Raup Untung Dari Bisnis Kemitraan

Senin, 6 April 2015

Pola bisnis kemitraan atau banyak orang menyebut franchise (waralaba) merupakan pola bisnis yang memungkinkan siapapun membuka usaha atau membangun bisnis secara bersama-sama dengan pemilik merek dagang.

Selama ini pola bisnis kemitraan banyak diterapkan di sektor bisnis makanan dan minuman. Tapi kini tidak lagi, sebab bisnis besi baja juga sudah mulai menggunakan pola serupa, terutama pada lini penjualannya.

Salah satu toko besi yang menerapkan pola bisnis kemitraan adalah grup toko besi dibawah payung brand Mega Baja. Perusahaan yang sudah berdiri sejak 2002 ini awalnya hanya membuka satu toko di daerah Komsen, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Kini toko besi baja itu sudah memiliki lebih dari 20 mitra di seluruh Indonesia dengan omset mencapai puluhan miliar setiap bulan. Awalnya, toko besi ini belum menerpakan pola bisnis kemitraan. Beberapa cabang yang dibuka adalah milik sendiri.

Tapi seiring pesatnya penjualan besi baja, Mega Baja mulai menawarkan konsep bisnis waralaba terutama untuk para pemilik modal yang ingin membuka toko di daerah

 

Kemitraan Murni

Dalam konsep waralaba, biasanya ada biaya franchise. Mega Baja tidak melakukan itu. Konsepnya,  murni kemitraan dimana para calon mitra diberikan kesempatan membangun toko besi sendiri tanpa biaya franchise.

Syaratnya, calon mitra punya ekuitas misalnya modal, lahan, atau gedung untuk membuka toko. Mega Baja memberikan tiga brand toko yang dapat dipilih, “Mitra Mega Baja”, “Mitra Baja”, atau “Mitra Mega”. Calon mitra juga tidak dikenakan fee penggunaan merek dagang.

Soal profit, seluruh pendapatan yang diperoleh juga tidak dikenakan fee, alias seluruhnya masuk ke  kantong mitra.  Lalu darimana Mega Baja mendapat keuntungan? Mega Baja memberikan syarat kepada calon mitra untuk menerima pasokan material dari Mega Baja.

Jadi, dalam konsep ini Mega Baja lebih berperan sebagai suplier bagi mitra kerja. Material-material yang dijual di toko mitra, terutama material pokok seperti wire mesh, besi WF, H beam, besi beton, disuplai langsung dari Mega Baja.

Barang-barang itu harus dibayar secara cash oleh mitra kerja. Tentu saja harganya sudah termasuk margin untuk toko. Malah, Mega Baja memberikan kebebasan bagi mitra mematok harga jual.

“Prinsipnya, harga barang dari kita sekian, kalau mitra mau jual sekian atau mengambil untung sekian, silakan saja,” kata Assisten Manajer Mega baja Ujung Menteng, Idul, yang ditemui Tabloid SI di tokonya.

Saat ini pihak Mega Baja mengaku lebih memilih calon mitra yang ingin membuka toko di kota-kota di luar Jawa. Misalnya Palembang, Samarinda atau di wilayah Sulawesi. Hal ini katanya untuk lebih meratakan distribusi.

Saran Idul, mitra jangan menjual dengan harga terlalu tinggi karena besi baja sebenarnya punya harga pasar rata-rata. Kalau dijual terlalu tinggi, dikhawatirkan barang jadi tidak laku. “Margin yang diambil sebaiknya margin rata-rata saja, yang penting kesinambungannya,” kata Idul.

Untuk yang tidak laku, barang bisa diretur asal kondisinya masih bagus serta dikenakan  penalti denda 10% atas sejumlah modal barang yang diretur. Namun, selama ini Mega Baja mengklaim angka retur barang tidak terlalu tinggi.

Itu terjadi lantaran pola kerjasama ini mengedepankan komunikasi dan konsultasi. Artinya, mitra kerja akan selalu mendapat advise dari Mega Baja terkait cara menjual, cara mengatur stok, hingga cara berpromosi.

Pola bisnis Mega Baja ini tergolong cerdas. Sebab hanya dengan menjadi suplier bagi mitra kerja saja, Mega Baja sudah mendapat ‘recurring income’ atau pendapatan rutin yang berulang.

Menurut Idul, satu toko besi baja dibawah payung brand Mega Baja rata-rata beromset Rp 1 miliar hingga Rp 1,5 miliar per bulan. Jika saat ini ada 20 toko mitra maka omset rata-ratanya mencapai Rp 25 miliar per bulan.

Idul menambahkan, margin harga besi baja tidaklah besar. Paling tinggi sekitar 10%. Jadi apabila omset toko rata-rata Rp 1,5 miliar, maka margin yang bisa diperoleh adalah Rp 150 juta per bulan.

Dipotong overhead kantor misalnya gaji pegawai, listrik, dan lain-lain maka keuntungan bersih mitra sekitar Rp 60-80 juta per bulan. Sayangnya tidak diketahui secara pasti berapa besar suplai barang yang dikirim Mega Baja kepada seluruh toko mitra.

Mega Baja sendiri telah menjadi distributor tetap bagi pabrik-pabrik baja besar. Misalnya Gunung Garuda, Krakatau Steel, Cakratunggal Steel ataupun Toyogiri Steel. Saat ini menurut Idul, barang yang perputarannya cepat adalah bondek, wiremesh dan besi beton.

 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga