Hinabi Hadapi Tantangan Berat

Kamis, 4 Juni 2015

Sejatinya, pasar alat berat di Tanah Air baru menjelma menjadi sebuah industri pada era 80-an. Era itu dimulai ketika  United Tractors (tahun 1972) ditunjuk sebagai agen tunggal produk Komatsu di Indonesia.

Sepuluh tahun kemudian pemerintah Indonesia memulai program untuk mengembangkan industri alat berat dalam negeri dengan menunjuk Komatsu, Caterpillar dan Mitsubishi sebagai pionir. 

Ketiga perusahaan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi).  Hinabi berdiri pada tahun 1983 atau hanya setahun sejak pemerintah Indonesia resmi mengakui Komatsu, Caterpillar, dan Mitsubishi sebagai partner utama dalam pengembangan industri alat berat.

Hinabi terdiri dari berbagai industri di bidang manufaktur alat berat seperti konstruksi dan pertambangan, konstruksi jalan, peralatan serta komponen dan re-manufacturing.

Misi Hinabi adalah mengembangkan industri alat berat nasional yang didukung oleh industri lokal yang handal dan sumber daya manusia yang handal.

Selain itu bagi para anggotanya, Hinabi juga membuka komunikasi dan pertukaran informasi di antara anggota yang berkaitan dengan jenis masalah yang umum untuk kepentingan masing-masing anggota.

Sedangkan visi Hinabi adalah untuk menjadi mitra strategis untuk lembaga atau organisasi terkait pemerintah dan lainnya dalam mendirikan usaha yang kondusif dan lingkungan industri untuk pengembangan industri alat berat di Indonesia.


Tantangan Hinabi

Sebagai asosiasi yang menaungi produsen alat berat, Hinabi tentu berupaya melindungi kepentingan  industri alat berat yang selama ini mengalami perkembangan fluktuatif. Menurut Ketua Umum Hinabi, Jamaludin, di era sekarang,  Hinabi menghadapi sejumlah tantangan berat.

Tantangan Hinabi ke depan mencakup ketatnya persaingan karena acsess capasity, “Kita punya kapasitas produksi itu besar sekali loh, tapi bagaimana meningkatkan  demand agar kapasitas itu bisa maksimal dari segi utilitas,” kata Jamaludin.

Tantangan berikutnya adalah tidak harmonisnya tarif CBU (Completely Built Up) dan komponen alat berat, “CBU tarifnya nol persen tapi komponen pakai tax, akibatnya harga produk alat berat dalam negeri sering lebih mahal ketimbang produk CBU yang diimpor” tambahnya.

Kemudian pelaku industri alat berat juga menghadapi kenyataan kenaikan biaya energi serta  kenaikan upah tenaga kerja yang siginifikan. “Ini tentu berat bagi industri, jika para pelaku industri tidak kreatif mencari celah, mereka pasti kewalahan,” katanya.

Meski begitu, Hinabi tetap optimis industri alat berat prospektif.  Cerahnya pasar alat berat merupakan keniscayaan sepanjang masih ada bisnis pertambangan dan kontruksi atau infrastruktur.

Karenanya, secara internal, Hinabi terus mengadakan pembenahan melalui kegiatan-kegiatan  dalam meningkatkan kemampuan pelaku industri menjawab tantangan. “Kegiatan Hinabi meliputi pelatihan dan sertifikasi TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri),   seminar, konferensi serta kegiatan lain,” tambahnya.

 

Saat ini anggota Hinabi tercatat 46 perusahaan. Kapasitas produksi secara keseluruhan, anggota Hinabi sanggup memproduksi 10 ribu unit alat berat per tahun. 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga