Kita Harus Mencontoh Pembangunan Borobudur

Senin, 4 Mei 2015

Bisnis kontruksi nasional diyakini terus bertumbuh. Sampai akhir tahun ini, penyerapan pasarnya diperkirakan mencapai Rp 700 triliun. Angka tersebut akan terus meningkat seiring berjalannya beragam proyek infrastruktur pemerintah dalam lima tahun ke depan. 

Potensinya  bahkan akan semakin besar mengingat era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai diberlakukan akhir tahun ini. Pemberlakuan kawasan MEA membuka kesempatan para pelaku bisnis kontruksi nasional untuk menggarap proyek-proyek di kawasan ASEAN.

“Jadi kalau MEA sudah berjalan, itu justru potensi bukan tantangan atau kendala. Para pelaku bisnis kontruksi nasional bisa menggarap proyek di negara-negara tetangga. Ini malah menjadi kesempatan kita untuk bermain di level regional,”ujar Wakil Ketua Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia (IAMPI) Ir. Darma T. Saptodewo, MT, MBA, MPU. 

Namun sebelum menuju kesana, pemegang gelar Master (S2) Teknik Sipil Universitas Indonesia dengan predikat Cumlaude ini mengingatkan, para pelaku bisnis kontruksi nasional harus berbenah.

Pembenahan pertama yang perlu dilakukan adalah perubahan sikap dan mental bisnis para pelaku industri. “Bisnis kontruksi adalah bisnis yang melibatkan banyak pihak dan unsur. Semua harus saling dukung, tidak bisa satu pihak merasa paling besar sendiri, merasa menang sendiri,” kata Darma.

Darma mengingatkan kembali arti harfiah ‘kontraktor’, yang berasal dari kata kontrak. Artinya, satu pekerjaan di’kontrak’kan ke perusahaan lain, perusahaan itu kemudian membuat kontrak dengan kontraktor lain, begitu seterusnya.

“Sebesar apapun perusahaan kontraktor, dia harus ingat tidak bisa semuanya dikerjakan sendirian. Beberapa bagian atau sebagian besar pekerjaan harus dikontrakan ke perusahaan lain. Harus dibagi ke perusahaan lain, jadi ini dapat, itu dapat, semua dapat, semua kebagian, tidak bisa dimakan sendiri,” katanya.

Lantaran itulah, sikap-sikap ingin untung besar sendiri dengan cara menekan biaya produksi serendah mungkin, atau menahan-nahan pembayaran untuk kontraktor kecil harus dihindari.

“Pekerjaan kontruksi itu ukurannya tepat waktu dan tepat kualitas. Jadi bagaimana membuat semuanya berjalan sesuai rencana, itu jauh lebih penting daripada memikirkan bagaimana untung sebesar-besarnya,” ujar pria yang sejak tahun 80-an ikut menggarap proyek Tol Ceker Ayam DR. Sedyatmo (Priok-Cawang) ini.

 

Kekuatan Borobudur

Hal selanjutnya yang patut dibenahi adalah soal kualitas pekerjaan. Pelaku bisnis kontruksi nasional mau tidak mau, bahkan harus, meningkatkan kapasitas dan kemampuan internal agar bisa berbicara di level internasional.

“Semua orang yang terlibat dalam pekerjaan suatu proyek harus bersikap professional, fokus, berorientasi pada hasil yang sempurna, bukan cuma orientasi pada keuntungan semata,” katanya.

Menurut Darma, Indonesia punya perancang-perancang bangunan yang sejak dulu dikenal mumpuni. Ia lalu merujuk Candi Borobudur sebagai hasil sempurna sebuah pekerjaan kontruksi yang pernah dilakukan nenek moyang bangsa ini.

Candi Borobudur dalam kacamata Darma adalah bukti kesungguhan dan keberhasilan ‘kontraktor’ membangun sebuah bangunan dengan detail sempurna, kokoh, kuat, tidak lekang dimakan jaman, dan menjadi perbincangan hingga beratus-ratus kemudian.

Melakukan dan mengerahkan kemampuan terbaik menurut Darma harus ditumbuh-kembangkan. Harus ditempa dalam diri sendiri. Bukan asal jadi atau asal selesai. Jika  mental ini sudah tumbuh, maka kualitas pasti mengikuti.

“Coba buatlah proyek atau bangunan yang semangatnya seperti membangun Borobudur. Indah, berkualitas, kokoh dan kuat hingga ratusan tahun,” kata Darma yang juga anggota Dewan Penasehat LPJK ini.

Dunia kontruksi  Indonesia menurut Darma memiliki segala aspek untuk maju dan berkembang, mulai dari sumber daya alam, SDM yang professional, teknologi tinggi, hingga potensi pasar yang tinggi. Semua tersedia di Indonesia.

 

“Di negeri ini apa yang kurang? Kita semua punya, teknologi punya, sumber daya alam melimpah, yang kurang adalah kesadaran untuk maju bersama. Jangan cuma besar sendiri, kaya sendiri, ayo kita bersinergi. Itu yang penting,” sambung Darma.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga