Kuncinya adalah Pergaulan…

Senin, 4 Mei 2015

H Muhammad Rawi punya empat anak, dan dari keempatnya, hanya Abu (anak kedua) yang dianggap punya bakat berbisnis besi tua. Sejak muda, Abu memang sudah tercium bakat bisnisnya. Ia mengaku sering ikut Ayahnya menaksir dan membeli besi tua dari pengepul kecil.

“Saya dari kecil sering ikut Bapak, kemana-mana ikut Bapak, liat bapak nimbang, ngitung, sampai bantu ikut mengangkut besi tua ke mobil,” tutur Abu.

Diceritakan oleh, Abu, Ayahnya dulunya merupakan perantuan dari Madura yang menetap di daerah Pedongkelan, Jakarta Pusat. Kawasan itu memang dikenal sebagai tempatnya para pengepul besi bekas.

Setelah sekian lama, ayahnya kemudian membangun Koperasi Usaha Mandiri dengan teman-temannya. Dari koperasi inilah kemudian lahir ide membangun perusahaan di bidang besi tua bernama PT Putra Sumuragung. “Nama Sumuragung diambil dari nama daerah asal kami di Pulau Madura,” katanya.

Setelah perusahaan ini berkembang, maka mulai tahun 2006 Ayahnya mempercayakan Abu memegang kendali perusahaan. Abu ditunjuk menjadi direktur dan meneruskan kiprah bisnis sang Ayah. Sementara Ayahnya mulai sibuk sebagai Ketua Umum IKAMA.

Lewat tangan dingin Abu, perusahaan yang awalnya hanya memiliki satu rekan bisnis, yakni Grup Astra, kini sudah ada enam perusahaan besar bekerjasama dengan PT Putra Sumuragung. Mulai dari Sinarmas hingga Bakrie Grup.

Kerjasama dengan perusahaan tersebut adalah dalam hal penanganan limbah perusahaan. Jadi selain besi bekas, nyaris semua limbah perusahaan-perusahaan yang menjadi rekan kerja diurus oleh PT Putra Sumuragung.

 

“Limbah-limbah ini kemudian kita pilah dan proses, lalu kita jual lagi sebagai bahan baku suatu proses produksi,” kata Abu.


Kunci Sukses

Abu yang kini memiliki tiga orang putri ini menuturkan, kunci berbisnis besi tua adalah memiliki jaringan yang kuat alias harus punya modal pergaulan. “Menurut saya, jaringan atau pergaulan ini berada di posisi paling penting, seorang pebisnis besi tua kalau tidak punya modal uang, tidak masalah, yang penting punya jaringan,” kata Abu.

Masalah modal akan teratasi kalau kita punya jaringan, lanjut Abu. Ia mencontohkan, pihaknya sering memberikan pinjaman modal kepada pengepul kecil untuk membeli barang.

Misalnya, ada pengepul kecil menerima tawaran besi bekas sekian ton, namun pengepul itu tidak punya uang untuk membeli. Pengepul itu bisa saja menghubungi Abu untuk meminjamkan modal, setelah barang dibeli, maka si pengepul akan menjualnya kepada Abu dengan selisih harga yang menguntungkan.

“Disinilah yang dimaksud dengan pergaulan, si pengepul harus punya jaringan yang kuat dengan pengepul di atasnya. Sehingga ketika ia kekurangan modal untuk membeli barang, ia bisa meminjam dengan pengepul yang lebih besar,” papar Abu.

Kunci yang kedua adalah sabar. Abu menuturkan, kesabaran ini mencakup banyak hal, mulai dari kesabaran menawar hingga kesabaran mencari atau mendapatkan barang. Besi  bekas yang didapat oleh pengepul kecil biasanya sedikit, jadi harus dikumpulkan berbulan-bulan untuk bisa dijual secara partai besar.

“disinilah pelaku bisnis besi tua harus sabar, sabar mengumpulkan sekilo demi sekilo besi bekas. Kalau sudah banyak baru diangkut dijual. Sebab kalau dijual hanya satu atau dua kilo kan untungnya tidak seberapa,” papar Abu.

Sedangkan filosofi kultural yang sangat dipegang teguh oleh Abu adalah trilogi falsafah sebagai orang Madura yang baik dan warga negara Indonesia yang taat hokum. Yaitu “Beppa’ – Bebbu’ , Guruh , Ratoh”.

 Artinya, kita sebagai orang Madura harus memegang teguh petuah, nasehat dari orang-orang sepuh. Makanya kita harus taat kepada Taat kepada Orang tua(Beppa-Bebbu), Guru / Kyai (Guruh), dan Pemerintah (ratoh)” kata Abu.

 

Jadi Pengepul
Bagaimana caranya bila ingin terjun ke dalam bisnis besi tua ini? Jawabnya mudah, coba saja jadi pihak pengepul. Pihak inilah yang mengumpulkan besi-besi tua dari rumah tangga atau pabrik-pabrik. Kadang mereka juga membeli dari pihak pemulung.

Kisaran harga besi tua bervariasi. Mulai dari Rp 3000 setiap kilogramnya.  Harga itu akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan besi tua di pasaran.

Kalau Anda modalnya agak besar, cobalah menjadi agen. Syaratnya harus punya lahan yang agak luas untuk menampung semua besi tua yang Anda beli. Jika tak punya, mungkin bisa bermitra dengan orang memiliki lahan luas.

Bagaimana cara kerja agen ini? Besi-besi tua yang dari pengepul tadi dibeli kembali oleh agen. Dari sana, si agen bisa menjualnya ke pabrik peleburan besi. Bisa juga besi-besi tua semisal bekas kapal tadi disusun lagi sehingga bisa digunakan.

Jadi agen besi tua harus memiliki insting dan keberanian. Pasalnya, para agen ini harus mengira-ngira berapa berat besi yang mereka bawa. Kalau perkiraan salah, maka kerugian sudah pasti ada di tangan si agen. Misalnya besi bekas kapal perkiraan beratnya 1000 ton, maka si agen pun membelinya seharga 1000 ton. Namun setelah itu barulah ia menyadari kalau beratnya hanya 800 ton. Rugi 200 kg, bukan? Bayangkan bila per kilo garamnya besi dihargai Rp 5000. Wah, besar juga, ya?

Kunci sukses berbisnis besi tua adalah memiliki jaringan. Siapa sajakah pihak yang dimaksud? Tentunya banyak pihak, dari hulu sampai ke hilir. Dari pihak pemulung yang memulung besi tua dari limbah rumah tangga, pihak pengepul, agen besi tua lainnya, mekanik, sampai ke pabrik peleburan besi tua.

 

Bila memiliki banyak kenalan atau relasi, akan mempermudah Anda mendapatkan info. Info seperti besi bekas pabrik yang akan dijual, besi bekas kapal yang akan dijual, dan lain sebagainya. Makin banyak pula pundi rupiah yang Anda akan hasilkan. 

 


Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga