. Selama di Indonesia, CNBM lebih berperan sebagai perusahaan ekspor-impor sehingga pergudangan dirasakan perlu untuk keperluan inventory.

Untuk investasi,  Rachel mengatakan, CNBM biasanya tidak melakukan pembiayaan lansgung melainkan dengan cara memberikan insentif produk material bangunan yang dipakai dalam suatu proyek dengan termin pembayaran yang berjangka panjang dan ekonomis. 

CNBM merupakan BUMN di sektor produksi material bangunan nomor 1 di Tiongkok dan nomor 2 di dunia. Ada empat lini bisnis CNBM, yaitu Science and Technology, yakni riset dan pengembangan material bangunan.

“Di kantor pusat kami di Beijing, kami memiliki 50 pusat studi dan analisis bahan bangunan. Tugasnya melakukan riset dan penelitian bahan material yang kuat, berbiaya rendah dan ramah lingkungan,” papar Rachel. 

Yang kedua sebagai perusahaan EPC (Engineering, Procurement, Contractor), yang telah melaksanakan sejumlah proyek di dunia. Kemudian lini bisnis Manufacturer yang memproduksi beragam material, bahan bangunan, machinery hingga alat-alat untuk keperluan pertambangan.

Lini bisnis selanjutnya adalah sebagai perusahaan Trading atau perusahaan jual beli. Selama ini di Indonesia, CNBM dikenal sebagai eksportir batubara. “Beberapa tahun lalu kami mengekspor batubara dari Indonesia ke Tiongkok. Batu bara itu untuk kebutuhan pabrik sendiri,” kata Rachel.

Sebagai produsen material bangunan, CNBM memiliki tiga produk unggulan yakni semen, gipsum, dan kaca. Ketiga produk ini termasuk yang cukup besar produksinya setiap tahun.  “Kami mengekspor tiga produk itu ke seluruh dunia,” pungkasnya. 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga