Knalpot Kinclong dari Purbalingga

Senin, 4 Mei 2015

Di sela-sela megahnya pameran otomotif di Jakarta beberapa waktu silam, terselip booth semi permanen yang ditempati oleh beberapa pengrajin knalpot dari Purbalingga. Berbagai jenis knalpot tersedia di sana, mulai knalpotstandar, hingga aneka knalpot racing yang bentuknya menarik dan futuristik.

Knalpot-knalpot ini asli buatan tangan, alias dibuat oleh industri rumahan di Purbalingga. Tapi soal kualitas jangan anggap remeh, dijamin tidak kalah dengan buatan pabrik.

Bahan dasar knalpot ini menggunakan plat stainless, galvanis, atau plat besi.  Namun bahan yang umum dipakai adalah logam dari drum bekas yang kemudian dilakukan proses chorme.

“Knalpot ini kita bikin dengan perlengkapan sederhana, tapi kualitasnya saya jamin tidak kalah dengan yang ada di pasaran,” kata Wihandaya, salah satu pengrajin knalpot.

Di Purbalingga, Wihandaya memiliki usaha knalpot berkapasitas 500 unit per bulan yang dikerjakan oleh 23 orang karyawan. Wihandaya mengklaim bengkelnya bisa membuat knalpot jenis apa saja,

“Mau knalpot standar atau racing seperti knalpot balap, orang Purbalingga bisa bikin,” kata Wihandaya yang juga memasarkan produknya lewat internet itu.

Tapi itu bukan isapan jempol. Knalpot buatan warga Purbalingga memang sudah tersohor. Percaya atau tidak, pabrikan mobil mewah Mercedez Benz pun memesan knalpot buatan Purbalingga untuk jenis mobil-mobil tertentu. Untuk mobil, biasanya yang dipesan adalah ujung knalpot (muffler).

Tahun 2014, sepeda motor Viar di Indonesia PT Triangle Motorindo juga memesan knalpot dari perajin di Purbalingga. Knalpot yang diminta tersebut digunakan untuk sepeda motor roda tiga. Dalam satu bulan, perajin dimintai mengirimkan 2.000 knalpot. Sementara rata-rata produksi sepeda motor Viar roda tiga antara 3.000 – 4.000 unit per bulan.

Sebelumnya pengrajin knalpot Purbalingga juga mendapat pesanan knalpot untuk kendaraan tempur Panser Anoa buatan PT Pindad yang dipesan Malaysia.

Berdasarkan data Pemkab Purbalingga, kapasitas produksi knalpot di Purbalingga mencapai 30 ribu unit perbulan. Jika diasumsikan satu unit knalpot dihargai Rp 100 ribu saja maka omzet industri knalpot di Purbalingga mencapai Rp 3 miliar per bulan atau 36 miliar setahun.

Itu adalah harga rata-rata minimal satu knalpot, padahal ada knalpot yang harganya mencapai Rp 2 juta per unit. Belum lagi ditambah nilai produksi muffler yang tiap bulan mencapai 20 ribu unit.

Selain itu, knalpot buatan pengrajin Purbalingga juga terus mengalami pengembangan. Sekarang ini yang sedang tren knalpot hemat BBM. “Knalpot ini cukup diminati dan setiap bulan kami selalu menerima pesanan,” ujar Wihandaya seraya mengatakan harga jualnya sekitar Rp 300 ribu untuk satu unit knalpot hemat BBM.


Persoalan dan kendala

Sebagai industri yang tumbuh kembangnya tergantung industri otomotif, tidak berarti industri knalpot ini kinclong sempurna. Ada saja goresan di sana-sini yang bisa menjadi hambatan, salah satunya soal pasokan bahan baku.

Saat ini harga drum bekas dan pelat besi serta seluruh bahan yang berkualitas dari besi lapis stainless steel dan galvanis, yang merupakan bahan baku pembuat knalpot, terus melonjak.

Pada Desember lalu, harga drum bekas masih Rp 60.000 sampai Rp 800.000 per buah, tetapi kini melonjak menjadi Rp 100.000 sampai Rp 120.000 per buah. Bahan baku ini biasa didatangkan dari Banten dan Bekasi.

”Banyak logam bekas yang katanya dikumpulkan dan dijual ke luar negeri. Ini membuat pemasok drum bekas kehabisan barang. Kami pun sulit berproduksi,” kata Wihandaya.

Pada kondisi biasa, lanjut wihandaya, dia dan 23 orang karyawannya mampu membuat 400 knalpot per bulan. Namun, dua bulan terakhir mereka hanya membuat 200 knalpot. Padahal, keuntungan sudah ditekan hingga 70 persen.

Meskipun demikian, peluang pasar knalpot produksi perajin logam di Purbalingga dinilai masih prospektif. Ketua Koperasi Perajin Knalpot Braling, Muhadjirin, mengatakan, potensi pasar knalpot masih cukup besar untuk konsumsi domestik.

 

Bahkan, jika kualitas produknya dapat diperbaiki sesuai dengan standar internasional, produk tersebut bisa menembus pasar mancanegara.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga