Batu Akik Marak, Bisnis Pengikat Batu Sumringah

Senin, 6 April 2015

Ada satu hal yang menarik namun luput dari perhatian di tengah maraknya peredaran batu akik. Apa itu? Yakni tentang bergeliatnya industri rumahan pengikat batu. Betul, agar dapat dipakai di jari, batu akik memerlukan pengikat atau ring cincin.

 

 

Umumnya pengikat atau ring cincin terbuat dari bahan alloy, besi, emas, perak, atau kuningan. Namun pengikat cincin yang terbuat dari emas dan perak tidak terlalu massif peredarannya karena harganya mahal dan terbatas.

 

 

Alhasil, bahan dari alloy, besi, kuningan atau alumunium mendominasi sebagai bahan pengikat cincin.  Sedangkan Alloy adalah kombinasi dalam larutan atau senyawa, terdiri dari dua atau lebih elemen, dan paling tidak salah satunya adalah logam. Kemudian menghasilkan bahan keras berwarna khas, yakni metalik.

 

 

Sedangkan pengikat cincin yang terbuat dari logam besi biasanya ditambahkan atau disiram chrom sehingga warnanya menjadi putih metalik.  Namun dibandingkan alloy, pengikat cincin yang terbuat dari chrom logam harganya sedikit lebih murah.

 

 

Pada dasarnya chrome adalah proses pelapisan terhadap suatu material menggunakan elektroplating oleh kromium. Elekrtopaling adalah bahasa lain dari pelapisan listrik. Pelapisan dengan krom dapat dilakukan pada berbagai jenis logam seperti besibaja, atau tembaga.

 

Pelapisan krom juga dapat dilakukan pada plastik atau jenis benda lain yang bukan logam, dengan persyaratan bahwa benda tersebut harus dicat dengan cat yang mengandung logam sehingga dapat mengalirkan listrik.

 

 

Pada industri rumahan pengikat batu cincin, pelapisan chrome masih menggunakan cara konvensional yaitu melalui proses pencelupan. Sedangkan pada skala industri biasanya menggunakan metode automatic spray.

 

Proses Chrome

Bagi yang sudah paham, proses pelapisan logam dengan chrome ternyata tergolong mudah. Hal pertama yang perlu disediakan adalah bahan baku yaitu, bak (ember) PVC, heater atau pemanas larutan, larutan chrome,  anoda chrome, serta Rectifier yaitu alat pengubah sumber arus bolak-balik (AC) menjadi sinyal sumber arus searah (DC).

 

 

Di pasaran, modal menyediakan alat-alat itu berkisar Rp 5 juta rupiah untuk bahan pencelupan sebanyak 100 liter. Biasanya digunakan juga mesin poles untuk menghaluskan material sekaligus mengkilapkan (buffing). Namun untuk pengikat cincin yang bentuknya cenderung berlekuk, mesin poles tidak dipakai.

 

 

Setelah bahan-bahan tersebut tersedia, cara pertama adalah membersihkan material pengikat cincin yang sudah berbentuk ring dari kotoran. Caranya dengan mengoleskan paint remover atau merendamnya di dalam larutan asam sulfat.

 

 

Setelah selesai, untuk menghilangkan sisa-sisa langsol pada permukaan material, maka dilakukan pencucian dengan sabun dan metal cleaner. Proses ini penting dalam electroplating, sebab jika masih ada sisa-sisa kotoran yang menempel dipermukaan benda kerja walau satu titik, maka proses pelapisan akan cacat dan menyebabkan lapisan chrome akan mudah lepas.

 

 

Setelah memastikan pencucian/pembersihan kita sempurna, saatnya benda kerja dicelupkan ke dalam bak plating nikel. Setelah terlapisi nikel, benda kerja diangkat lalu dibilas dengan air setelah itu dimasukkan ke dalam bak  chrome.

 

 

Selesai melapis benda kerja dengan chrome, proses selanjunya adalah melakukan finishing dengan menghilangkan warna abu-abu pada benda kerja akibat arus yang berlebih.


Dijual Per Kodi

Rahman (35), salah satu penjual pengikat batu cincin di Jakarta megaku mendapat berkah dari maraknya peredaran batu akik. Jika sebelumnya omsetnya hanya berkisar Rp 3 juta per bulan, ia kini dapat meraup omset hingga Rp 6 juta per bulan.

 

 

“Itu gabungan dari hasil penjualan via online dan pasokan rutin ke sejumlah penjual batu akik di berbagai daerah,” kata Rahman. Ia mengaku saat batu akik mulai marak omsetnya bisa Rp 10 juta, namun karena sekarang banyak pemain yang juga ikut terjun lantaran tertarik mencicipi bisnis ini, omsetnya pun ikutan tergerus.

 

 

Meski begitu, rahmat bersyukur karena penjualan pengikat batu akik tetap laris manis. “yang penting adalah bagaimana mencari langganan dan mempertahankan langganan itu supaya tetap meminta pasokan pengikat cincin dari kita,” kata Rahman.

 

 

Rahman mengatakan ia mendapatkan pasokan pengikat batu akik dari sebuah indsutri rumahan di Tangerang. Sekali pesan biasanya 10 kodi atau sebanyak 200 buah pengikat batu akik. Rahman kemudian menjualnya juga dengan system kodian.

 

 

Satu kodi berisi 20 buah pengikat batu akik. Harga yang dijual juga bervariasi. Mulai dari Rp 200 ribu untuk jenis besi alloy atau besi chrome hingga yang termahal seharga Rp 850 ribu  untuk bahan yang terbuat dari titanium chrome.

 

 

Biasanya, kata Rahman, toko batu akik akan menjual secara satuan yang harga berkisar Rp 20 ribu. Jadi jika dikalkukasi, toko batu akik memperoleh untung Rp 200 ribu untuk satu kodi pengikat batu akik.

 

 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga