Persaingan Industri Alat Berat Semakin Ketat

Kamis, 4 Juni 2015

Industri alat berat didominasi oleh tiga merek besar, yakni Komatsu, Caterpillar, Hitachi, selanjutnya ada pula Sumitomo dan Sakai. Kelima merek menguasai lebih dari 60% pasar alat berat nasional.  Dengan komposisi terbesar dikuasai oleh Komatsu dan Caterpillar.

Sebagai perusahaan PMA, mereka tidak melakukan penjualan secara langsung kepada user, melainkan menyerahkan urusan penjualan kepada perusahaan distributor lokal. Komatsu menunjuk United Tractors, Caterpillar menggunakan jasa Trakindo Utama, dan Hitachi menyalurkan produk lewat bendera Hexindo Adiperkasa.

Dari segi penjualan, Komatsu memiliki catatan ciamik. Perusahaan ini pada tahun 2014 mencatat penjualan alat berat sebanyak 3.513 unit, disusul Trakindo yang menjual 2.200 unit. Sedangkan Hitachi sampai bulan Agustus 2014, telah menjual 455 unit alat berat.

Pemain lain yang berada di kisaran penjualan rata-rata antara 500-1.000 unit per tahun antara lain Sumitomo, Sakai, Doosan (Kobexindo), Volvo (Intraco Penta), Volgele, dan merek lainnya.

Anggota Dewan Penasehat Hinabi Pertjojo Dewo mengatakan, secara akumulatif penjualan, Komatsu dan Caterpillar memang menguasai pasar, namun di bisnis alat berat itu banyak produknya sehingg penguasaan pasar relative merata tidak dikuasai melulu oleh satu produsen.

“Produk alat berat itu banyak jenisnya. Secara by product terkadang satu produsen bisa menguasai satu segmen dimana pemain besar justru kalah bermain di sana, tapi memang secara kumulatif, dua pemain besar (Komatsu dan Caterpillar) paling besar pangsa pasarnya,” kata Dewo.

Apa yang diungkapkan Dewo, benar adanya. Misalnya merek Wirtgen yang dikenal menguasai pasar alat berat untuk pembangunan jalan. Alat berat buatan Jerman ini terbukti kemampuannya dalam pembangunan jalan Tol Cikampek-Palimanan yang baru saja selesai.

Secara umum, terdapat banyak jenis alat berat. Namun yang dikenal masyarakat biasanya excavator (backhoe), buldoser, dozer, loder, dan dump truck. Untuk pasar excavator dan buldoser, dua merek bersaing keras, yakni Komatsu dan Caterpillar.

 Sara K. Lubis, Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk., tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya saat di tanya soal kinerja penjualan alat berat di awal tahun ini. Di gadang-gadang mampu menjual 4.000 unit di 2015, ‘Komatsu’ hanya laku 519 unit sepanjang Januari-Februari. Ini merepresentasikan 12,9% dari target yang dicanangkan.

Pada periode yang sama tahun lalu, penjualan alat berat emiten berkode UNTR ini sudah mencapai 877 unit. Ini setara dengan 24,9% dari total realisasi 2014 yang mencapai 3.513 unit. Tidak heran jika pencapaian di kuartal I/2015 ini dianggap belum memenuhi target yang ditentukan sejak awal.

Saat ini tercatat empat perusahaan alat berat yang melantai di bursa. Selain PT United Tractors Tbk., ada juga PT Intraco Penta Tbk., PT Hexindo Adiperkasa Tbk., dan PT Kobexindo Tractors Tbk.

Persaingan produsen alat berat di tahun ini diprediksi akan terkonsentrasi di sektor konstruksi seiring dengan belum membaiknya sektor pertambangan.

Sejumlah analis pasar mengatakan diversifikasi pasar alat berat yang tengah dilakukan sejumlah perusahaan akan mulai terlihat di tahun ini. Sektor pertambangan yang selama ini menjadi tulang punggung akan relatif stagnan, sedangkan pasar sektor konstruksi diperkirakan menjadi mayoritas.

 Meski demikian, tahun 2015 ini masih akan tumbuh tumbuh sekitar 5%-10%. Namun pemain di bisnis ini harus mewaspadai persaingan yang semakin ketat di sektor konstruksi. Menurutnya, kebutuhan alat berat di sektor ini sebenarnya berbeda dengan sektor pertambangan.

 Jika di sektor pertambangan kapasitas angkut alat berat yang dibutuhkan biasanya di atas 100 ton, sedangkan di sektor konstruksi kapasitas yang dibutuhkan hanya 20 ton. Perbedaan jenis alat berat inilah yang harus diperhatikan oleh distributor alat berat.

Sementara itu, sektor lain seperti kehutanan dan perkebunan diperkirakan tidak banyak perubahan. Pasalnya, pertumbuhan sektor agribisnis ini juga diperkirakan tidak terlalu masif.

 

Di sisi lain, tantangan penjualan alat berat tahun ini juga datang dari perubahan pola bisnis perusahaan pembiayaan. Perusahaan yang selama ini menggeluti bisnis pembiayaan alat berat mulai melakukan diversifikasi usaha dengan mengurangi porsi alat berat.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga