Askarindo Perjuangkan Nasib Bisnis Karoseri

Senin, 6 April 2015

Bisnis otomotif Indonesia yang mengkilap ternyata tidak menjamin bisnis karosesi ikut-ikutan cerah. Justru  saat ini bisnis karoseri sedang lesu. Begitu kira-kira yang diungkap Ketua Askarindo (Asosiasi Karoseri Indonesia) Sommy Lumedjang kepada Tabloid SI.

 

 

Saat ini menurut data Askarindo, ada sekitar 500 perusahaan karoseri di Tanah Air. Tapi hanya 200-an saja yangmenajdi anggota. Itu pun tidak lebih hanya 50 perusahaan karoseri yang tergolong besar, sisanya menengah dan kecil.

 

 

Sayangnya, tidak ada angka jelas berapa besar perputaran uang industri karoseri di Indonesia. Lantaran anggota-anggota  Askarindo sampai detik ini belum memberikan data produksi masing-masing, “Sehingga kalau ditanya berapa kapitaslisasi bisnis ini, kami belum bisa menjawab,” ujar Sommy.

 

 

Bisnis karoseri mulai bergeliat di Indonesia sejak pemerintah membatasi impor mobil selain sedan, pick up, dan sasis kendaraan pada tahun 80-an. Askarindo sendiri didirikan sejak tahun   1982.

 

 

Askarindo merupakan organisasi tertinggi dalam bisnis karoseri di Tanah Air. Organisasi inin bertugas menetapkan kepengurusan dan program kerja Askarindo yang berkaitan dengan pembinaan dan pengembangan anggota Askarindo.

 

 

Salah satu program kerja kepengurusan Askarindo periode ini adalah mendorong pemerintah untuk menghapus bea masuk sejumlah komponen kendaraan. “Beberapa komponen kendaraan seperti bahan baku untuk sasis masih kita impor, tapi bea masuknya tinggi sekali, sehingga kita kesulitan,” kata Sommy.

 

 

 

Tetap Potensial

Meski begitu, pelaku bisnis karoseri masih dapat mengintip peluang, khususnya karoseri untuk truk untuk kebutuhan konstruksi. Hal ini lantaran pemerintahan Jokowi-JK sudah mencanangkan pembangunan infrastruktur di daerah.

 

 

Walaupun tak punya data soal pesanan karoseri, namun Subagio bilang, pesanan karoseri terkait erat dengan penjualan kendaraan niaga. Jika data penjualan kendaraan niaga naik, maka ada harapan penjualan karoseri dalam negeri juga naik. "Kami memproyeksikan tahun ini bisa tumbuh 10%-15%," kata Sommy.  

 

 

Dari data yang otomotif yang ada, sampai November tahun 2014, penjualan truk dan bus medium naik 19,32% menjadi 15.600 unit. Sommy bilang, pertumbuhan penjualan kendaraan niaga ini menandakan industri karoseri juga tumbuh. "Jika penjualan truk dan bus tumbuh, kami juga tumbuh," jelasnya. 

 

 

Selain pesanan karoseri baru, industri karoseri mendapatkan pesanan untuk pergantian karoseri dari kendaraan niaga yang sudah beroperasi. Subagio bilang, periode pergantian karoseri biasanya dilakukan dalam rentang waktu lima tahun.

 

 

Proyeksi kenaikan penjualan karoseri juga datang dari pasar ekspor. Apalagi, peluang pasar ekspor cukup besar, karena saat ini ekspor baru berkontribusi 5% dari pesanan karoseri keseluruhan. "Tujuan ekspor saat ini adalah Afrika," ungkap Sommy.

 

 

Salah satu peluang ekspor karoseri itu adalah, berlakunya perdagangan bebas Asean atau masyarakat ekonomi Asean (MEA) 2015. "Saat ini kami masih melakukan pembicaraan ekspornya," tambahnya.

 

Dukungan Industri Besi Baja 

Askarindo sendiri sebagai organisasi,  sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk bertarung di pasar Asia Tenggara. Salah Satu modalnya adalah kesiapan industri bahan baku karoseri yang cukup melimpah. Sebab di negara lain, besi baja untuk karoseri termasuk sulit didapat.  

 

 

“Untuk bahan baku produksi box atau besi untuk sasis kendaraan, kita bersyukur tidak kekurangan. Bahkan lebih dari 80% bahan baku besi untuk karoseri kita adalah produksi lokal,” kata Sommy.

 

 

Meski begitu, para pelaku industri  karoseri berharap harga besi baja bisa turun atau minimal stabil. Jika harga bahan mahal, Sommy mengatakan, indsutri karoseri bakal terpukul. Sebab, hampir 70% biaya produksi karoseri habis untuk penyediaan bahan baku. 

 

 

Bahan baku besi untuk industri karoseri beragam. Ada alumunium, alloy, baja putih, hingga besi profil untuk rangka sasis. Sayangnya tidak dapat diketahui pasti berapa demand atau kebutuhan industri ini yang dipasok dari produsen baja.

 

Margin Menggiurkan

Meski pasar bisnis ini belum terdata secara terang, para pemainnya  tetap bertahan karena pendapatan cukup bagus. New Armada, misal-nya, membanderol harga badan busnya Rp 400 juta. Ini harga dasar, tidak termasuk penyejuk udara dan tempat duduk. Konfigurasi tempat duduk bus memang berbeda-beda meski badan bus sama, bisa dari hanya 18 sampai 50 kursi.

 

 

Harga ini juga tidak termasuk mesin dan sasis bus yang menjadi “bahan dasar” nya. Banyak perusahaan bus memang membeli bus seperti menjahit baju: membeli kain dan dibawa ke penjahit. Sedangkan operator bus membeli mesin dan dibawa ke perusahaan karoseri. Dengan perhitungan kasar satu bus Rp 400 juta, omzet 2.400 bus se Indonesia mencapai Rp 480 miliar per tahun. Itu baru untuk mesin baru, belum dihitung yang peremajaan.

 

 

Atau yang dialami Sukses Tunggal Mandiri yang, mendapat Rp 450 juta untuk satu bus Kopaja pesanan pemprov DKI. Karena setahun mereka mendapat pesanan 100 buah, pendapatan Rp 45 miliar sudah di depan mata. Sampai satu dekade silam, pemasukan karoseri ini juga datang dari pasar internasional.  

 

 

Sejak awal 1990 an, misalnya, New Armada mengirim bus-bus mereka ke sejumlah negara, mulai Hong Kong, Vietnam, Singapura, Arab Saudi, sampai Afrika Selatan. Di awal 2000, misalnya, bus yang digunakan wisatawan di pulau tempat Nelson Mandela di penjara dibuat di Magelang.

 

 

 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga