Potret Bisnis Logistik Tahun 2015 Cemerlang

Senin, 6 April 2015

Ada satu kaidah umum dalam memotret potensi bisnis logistik di suatu negara. Yaitu melihat kondisi geografis negara itu sendiri.  Jika luas negara itu besar, maka potensi bisnis logistiknya pun besar.

 

 

Apalagi kalau bentuknya kepulauan, seperti Indonesia. Potensi bisnis logistiknya sudah pasti besar. Menurut sebuah studi, Indonesia yang memiliki 17.508 pulau dengan jumlah penduduk 242 juta, punya potensi pasar logistik yang fantastis yakni mencapai Rp 1.400 triliun.

 

 

Logistik merupakan seni dan ilmu mengatur, mengendalikan arus barang, energi, informasi, dan sumber daya lainnya, seperti produk, jasa dan manusia dari sumber produksi ke pasar.

 

 

 

Bisnis ini terdiri dari tiga sektor utama, yakni transportasi (darat, laut, udara), pergudangan, dan pengiriman barang (ekspedisi). Sayangnya ketiga sektor ini baru meraup Rp 287,4 triliun, atau masih ada sisa Rp 1.112,6 triliun yang belum digarap. Ini angka tahun 2014.

 

 

Di tahun 2015 ini, terutama untuk menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), sektor logistik memainkan peranan yang vital terutama dalam mengahdapi gempuran perusahaan logistik asing.

 

 

Lembaga riset Frost & Sullivan memberikan prediksi bahwa di tahun 2015 ini, pertumbuhan pasar Transportasi & Logistik naik sebesar 15,2%, kenaikan tersebut diharapkan dapat mencapai rekor tinggi dengan pertumbuhan angka ganda. Kebutuhan domestik yang mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia-lah yang menyebabkan kenaikan tersebut.

 

 

Ditemui saat acara Jumpa Pers mengenai Prediksi industri Transportasi & Logistik Indonesia di tahun 2015 di Hotel Mulia Senayan, bulan lalu, Gopal R (Vice President, Transportation & Logistics, Frost & Sullivan Asia Pacific) mengatakan, peningkatan permintaan domestik, terutama dalam investasi infrastruktur dan konsumsi sektor privat di ASEAN akan mengubah kondisi perdagangan dalam regional

 

 

“Konsumsi domestik telah mendorong pertumbuhan di Indonesia, mewakili 50% dari PDB negara,” ungkap Gopal.

 

 

Beliau juga mengatakan bahwa kunci kesuksesan Indonesia dalam menghadapi MEA adalah pertumbuhan perdagangan dan manajemen logistik, pengembangan sumber daya manusia merupakan salah satu syaratnya.

 

 

Dalam acara tersebut, hadir serta Zaldy Ilham Masita, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI). Beliau hadir dengan membawakan topik bahasan berupa tantangan dan peluang dalam bisnis logistik di Indonesia.

 

Menurut Zaldy, 60% perekonomian ASEAN berada di Indonesia. Seharusnya dengan angka tersebut, negara kita merupakan pusat perekonomian ASEAN yang seharusnya juga merupakan pusat logistik se-ASEAN.

 

 

“Permasalahannya Indonesia enggak punya free trade zone (ftz) yang efektif, yang banyak hanya kawasan fregat,” ungkapnya.

 

 

Batam dinilai kurang efektif bagi Zaldy sebagai free trade zone Indonesia. Jakarta atau Surabaya memiliki potensi yang lebih baik dikarenakan banyaknya jalur logistik yang masuk.

 

 

Menurut studinya, bila Indonesia memiliki free trade zone yang efektif, seharusnya biaya logistik dapat melakukan penghematan sebesar 17 atau sebesar 30 juta USD.

 

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga