Pabrik Semen Dibangun Besi Baja Sumringah

Senin, 4 Mei 2015

Kementerian Perindustrian menegaskan masih membuka masuknya investasi baru sektor semen, mengingat kebutuhan semen dalam negeri yang terbilang tinggi karena prioritas pembangunan infrastruktur oleh pemerintah.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan pemerintah belum akan menutup investasi sektor padat karya tersebut, karena kebutuhan semen yang tinggi serta untuk pemerataan industri di luar Jawa.


“Itu masih wacana, kita masih butuh banyak semen untuk pembangunan infrastruktur,” kata Saleh Husin belum lama ini.

Kemenperin memperkirakan kapasitas produksi semen dalam negeri per tahun mencapai 77 juta ton dengan utilisasi di kisaran 70%-80%. Persentase itu setara dengan volume produksi sekitar 59 juta ton per tahun.

Dia menyebutkan kapasitas produksi perusahaan semen nasional masih cukup untuk memenuhi kebutuhan semen saat ini.  Namun, untuk jangka panjang perlu ditingkatkan karena gencarnya pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur, termasuk menambah investasi baru.

Pertumbuhan permintaan semen dalam negeri tahun ini sekitar 7% dengan catatan belanja pemerintah untuk infrastruktur terserap secara optimal. Jika tidak, diperkirakan permintaan hanya tumbuh 3%.

Adapun, menurut data sepanjang 2014, penjualan semen di Indonesia sekitar 60 juta ton dengan kapasitas terpasang 77 juta ton.

Pembangunan Pabrik Semen

Sepanjang tahun 2014-2015, telah atau akan dibangun sejumlah pabrik semen baru di Indonesia. Misalnya, PT Semen Baturaja yang akan segera merealisasikan pembangunan pabrik semen baru dengan kapasitas produksi 1,85 juta ton per tahun senilai Rp 3,2 triliun pada 2015 ini.

Kontraktor proyek pembangunan pabrik semen Baturaja II adalah Tianjin Cemen Industry Design & Research Institute Co Ltd asal Tiongkok. Proyek akan dilakukan secara tahun jamak (multiyears) mulai 2015 hingga triwulan I/2017.


Persaingan bisnis semen juga mulai terasa di Indonesia Timur. Setidaknya dua investor asal Tiongkok (Anhui Conch Cement Company Limited) dan Thailand (Siam Cement Group Plc) berencana membangun pabrik semen di Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada tahun ini.

Bahkan, pabrikan asal Vietnam, Chinfon Cement Corporation, sudah siap memasarkan produk semen baru bermerek Merah Putih. Chinfon saat ini berkolaborasi dengan perusahaan lokal PT Sarana Agra Gemilang. Mereka tertarik berinvestasi bisnis semen di Indonesia Timur karena pertumbuhannya sekitar 6 % (2013–2014).

Kehadiran tiga kompetitor itu menjadi ancaman bagi pabrikan semen lokal, khususnya PT Semen Tonasa, yang selama ini ’’menguasai’’ 42% pasar semen di Indonesia Timur. Semen Tonasa memiliki sejumlah strategi untuk membendung kehadiran serbuan tiga pabrikan semen besar tersebut.

Salah satunya, mendekatkan diri kepada konsumen dengan membangun pabrik pengemasan semen alias packing plant.  Saat ini pabrik Semen Tonasa memiliki kapasitas produksi 5,98 juta ton per tahun. Tahun ini perseroan menargetkan 6,7 juta ton per tahun dan saat pemberlakuan MEA 2015 sekitar 7 juta ton per tahun.

Pembagunan pabrik semen rupanya cukup memberi rangsangan pada penjualan besi secara nasional. Berkaca pada proyek pembangunan Indarung VI milik PT Semen Padang yang butuh 5 ribu ton besi baja, maka dapat dipastikan setiap pembangunan pabrik semen akan membutuhkan ribuan ton besi baja.

Jika rencana pembangunan 4 pabrik semen baru benar-benar dilaksanakan tahun ini, maka jika dihitung kasar, ada potensi pasar 20 ribu ton besi baja yang bisa dipasok oleh pabrik besi.

 

Ini tentu bukan angka kecil, apalagi itu baru hitungan kebutuhan besi baja secara materialnya saja, belum dihitung dengan jasa kontruksi atau struktur. Tentu saja para pelaku industri besi baja harus mencium ini sebagai peluang bisnis. 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga