Media Online, Strategi Tebar Pesona Bisnis Besi Baja

Senin, 6 April 2015

Pengguna internet di Indonesia semakin hari semakin bertambah. Menurut lembaga riset pasar e-Marketer,  populasi pengguna internet netter Indonesia mencapai 83,7 juta orang pada 2014. Angka itu dihitung berdasarkan setiap orang yang mengakses internet setidaknya satu kali setiap bulan.

Pada 2017 diperkirakan, jumlah pengguna internet Indonesia akan mencapai 112 juta orang, mengalahkan Jepang di peringkat ke-5. Saat Indonesia masih menduduki peringkat ke-6 di dunia.

Jumlah pengguna internet di seluruh dunia diproyeksikan bakal mencapai 3 miliar orang pada 2015. Salah satu akses yang sering dimasuki pengguna internet adalah situs e-commerce atau jual beli barang online.  

Di tahun 2014, jumlah pengguna komputer dan ponsel cerdas yang melakukan pencarian dan review produk sebanyak 31% dari total keseluruhan pengguna internet. Dari angka itu, pengguna yang melakukan pembelian online sebesar 26% atau sekitar 18,6 juta pengguna dari total seluruh pengguna internet.

Sedangkan dari segi nilai transaksi, menurut BMI Research, nilainya mencapai Rp 21 triliun. Tahun 2015, diperkirakan nilai transaksi belanja online di Indonesia akan menyentuh angka Rp 50 triliun.

 

Ajang Tebar Pesona

Fenomena maraknya penjualan online rupanya juga dicium para pelaku industri besi baja nasional. Media sosial atau aplikasi penjualan secara online dijadikan ajang tebar pesona oleh para pelaku bisnis baja mulai dari produsen, pabrikator, aplikator hingga toko besi.

Lihat saja sendiri, sekarang semua pelaku bisnis besi baja dari segala lini sudah punya situs sendiri. Di situs itu mereka memajang berbagai produk unggulan dengan sejuta kata ajakan untuk membeli.

Sayangnya tidak semua punya layanan jual beli secara online. Situsnya  cenderung sebagai sarana publikasi semata. Padahal, fakta meningkatnya nilai transaksi online merupakan peluang emas mendulang hoki.

Memang tidak ada data resmi berapakah nilai transaksi penjualan besi baja secara online. Tapi jika diambil angka 2% saja dari total Rp 21 triliun transaksi, maka maka angkanya menyentuh hampir Rp 500 miliar. Ini tentu sangat menggiurkan.

 

Tidak Bermodal Besar

Potensi inilah yang dilihat oleh PT Duta Arta Sempana, sebuah perusahaan penjualan besi baja yang memiliki situs jual beli online tokobesibaja.com.  Perusahaan ini menggolongkan diri sebagai toko besi online.

“Kenapa toko besi online? Sebab kami memang tidak membuka toko secara fisik, tapi kami menyediakan kebutuhan besi baja secara online. Siapa yang mau beli, kami ada,” kata Marketing Manajer PT Duta Arta Sempana, Verawati, kepada tabloid SI.

Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2012 ini mengklaim menyediakan segala kebutuhan besi baja. Mulai dari A sampai Z.  Klaim ini beralasan, sebab cara kerjanya adalah ‘menunggu order’ bukan ‘menyediakan stok’ seperti toko besi.

Dijelaskan Verawati, biasanya, sebelum memesan barang, calon konsumen meminta daftar harga (price list) yang dikirim via email. Setelah  melihat daftar harga, calon konsumen biasanya akan menawar lebih rendah dari price list.

“Kalau tawarannya masuk, kami terima. Kalau menawar terlalu rendah, biasanya kami berikan opsi untuk membeli barang sejenis dengan harga lebih murah, misalnya produk Tiongkok,” jelas Verawati.

Setelah harga disepakati dan pembayaran ditransfer, selanjutnya Duta Arta Sempana mencari barang ke pabrik besi baja. Jika barang tersedia, perusahaan ini kemudian memerintahkan perusahaan ekspedisi untuk mengambil barang ke pabrik serta mengantarkannya ke alamat pengiriman.

“Setiap pengiriman hingga 8 ton kami kenakan biaya pengiriman Rp 850 ribu di area Jabodetabek. Jika berat pengiriman 8,3 ton maka biaya pengirimannya tetap dihitung Rp 850 ribu dikali dua,” kata Verawati.

Hal ini karena pengiriman menggunakan dump truck berukuran standar 8 ton. Sehingga jika pengiriman 8.3 ton maka diperlukan dua dump truck dengan harga tetap Rp 850 ribu per dump truck sekali pengiriman.

Setiap bulan Duta Arta Sempana mengklaim mampu meraup omset Rp 2 miliar.  Yang menarik, modal membangun bisnis ini relatif tidak besar. Rumus ‘menunggu order’ inilah yang menjadi kunci.

Artinya, toko besi online tidak memerlukan stok, ruangan besar dengan banyak karyawan. Cukup tiga atau empat orang pegawai yang standby mengawasi traffic internet, bisnis pun berjalan.

Lalu bagaimana jika tidak ada order dalam satu bulan? Maka yang diperlukan bisnis lain sebagai penopang. “Basis kami adalah kontraktor, jadi bisnis kontraktor kami tetap berjalan seperti biasa, sedangkan bisnis online merupakan pengembangannya,” kata Verawati.

Tapi memang tidak dipungkiri bisnis jual besi online model seperti ini tidak memerlukan overhead yang tinggi. Sebab mereka hanya menunggu order, memesan ke pabrik, lalu mengirimkannya ke alamat pemesan.

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga