AKI dan Sejarah Panjang Bisnis Kontruksi Indonesia

Senin, 4 Mei 2015

Sejarah terbentuknya Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) tidak bisa dipisahkan dengan semakin meningkatnya pembangunan proyek-proyek besar di Indonesia mulai tahun 70-an.

Pada masa itu sebagian dana pembangunannya dari pinjaman luar negeri sehingga tendernya diharuskan melalui penawaran internasional (International Competitive Bid) yang tentunya terbuka juga untuk para kontraktor dari luar negeri, dan masuknya modal asing dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA) yaitu dengan diundangkannya UU No.l Tahun 1967.

GAPPENSI pada Kongres pertama yang berlangsung di Tretes Malang tahun 1959 dalam salah satu keputusannya menetapkan perlunya dibentuk wadah kontraktor nasional untuk menghadapi kontraktor asing.

Di lain pihak dirasa perlu Indonesia memiliki suatu organisasi kontraktor besar yang layak untuk menjadi anggota IFAWPCA (International Federation of Asian and Western Pacific Contractors Associations) sehingga kontraktor Indonesia dapat berkiprah di forum internasional.  Meski saat itu sudah berdiri GAPPENSI, namun disadari GAPPENSI ini masih belum sanggup untuk menjadi anggota IFAWPCA. 

Berdasarkan hal tersebut maka Menteri PUTL mengambil kebijaksanaan agar untuk sementara Dewan Direksi Perusahaan Bangunan Negara (DD-PBN) saja dulu yang untuk sementara mewakili Indonesia di IFAWPCA mengingat Indonesia termasuk pendiri IFAWPCA karena pada waktu pembentukannya di Manila bulan Maret 1958 Indonesia diundang dan Menteri PUTL menugaskan pejabat Departemen PUTL yaitu Ir.R.Pramudji untuk hadir mewakili Indonesia.

Selain itu Executive Board IFAWPCA pada konvensi IFAWPCA ke-10 di Bangkok tahun 1970 juga mengharap agar para kontraktor Indonesia segera membentuk organisasi yang menjadi anggota IFAWPCA.

 Maka sekembali delegasi Dewan Direksi BUMN dari konvensi di Bangkok, dilangsungkanlah pertemuan antara Ir.S.Danunagoro yang mewakili Dewan Direksi Perusahaan Bangunan Negara, H.E.Kowara yang mewakili Dewan Teknik Pembangunan Indonesia dan Prof.Ir.R.Rooseno yang mewakili GAPPENSI untuk membicarakan pembentukan organisasi baru sebagai wadah kontraktor Indonesia yang sesuai Anggaran Dasar IFAWPCA dapat menjadi anggota.

 
Selanjutnya pada tanggal 2 Oktober 1971 bertempat di kantor PT Pembangunan Jaya di proyek Senen diselenggarakan musyawarah para kontraktor dan disepakati untuk membentuk satu wadah kontraktor yang baru dengan nama Asosiasi Kontraktor Indonesia disingkat AKI yang dalam bahasa Inggris dengan nama Indonesian Contractors Association disingkat ICA.
 
Walaupun secara resmi AKI baru diresmikan pada tanggal 2 Oktober 1973, namun pada Konvensi IFAWPCA ke-12 tanggal 2-10 April 1973 di Taipei, delegasi Indonesia telah menyatakan sebagai delegasi AKI menggantikan Dewan Direksi Perusahaan Negara, tetapi tanda keanggotaan AKI baru diterbitkan pada bulan Oktober 1973 yang ditandatangani oleh President dan Secretary General IFAWPCA periode 1973-1974 yaitu Mr.Takeo Atsumi dan Mr. Soichi Shibur.

Mengenai pembagian kerja antara GAPENSI (hanya satu P karena perencana tidak lagi satu organisasi dengan kontraktor) dengan AKI dicapai konsensus sebagai berikut, AKI hanya berdomisili di Jakarta dan tidak mempunyai cabang di daerah.

Kemudian AKI menangani segala urusan internasional termasuk menjadi angota IFAWPCA, sedangkan
GAPENSI   menangani  segala  urusan  didalam negeri terutama di daerah-daerah. Semua cabang  perusahaan anggota AKI (termasuk BUMN) di daerah-daerah menjadi anggota dan segala kepentingannya ditangani oleh cabang GAPENSI

Adapun tujuan AKI adalah menumbuhkan iklim usaha Jasa Konstruksi yang kondusif, membina perkembangan dan kemajuan usaha Jasa Konstruksi Nasional Indonesia, meningkatkan tertib pembangunan, meningkatkan mutu dan kemampuan anggota sebagai pelaku Jasa Konstruksi
dan meningkatkan kemitraan sesama anggota.

Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan kegiatan-kegiatan antara lain selalu aktif membantu pemerintah dengan memberikan saran-saran mengenai pembinaan dan pengembangan usaha jasa
konstruksi Indonesia.

Kemudian  aktif dalam upaya peningkatan teknologi dan kemampuan para pelaku usaha Jasa Konstruksi bekerja sama dengan lembaga penelitian dan pendidikan.  Menyusun kode etik profesi Kontraktor Indonesia dan membudayakannya.

 

Lalu ada pula kegiatan membantu para anggota dalam menjalankan usahanya dan dapat bertindak sebagai penghubung dalam kerjasama antar anggotadan tidak lupa bekerjasama dengan badan-badan dan organisasi-organisasi di dalam maupun yang mempunyai tujuan yang sama.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga