Tertekan, Industri Alat Berat Tetap Tumbuh

Kamis, 4 Juni 2015

Industri alat berat nasional memasuki periode perkembangan ketika pemerintahan orde baru mencanangkan program pembangunan besar-besaran tahun 80-an.

Di masa itu, bermunculan sejumlah perusahaan di bidang alat berat seperti Trakindo, United Tractors, dan Patria. Mereka membawa label produksi antara lain Caterpilar (cat), Komatsu, Hitachi, dan masih  banyak lagi

Sejak itu, industri alat berat nasional terus berkembang dan mengalami fluktuasi. Saat bisnis batubara booming tahun 90-an, industri ini termasuk yang ikut mencicipi manisnya harga batubara.

Dari sisi produksi, jumlah alat berat sampai tahun 1997 mengalami masa keemasan dengan produksi dua alat berat yang paling sering digunakan adalah hidraulic excavator mencapai 1.843 unit dan buldoser 1.214 unit. Ini periode puncak di masa 90-an.

Setelah itu industri alat berat mengalami penurunan drastris seiring resesi ekonomi tahun 1998. Produksi menukik tajam menjadi 538 unit untuk hidraulic excavator dan hanya 82 unit untuk jenis buldoser. Penurunannya mencapai 20 kali lipat.

Selama tiga tahun dari 1998 hingga 2000, total produksi hidraulic excavator dan buldoser hanya 3.001 unit. Bandingkan dengan produksi tahun 1997 yang mencapai 3.415 unit hanya dalam tempo setahun.

Sejak tahun 2000 hingga sepuluh tahun berikutnya produksi alat berat kembali tumbuh, apalagi bisnis batubara kembali cerah. Pada periode ini pertumbuhan industri alat berat terus bergeliat.

Tahun 2010 produksi hidraulic excavator melonjak tajam mencapai 3.115 unit. Kemudian buldoser 1.430 unit sedangkan dump truck 146 unit. Artinya dalam 10 tahun, meningkat 20 kali lipat, atau kembali ke trek pertumbuhan positif.

Persoalan kembali menerpa ketika industri tambang dan batubara lesu sejak 2012. Bisnis alat berat memang bukan bisnis yang dapat menciptakan ceruk pasar sendiri. Bisnis ini murni bergantung pada demand atau ceruk pasar bisnis lain. Dan ceruknya selama ini adalah industri batubara dengan  kontribusi mencapai 80%.

Imbas Lesunya Harga Batubara

Ketika sektor batubara lesu karena penurunan harga, maka industri alat berat pun kena imbasnya. Ikut-ikutan lesu. Harga Batubara Acuan (HBA) Indonesia pada titik serah Freight on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel) April 2015, sebesar US$ 64,48 per metrik ton.

Harga itu turun turun 4,6% ketimbang HBA Maret 2015 yang berada pada level US$ 67,76 per metrik ton. Secara umum, HBA 2015 masih kalah jauh dibanding dengan HAB tahun 2014 yang mencapai rata-rata US$ 72,62. Bahkan pada Februari 2014, HBA pernah menyentuh angka tinggi yakni mencapai US$ 80,44 per metrik ton.

HBA merupakan rata-rata dari empat indeks harga batubara yang umum digunakan di pasar batubara internasional.  Empat indeks tersebut meliputi: Indonesia Coal Index, Platts Index, New Castle Export Index, serta New Castle Global Coal Index.

Akibat harga lesu, perusahaan di sektor barubara pun menahan diri untuk ekspansi.  Mereka lebih fokus menjaga keseimbangan neraca ketimbang membeli membeli atau menyewa alat berat. Dan ketika itu terjadi, maka industri alat berat pun tidak bisa berbuat apa-apa.

Tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) industri alat berat nasional diperkirakan hanya mencapai 50% tahun ini dari total kapasitas terpasang 10 ribu unit per tahun. Hingga kini, permintaan alat berat masih lesu, seiring rontoknya harga komoditas andalan ekspor, yakni minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan batubara.

Selain itu, banjir alat berat bekas impor menekan kinerja industrilokal. Dengan harga jual yang lebih murah, alat berat impor banyak diburu sejumlah pengusaha.

Berdasarkan data Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi), produksi alat berat nasional sepanjang kuartal I-2015 tumbuh 11% menjadi 1.298 unit, dibanding periode sama tahun lalu sebanyak 1.165 unit.

Jumlah ini jauh di bawah target Hinabi sebanyak 2.500 unit. Jika realisasi penjualan kuartal I disetahunkan, produksi alat berat tahun ini sekitar 5.100 unit.

 

Pasar Dunia

Meski pasar alat berat mengalami tekanan. Pertumbuhan industri ini diyakini akan tetap positif. Jika di tahun 2012 total pasar alat berat di seluruh dunia mencapai US$ 71,5 miliar. Pada 2018, diperkirakan naik menjadi US$ 117,0 miliar, alias kenaikan rata-rata 8,5% setahun.


Dalam laporan Transparancy Market Research , pasar Asia Pasifik, termasuk Indonesia, menyumbang lebih dari 60%. Dalam laporan yang dikeluarkan baru-baru  ini di Albany, New York, pasar peralatan tambang terutama digerakkan oleh kegiatan tambang baru di negara berkembang.

 

Proyek raksasa tambang bijih besi di Brazil, Rusia, Australia, dan Afrika, diperkirakan akan menjadi penggerak pasar peralatan tambang. Permintaan dalam jumlah besar juga akan terjadi pada industri kilang minyak, tambang batu bara, tambang bawah tanah di Amerika Latin dan Asia Pasifik.

 

Pasar Asia Pasifik merupakan yang terbesar, sekitar 60% dari pasar pada 2012. Adapun Tiongkok memiliki 50% dari keseluruhan alat berat di dunia. Asia Pasifik diperkirakan menjadi kawasan yang pasarnya tumbuh paling cepat.

 

Para pemain besar memiliki kantor tersebar di seluruh dunia. Terdapat lebih dari 650 perusahaan yang menjadi pemain. Sebanyak 50 pemain utama menguasai 80% pasar industri. Pemain alat berat terbesar di dunia adalah Caterpillar, diikuti oleh Komatsu dan Hitachi.

 

 

 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga