Siapkan Rp 7,1 Triliun, Krakatau Steel Akan Ekspansi Pabrik Baja

Minggu, 29 maret 2015

Jakarta -PT Krakatau Steel Tbk (KS) akan ekspansi usaha guna memenuhi kebutuhan baja nasional, yang sebagian besar masih diimpor. Dari total alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) 2015 sebesar US$ 551 juta (kurang lebih Rp 7,1 triliun), sebesar 77% di antaranya dialokasikan untuk pengembangan pabrik baja.

Ekspansi ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi baja KS dari 4,65 juta ton per tahun pada 2015 menjadi 7,15 juta ton pertahun pada 2017

Sekretaris Perusahaan PTKS Iip Arief Budiman mengatakan, ekspansi yang dilakukan PTKS sepanjang 2014 telah membuahkan hasil positif berupa semakin besarnya pangsa pasar baja yang dikuasai KS. 

“Pangsa pasar PTKS untuk baja canai panas (hot rolled coil) naik dari 2013 sebesar 41% menjadi 44% pada akhir tahun lalu. Produksi HRC juga berhasil naik 2,7% (year on year) menjadi 1,87 juta ton dengan utilisasi naik 2% menjadi 78%,” kata Iip Arief Budiman, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (29/3/2015).

Ia memaparkan, perseroan mengalokasikan total belanja modal sebesar US$ 551 juta. Alokasinya untuk proyek investasi PT Krakatau Steel Induk sebesar US$ 443 juta (80%), kemudian untuk proyek investasi anak perusahaan sebesar US$ 57 juta (10%), dan sisanya untuk penyertaan modal pada anak perusahaan dan perusahaan patungan sebesar US$ US$ 51 juta, termasuk untuk PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS) yang menyasar baja otomotif dan PT Krakatau Osaka Steel (KOS) yang menyasar baja konstruksi.

Pabrik KNSS rencananya akan berdiri di Cilegon, Banten, dengan modal disetor sebesar US$ 142 juta. NSSMC (Nippon Steel & Sumitomo Metal Corporation) memiliki 80% kepemilikan KNSS dan PTKS memiliki 20%. Perkiraan nilai investasi untuk pendirian fasilitas produksi sekitar US$ 300 juta dan akan menyerap 280 orang tenaga kerja pada saat beroperasi.

Bisnis utama KNSS adalah memproduksi dan memasarkan produk-produk baja lembaran berupa annealed cold-rolled steel dan hot-dip galvanized steel untuk keperluan otomotif. Kapasitas produksi mencapai 480 ribu metrik ton/tahun, dengan perkiraan mulai berproduksi pada pertengahan tahun 2017.

Sedangan, pabrik PT KOS akan berlokasi di Kawasan Industri Krakatau Cilegon, menempati luas area 21,6 hektare (ha), dengan modal disetor sebesar US$ 70 juta. Osaka Steel Co Ltd memiliki 80% saham PT KOS dan 20% dimiliki oleh PTKS. PT KOS dengan nilai investasi sebesar kurang lebih US$ 220 juta ini dijadwalkan mulai beroperasi pada 2016, dengan target penjualan sebanyak 500 ribu ton/tahun, dan akan menyerap tenaga kerja kurang lebih 170 orang.

Ekspansi pengembangan pabrik baja yang dilakukan di induk usaha bertujuan meningkatkan kapasitas produksi PTKS dari 4,65 juta ton pertahun pada 2015 menjadi 7,15 juta ton pertahun pada 2017. 

“Perseroan akan mulai menikmati ekspansi yang dilakukan mulai tahun 2016, seiring dengan turunnya capex yang akan dianggarkan pada 2016 dan 2017,” urai Iip.

Ia memaparkan, pada 2016, alokasi capex yang direncanakan akan turus drastis (51%) menjadi US$ 271 juta. Penurunan capex juga berlanjut pada 2017 menjadi US$ 169 juta atau turun 38% dari rencana anggaran 2016. 

“Tujuan dari ekspansi yang dilakukan PTKS adalah meningkatkan rasio produksi dari 322 ton per orang pertahun pada 2007 menjadi 1.088 ton perorang pertahun pada 2017 nanti,” jelasnya.

Salah satu bentuk ekspansi yang dilakukan PTKS adalah pembangunan pabrik Blast Furnace yang akan selesai pada semester II tahun ini. Pabrik Blast Furnace berkapasitas 1,2 juta ton pertahun ini progress pembangunannya sudah mencapai 83%. 

“Kami juga melakukan pengendalian capex, dalam arti selektif untuk proyek-proyek yang memang sangat dibutuhkan untuk kemajuan PTKS dan pendanaannya sudah ada,” katanya

Blast furnace merupakan pabrik pengolahan energi. Bila sudah beroperasi blast furnace berfungsi untuk menurunkan biaya bahan baku, mengurangi konsumsi listrik, menyeimbangkan fasilitas produksi hulu dan hilir. Dengan adanya Blast Furnace yang menghasilkan Hot Metal untuk proses pembuatan baja diharapkan dapat menurunkan biaya produksi US$ 60 – 80 per ton. Kemudian pembangunan Combined Cycle Power plant (CCCP) dengan kapasitas 120 MW yang diharapkan dapat menurunkan biaya hingga 20% untuk biaya pembangkitan listrik.

Untuk program ekspansi saat ini sedang dibangun Hot Strip Mill (HSM) #2 dengan kapasitas 1,5 juta ton per tahun sehingga total kapsitas HSM menjadi 3,9 juta ton per tahun. 

Sedangkan pengembangan di anak usaha yang telah diselesaikan adalah pengembangan kapasitas pelabuhan dari 10 juta ton pertahun menjadi 25 juta ton pertahun, pengembangan kapasitas supplai air dari 1200 liter/detik menjadi 1800 liter/detik dan pembangunan pabrik pipa baja ERW #2 dengan kapasitas 115 ribu ton per tahun sehingga kapasitas total pabrik pipa baja menjadi 233 ribu ton per tahun.

“Dengan langkah dan upaya manajemen tersebut diharapkan kondisi keuangan akan membaik di masa depan,” ujarnya.

Sumber Berita :
detik.com

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga