Industri Alat Berat Lakukan Shifting Market

Kamis, 4 Juni 2015

itu membuat sejumlah produsen alat berat anggota Asoasiasi Industri Alat Besar Indonesia (Hinabi) melakukan upaya strategis agar mampu bersaing.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan shifting market (perubahan pasar) dari sebelum menyasar pasar pertambangan kini ke pasar kontruksi atau infrastruktur.

“Kontribusi pertambangan bagi indnustri alat berat trennya terus menurun, tahun 2014 kontribusi tinggal 25%. Padahal periode tahun 2012 ke bawah, masih 60%. Karena itu kita Shifting market ke industri kehutanan (forestry),  agribisnis dan konstruksi,” kata Jamaludin, Ketua Umum Hinabi.

Perubahan pasar ini dianggap dapat mendorong pertumbuhan, sebab selain pemerintahan Jokowi-JK sedang gencar mengkampanyekan program pembangunan infrastruktur, pembangunan proyek-proyek infrastruktur pada faktanya memang membutuhkan dukungan indsutri alat berat.

Selama lima tahun ke depan pemerintahan Jokowi-JK memproyeksikan dana Rp 600-Rp 1.000 triliun untuk pembangunan infrastruktur. Ini tentu bukan dana yang sedikit. Jika 10% saja dana itu bisa diserap industri alat berat maka potensi yang bisa disentuh mencapai Rp 60-100 triliun per tahun.

Sebelumnya pemerintah telah mengkonfirmasi bahwa membutuhkan peralatan berat dalam jumlah yang cukup besar guna menyokong pembangunan infrastruktur. Atas dasar itu, Hinabi memperkirakan produksi alat berat di tahun ini akan didominasi eskavator dan bulldozer dengan bobot 10-30 ton.

Jamaludin menyebutkan selain alat-alat konstruksi, penjualan alat-alat berat kehutanan dan perkebunan juga bisa menopang penjualan alat-alat berat pada semester II tahun ini.

 “Penjualan alat berat dari konstruksi, perkebunan, dan kehutanan kita harapkan bisa memberi kontribusi penjualan sebanyak 60%-70% dari total target penjualan di tahun ini,” jelasnya.

Nantinya, alat-alat berat konstruksi akan menggeser kontribusi penjualan alat-alat berat pertambangan yang sebelumnya mendominasi pasar alat berat. Penjualan alat-alat berat hingga akhir tahun ini akan stagnan dan jumlahnya akan sama seperti realisasi di tahun 2014 sebanyak 5.172 unit.

Ia menambahkan kapasitas terpasang alat-alat berat nasional sebanyak 10 ribu unit per tahun. Namun, produksinya hanya mencapai 30% dari jumlah total kapasitas produksi tersebut. “Ke depan, proyek pemerintah bisa menunjang pertumbuhan produksi dan penjualan alat berat nasional,” imbuhnya.

Masih Lambat

Sayangnya hingga akhir semester I tahun ini, peningkatan penggunaan alat berat impor belum sejalan dengan sejumlah proyek infrastruktur. Diperkirakan, tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) industri alat berat nasional diperkirakan hanya mencapai 50% tahun ini dari total kapasitas terpasang sebesar 10.000 unit per tahun.

 

“Banyaknya proyek infrastruktur yang belum berjalan serta maraknya penggunaan alat berat impor menjadi penyebab tidak tercapainya target tersebut,” kata Jamaludin.


Kata Jamaludin, saat ini proyek infrastruktur malah belum berjalan, sehingga memengaruhi permintaan alat berat. “Konsumen pasti akan wait and see. Sebelum membeli unit alat berat, konsumen harus benar-benar pastikan proyek tersebut sudah turun dananya,” paparnya.

 

Padahal, lanjut Jamaludin, sektor konstruksi menjadi andalan penjualan alat berat. Kuartal I lalu, sektor konstruksi menyerap 37% penjualan alat berat nasional, diikuti sektor pertambangan (24%), perkebunan (24%), dan kehutanan (16%).

 

“Kuartal I belum kelihatan proyeknya, dengan alasan anggaran baru cair. Kami harapkan kuartal II pembangunan infastruktur sudah dimulai,” ujarnya. Jamaludin menambahkan, industri alat berat mendapatkan tekanan dari anjloknya harga komoditas yang membuat permintaan lesu.

 

“Apalagi untuk sektor agribisnis, sangat bergantung pada proyek-proyek tertentu. Fluktuasi rupiah terhadap dolar AS semakin memberatkan industri alat berat karena 60% komponen masih diimpor dan membuat harga alat berat dalam negeri kalah bersaing dengan alat berat impor dalam bentuk utuh (CBU) yang lebih murah,” tuturnya.


Berdasarkan data Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi), produksi alat berat nasional pada kuartal I tahun ini tumbuh 11% menjadi 1.298 unit, dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 1.165 unit.

 

Jumlah ini jauh di bawah target Hinabi sebanyak 2.500 unit.  Jika realisasi penjualan kuartal I disetahunkan, produksi alat berat tahun ini sekitar 5.100 unit.

 

 

Kami berharap sampai akhir semester II ini banyak proyek infrastruktur yang akan dilaksanakan, sehingga utilisasi 50% dapat tercapai. Selain itu pelaku industri juga bisa mempertahankan bisnisnya,” tutup Jamaludin.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga