Kisah Para Pencincang Kapal

Senin, 4 Mei 2015

Salah satu cara pengumpulan besi tua yang cepat dan mudah adalah dengan membelah atau mencincang kapal bekas. Sekali mencincang kapal bekas, maka tonase besi tua yang didapat cukup besar, minimal 500 kilogram untuk kapal ukuran kecil.

Rupanya para pencincang kapal bekas cukup banyak terdapat sejumlah wilayah, terutama di wilayah dekat laut seperti di wilayah Cilincing, Jakarta Utara dekat Pelabuhan Tanjung Priok.

Cerahnya prospek bisnis ini yang mampu menyeret Beni ke kubangan besi tua. Peraih gelar Sarjana Teknik Metalurgi, Universitas Indonesia ini mengaku tak memiliki garis keturunan pebisnis besi tua.

Awalnya, sekitar tahun 2007, Beni diajak salah satu teman dekatnya yang berasal dari Jawa Timur. Setelah merasa cukup kenal dengan industri ini, lelaki kelahiran 5 Juli 1986 tersebut mantap terjun ke bisnis scrap.

"Apalagi, dekan di fakultas dulu bilang kalau bisnis ini cukup bagus," ujar Beni. 
Keyakinan bapak dua anak ini pun makin bertambah. Jadilah tahun 2009 ia mendirikan MRI.

Beni memfokuskan diri pada besi tua (scrap), aluminium, kuningan, tembaga, dinamo, dan sebagainya. Mangsa utama MRI adalah kapal-kapal bekas, selain rongsokan dari pabrik.

Namun, Beni mengatakan bisnis besi tua punya keunikan. Meski prospeknya bagus, kalau tak hati-hati, bersiaplah rugi. Sebab, untuk menaksir kapal bekas perlu keahlian khusus.

Sebelum mencincang, pemain scrap harus bisa memperkirakan bobot serta kualitas besi dari kapal. "Paling mudahnya, dilihat dari panjang-lebar-tinggi, dan sisanya rahasia perusahaan," ujar Beni, tak ingin rahasia dapurnya terbongkar.



Menurut pengalaman Beni, bila bobot kapal di bawah 1.000 ton, bisa dicincang dalam waktu tak lebih dari sebulan. "Biasanya, kapal dibelah menjadi tiga bagian. Lalu, dipotong-potong dalam ukuran 1x1 meter," ujar dia.

Untuk mencincang kapal, Beni merangkul tenaga dengan sistem borongan, untuk efisiensi ongkos produksi. Sebab, Beni hanya perlu membayar Rp500/kg/orang. Satu kapal biasanya dicincang oleh 15 orang. Untuk mencincang kapal, sedikitnya perlu 20 tabung oksigen ukuran 50 kg dan dua tabung elpiji 12 kg tiap hari.

Per kilogram scrap, dijual Beni ke pabrik peleburan antara Rp2.500 hingga Rp5.000. Beni mengaku bisa mengantongi margin keuntungan antara 30 hingga 40 persen.

Namun, itu baru scrap saja. Sangat dimungkinkan Beni mendapat keuntungan dari barang bekas lain saat mencincang kapal. Misalnya, baling-baling kuningan, lilitan dinamo, logam, atau mesin. Keuntungan tambahan ini justru yang biasanya bernilai lumayan besar.

Dalam satu bulan, MRI berhasil mencetak 500 hingga 600 ton scrap. Selain dari kapal, biasanya MRI dapat pasokan scrap dari pengepul. Tiap minggu, pemulung menyetor scrap ke MRI sedikitnya 5 ton.

Beni mengaku tiap bulan bisa menghasilkan omzet antara Rp3 miliar hingga Rp5 miliar. "Masih kecil sekali dibanding senior-senior bisnis scrap," ujar Beni, yang memiliki warehouseseluas 3.000 meter persegi di Jalan Cilincing Lama Kali Drain No 50, Jakarta Utara ini. 

Menurut Beni, pemain besar yang sudah lebih dulu bercokol bisa mengantongi omzet hingga puluhan bahkan ratusan miliar per bulan.


Menyediakan Kapal Cincang

Kalu ada yang mencincang, otomatis ada pula yang menyediakan kapal untuk dicincang. Biasanya kapal yang ingin dicincang merupakan kapal-kapal tua yang sudah tidak dipakai lagi.

Indonesia merupakan pasar mengiurkan bagi kapal tua. Banyak kapal kapal tua dari luar negeri atau berbendera asing  yang sudah tidak terpakai dilempar untuk dijual di Indonesia. Kapal –kapal itu biasanya dijual pertama kali ke perusahaan trading.

Perusahaan trading itu membeli dengan sistem satuan, atau sekaligus satu unit tanpa menghitung bobot kapal secara persis. Artinya, harga jual benar-benar dihitung per satuan kapal terlepas berapapun ukuran atau bobot kapal.


Tentu perhitunganya tetap memperhatikan bobot kapal, jika bobot kapal besar, makin mahal pula harganya.

Setelah dibeli dari pemilik kapal, perusahaan trading ini kemudian menawarkan kepada pengusaha-pengusaha besi tua yang berminat. Cara belinya cuma hampir sama yakni dengan cara beli harga satuan.

Disinilah kepandaian pembeli kapal bekas diuji. Calon pembeli harus pandai menaksir bobot kapal atau kandungan besi yang terdapat didalam kapal. Jika salah menaksir. Harga beli bisa saja kemahalan.

Menurut H Abu Bakar Rawi, dalam hal menaksir kapal bekas yang akan dicincang, pengalaman merupakan modal ampuh untuk menaksir.

“Kalau masih baru bermain di bisnis tua, jangan coba-coba menaksir harga kapal bekas, bisa-bisa rugi. Jika memang ditawari kapal bekas, lebih baik ajak orang yang berpengalaman untuk menaksir,” katanya.

 

Berapa sih pasaran harga kapal bekas? Dari semua narasumber  yang dimintai keterangan oleh Tabloid Steel Indonesia, tidak ada yang menjawab secara detail. Sebab tidak ada ukuran baku berapa harga satu unit kapal bekas.

 

 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga