Indonesia Butuh Ribuan Jembatan Gantung

Senin, 6 April 2015

Jembatan gantung yang menghubungkan Desa Sindai, Kecamatan Sajira dan Pasir Eurih, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, putus. Sebanyak 45 siswa SD jatuh dari ketingian 15 meter ke sungai dalam kondisi air yang deras.

 

 

Meski tidak ada korban jiwa, dua orang siswa dipastikan mengalami luka serius yakni satu orang mengalami cedera kepala dan satu orang lagi giginya rontok akibat terbentur bebatuan di dasar sungai.

 

 

Jauh sebelum kejadian itu, publik juga dihenyakkan dengan berita tentang siswa-siswi di Lebak, Banten, yang menyusuri jembatan gantung nyaris rubuh di saat Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, ditahan KPK akibat dugaan korupsi.

 

 

Saat ini menurut data, terdapat 960 jembatan gantung di Lebak, di mana 360 di antaranya rusak berat dan perlu dibangun jembatan baru. Di duga jumlah itu hanya sebagian kecil, mengingat wilayah Indonesia banyak disusuri sungai.

 

 

Kementerian Desa Tertinggal dan Transmigrasi hingga Ferbruari 2015 masih menghitung berapa jumlah jembatan gantung yang  terdapat di Indonesia. Diyakini jumlahnya mencapai ribuan. Dan melihat potret jembatan gantung di Lebak, hampir dapat dipastikan, mayoritas terbuat dari kayu.

 

 

Jembatan gantung adalah jenis jembatan yang menggunakan tumpuan ketegangan kabel. Sebuah jembatan gantung biasanya memiliki kabel utama (kabel baja atau rantai yang lain) berlabuh di setiap ujung jembatan. Setiap beban yang diterapkan ke jembatan berubah menjadi ketegangan dalam kabel utama.

 

 

Untuk jembatan gantung modern yang dapat dilintasi mobil atau kendaraan berat lainnya, posisi penyebaran kekuatan bertumpu pada suspensi. Sedangkan jembatan gantung untuk penyebrangan orang, mekanismenya masih sama.

 

 

Jembatan gantung yang terbuat dari kayu balok sebagai walkway masih banyak terdapat di Indonesia. Padahal kekuatannya terbatas. Oleh karena itu untuk menjamin keamanan warga, Indonesia memerlukan   jembatan gantung yang terbuat dari besi baja.

 

 

 

Lebih Kuat

 

Direktur PT Artha Raksa Baya, Bahrullah, mengatakan, jembatan besi memiliki tingkat keamanan dan kekuatan yang tinggi. “Walkwaynya terbuat dari siku, kemudian ada pengaman di sisi kanan jembatan yang terbuat kawat harmonika, serta menggunakan wireroof yang tahan cuaca,” katanya saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.

 

 

Dari segi desain dan tumpuan mekanisme berat, jembatan besi sebetulnya tidak jauh berbeda dengan jembatan kayu. Bedanya pada bahan baku dan tingkat kekuatan. “Misalnya, sling besi tentu jauh lebih kuat daripada tali tambang atau tali akar pohon yang biasanya digunakan jembatan kayu,” ungkap Bahrullah.

 

 

Selain itu, jembatan besi juga dapat dimodifikasi sedemikian rupa sesuai kebutuhan. Dengan instalasi (erection) yang mudah, beratnya yang ringan, serta biaya yang lebih efisien, jembatan besi jauh lebih aman dan nyaman.

 

 

PT Artha Raksa Baya merupakan perusahaan pabrikator yang salah satu proyeknya mengerjakan jembatan besi di Indonesia.  Proyek tersebut didanai oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang bekerjasama dengan pemerintah daerah.

 

 

Tahun 2014, PT Artha Raksa Baya telah membangun lima jembatan besi di berbagai wilayah di Indonesia. Yang terpanjang adalah di Wilayah Wangan Condong-Wonosobo sepanjang lebih dari 60 m.

 

 

Selain itu, perusahaan tersebut juga membangun jembatan gantung di wilayah Sungai Cileme-Pandeglang, Banten. Kemudian di wilayah Kali Gunting-Mojo Agung, Jombang. Wilayah Sungai Opak-Bantul, Yogyakarta, serta di wilayah Kali Kuncir-Nganjuk, Jawa Timur.

 

 

Menurut Bahrullah, dengan stok besi baja di Indonesia yang melimpah, seharusnya Indonesia mulai beralih membangun jembatan besi menggantikan jembatan kayu. “Pabrik baja kita, misalnya Krakatau Steel atau Gunung Garuda adalah pemain besi level Asia Tenggara, jadi soal pasokan bahan baku tidak perlu kuatir,” sambung pria asli Palembang ini.

 

 

Jembatan besi menurut Bahrullah sejalan dengan isu lingkungan karena menghindari pengunaan kayu pohon. “Bayangkan saja sekarang ini ribuan jembatan itu terbuat dari kayu, berapa juta batang pohon yang ditebang?” tanya Bahrullah.

 

 

Secara teknis, jembatan besi bertumpu pada dua titik di masing-masing ujung jembatan yang dicor beton. Sebagai landasan serta untuk menghubungkan kedua ujung itu dipasang besi round bar berukuran tertentu sesuai kapasitas yang diinginkan.

 

 

Di atas round bar dipasang besi siku dengan posisi melintang dan dikaitkan dengan skrup. Besi siku inilah yang kemudian menjadi walkway, atau landasan jalan. “Dengan jembatan besi ini, bukan hanya manusia, motor atau kendaraan pasar yang biasanya beroda tiga juga bisa lewat,” sambungnya.

 

 

Selanjutnya, sebagai pengaman di sisi kanan dan kiri dipasangi kawat harmonika yang dikombinasi dengan wireroof serta sling besi sebagai pembagi tumpuan kekuatan. Meskipun tetap bergoyang jika tertiup angin, jembatan besi dijamin aman.

 

 

“Dijamin aman jika pabrikasi pembuatnya juga benar. Kalau asal-asalan ya bisa putus juga,” ujar Bahrullah merujuk jembatan gantung Kutai Kertanegara yang putus beberapa tahun lalu.

 

 

Oleh karena itu, jika benar pemerintah pada tahun ini akan memperbanyak pembangunan jemabtan besi, Bahrullah yang memiliki pengalaman sebagai pabrikator jembatan meminta pemerintah untuk berhati-hati saat memilih perusahaan pelaksana pembangunan.

 

 

Dari segi biaya, pembuatan jembatan gantung juga tergolong efisien. Per meternya diperkirakan membutuhkan biaya minimal Rp 12,5 juta. Dikatakan efisien karena disandingkan dengan dampak keamanan dan kenyamanan.

 

 

“Jembatan kayu mungkin harganya murah, bahkan bahan bakunya tinggal ambil di hutan, tapi  itu tidak sebanding dengan keamanan atau nyawa manusia yang melayang jika jembatan itu rusak,” papar Bahrullah

 

 

Pada mulanya Jembatan gantung memiliki kabel berlabuh di tanah di kedua ujung jembatan, tetapi beberapa jembatan suspensi yang modern jangkar kabel ke ujung jembatan itu sendiri. Jembatan gantung awal tidak memiliki menara .

 

 

Saat ini jembatan gantung bertumpu pada kabel vertikal yang terikat pada tali antara menara tumpuan. Setiap beban yang diterapkan ke jembatan berubah menjadi ketegangan dalam kabel utama. Jembatan suspensi awal memiliki kabel berlabuh di tanah di kedua ujung jembatan, tetapi beberapa jembatan suspensi yang modern jangkar kabel ke ujung jembatan itu sendiri. Jembatan suspensi awal tidak memiliki menara atau dermaga, tapi ini hadir di sebagian besar jembatan suspensi yang lebih besar 960 jembatan gantung di Lebak, di mana 360 di antaranya rusak berat. 


Dengan APBD sebesar Rp 2,1 triliun, Iti mengeluh dana itu tidak cukup untuk memperbaiki semua infrastruktur yang rusak di daerahnya

 

 

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadi Mulyono berjanji akan memperbaiki jembatan gantung yang rusak parah di sejumlah daerah di Indonesia. 


Ia mengatakan Kementerian PU-Pera akan membantu memperbaiki jembatan gantung yang panjangnya lebih dari 100 meter. Namun, ia menilai perlu adanya kerja sama antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten.

 

 

"Pasti kabupaten juga kesulitan untuk membangun dan membiayai semua jembatan gantung yang rusak, makanya untuk jembatan yang panjangnya lebih dari 100 meter akan kami kerjakan," kata Basuki saat meninjau jembatan ambruk di Desa Tambak, Kecamatan Cimarga, Lebak, Banten, Senin (16/3). 

 

 

adalah jenis jembatan yang menggunakan tumpuan ketegangan kabel daripada tumpuan samping . Sebuah jembatan gantung biasanya memiliki kabel utama (kbel baja atau rantai yang lain) berlabuh di setiap ujung jembatan. Setiap beban yang diterapkan ke jembatan berubah menjadi ketegangan dalam kabel utama.

 

 

Pada mulanya Jembatan gantung memiliki kabel berlabuh di tanah di kedua ujung jembatan, tetapi beberapa jembatan suspensi yang modern jangkar kabel ke ujung jembatan itu sendiri. Jembatan gantung awal tidak memiliki menara .

 

 

Saat ini jembatan gantung bertumpu pada kabel vertikal yang terikat pada tali antara menara tumpuan. Setiap beban yang diterapkan ke jembatan berubah menjadi ketegangan dalam kabel utama. Jembatan suspensi awal memiliki kabel berlabuh di tanah di kedua ujung jembatan, tetapi beberapa jembatan suspensi yang modern jangkar kabel ke ujung jembatan itu sendiri. Jembatan suspensi awal tidak memiliki menara atau dermaga, tapi ini hadir di sebagian besar jembatan suspensi yang lebih besar

 

 



 

 


 

 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga