Sintesa Group Targetkan Bangun Pembangkit Listrik 1000 MW

Rabu, 8 Juli 2015

Tahun 2012 Majalah Forbes merilis 50 pebisnis wanita paling berpengaruh se-Asia. Ada empat srikandi bisnis asal Indonesia. Mereka adalah Karen Agustiawan (Dirut Pertamina), Sri Hartati Murdaya (Central Cipta Murdaya), Shinta Widjaja Kamdani (Sintesa Group), dan Wendy Yap (PT Nippon Indosari Corpindo).


Tabloid Steel Indonesia berkesempatan mengulas kiprah Shinta Widjaja Kamdani yang pada Juni lalu menjadi penggagas acara “Indonesia Green Infrastructure Summit 2015” di Jakarta.  Tabloid Steel Indonesia menjadi partner kegiatan yang dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla tersebut.


Shinta Widjaja Kamdani adalah generasi ketiga grup bisnis TIRA (Tiga Raksa) atau putri sulung dari Jhonny Widjaja, seorang pebisnis kawakan yang namanya dapat disejajarkan dengan taipan kesohor seperti Sudono Salim atau William Suryajaya. 


Shinta mulai terjun dalam bisnis keluarga setelah dipanggil pulang usai menyelesaikan studi di Harvard, AS, 18 tahun lalu.  Ia didaulat menjadi  eksekutif puncak (CEO) PT Widjajatunggal Sejahtera. 


Di era generasi ketiga inilah TIRA berubah nama menjadi Sintesa Grup. Saat ini Sintesa memayungi 17 anak perusahaan, dengan empat lini bisnis utama, yaitu consumer goods, industri, properti, dan energi. 


Di sektor properti Sintesa memiliki enam perusahaan properti dengan proyek-proyek  yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Di Jakarta, Sintesa Group adalah pemilik Hotel Peninsula dan Menara Duta. 


Sementara melalui PT Puncak Sintesa Bersama, Sintesa Group juga menguasai lahan bisnis seluas 35.475 meter persegi di Manado  dimana di dalamnya berdiri hotel bintang lima, Hotel Sintesa Peninsula.  

Di sektor energi, Sintesa Group berinvestasi US$ 55 juta untuk pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga gas dan Uap (PLTGU) Muara Enim, Sumsel, berkapasitas 110 MW dengan konsep Combined Cycle Power Plant. 

Combined Cycle Power Plant merupakan  pembangkit  yang mengunakan perpaduan pembangkit gas turbine dan steam turbine, sistemnya bisa dikatakan paling kompleks karena harus mengkombinasikan antara dua proses. Namun lebih efektif dan daya produksinya lebih tinggi. 

Tidak berhenti di Muara Enim,  Sintesa juga berencana membangun pembangkit energi hingga 1.000 MW sampai tahun 2020. “Seperti kita ketahui setiap 100% pertumbuhan GDP menghasilkan pertumbuhan konsumsi energi hingga 200%, karenanya kami ingin membangun 200 MW pembangkit setiap tahun sampai 2020,” kata Shinta. 

Transisi Manajemen 

Di awal Shinta memimpin Sintesa Grup, ia mengaku membutuhkan waktu cukup lama menyusun konsep manajemen yang benar-benar tepat. Maklum Sintesa adalah perusahaan keluarga. Konsepnya pun konsep keluarga. 

Maka diperlukan transisi manajemen, dari awalnya manajemen keluarga menjadi manajemen profesional. Dan lima tahun bagi Shinta diperlukan untuk transisi itu. “Dalam transisi budaya dan sistem yang baru, peralihan tidak mudah. Perlu terobosan tetap menghargai nilai yang ada dulu kemudian terapkan sistem lebih professional,” paparnya. 

“Contohnya key performance indicator (KPI). Dulu ayah saya tidak paham soal ini karena tidak ada yang namanya KPI. Kalau karyawan dapat bonus, mereka mendapat begitu saja tanpa tahu alasannya. Tapi, sekarang semua karyawan harus bekerja berdasarkan KPI,”kata Shinta.

Namun Shinta tidak melupakan nilai-nilai yang ditinggalkan orangtuanya.  Menurut Shinta, Sintesa Group punya konsep konstitusi keluarga (family constitution). Kesepahaman (understanding) antaranggota keluarga ada dalam konstitusi itu. Maka, ada family forum yang terpisah dari perusahaan. 

“Nilai-nilai keluarga yang menjadi jiwa perusahaan ini adalah excellence, empowerment, entrepreneurship, dan empathy. Keempatnya harus dipegang,” kata Shinta.

Sejak berusia 13 tahun, Shinta sudah belajar berbisnis. Untuk mengasah naluri dan talenta bisnisnya, ia juga pernah magang dan bekerja di sejumlah perusahaan multinasional di luar negeri. “Saat pertama kali bekerja di perusahaan keluarga, saya memulainya dari bagian paling bawah,” tuturnya.

Ia memang terobsesi untuk menimba pengalaman sebanyak mungkin. Bukan hanya kesuksesan, tapi juga kegagalan. “Saya ingin menjadi pemimpin yang bermakna, punya arti,” katanya. 

Shinta Widjaja yang dua tahun lalu dinobatkan sebagai 50 Perempuan Pebisnis Paling Berpengaruh di Asia versi majalah Forbes Asia, adalah pengusaha yang mengedepankan suasana nyaman, ramah, dan hangat di kantor. “Bagi saya, di dalam kantor harus tercipta suasana warmth,” ujarnya.

Shinta juga tipe eksekutif yang demokratis. Ia lebih banyak mendengar. “Saya dengar dulu situasinya sebelum mengambil sikap,” ucap satu dari 13 warga Indonesia yang bertemu Presiden AS Barack Obama dalam sesi diskusi dengan para entrepreneur negara berkembang itu.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga