Produk Baja Dibanjiri Impor Dari China

Jum'at, 13 Maret 2015

JAKARTA - Produsen baja nasional PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menargetkan produksi baja perseroan tahun bisa mencapai 2,8 juta ton di tengah membanjirnya impor produk baja dari China. 

Direktur Utama Krakatau Steel Irvan Kamal Hakim mengatakan, saat ini industri baja masih belum pulih karena melambatya perekonomian dunia, terutama di China dan tekanan terhadap Rusia. Hal ini membuat pasar baja dunia tetap mengalami kelebihan pasokan. ”Apalagi sepanjang tahun lalu produksi baja dunia masih meningkat 1,1% dibanding tahun sebelumnya menjadi 1.637 miliar metrik ton,” kata Irvan saat jumpa persnya di Kantor Krakatau Steel, Jakarta, kemarin. 

Dia menambahkan, produksi baja di China juga masih naik 0,9% menjadi 823 juta ton dan Korea Selatan meningkat 7,5% menjadi 71 juta ton. Khusus di Indonesia, sekalipun permintaan baja domestik cenderung meningkat, harga baja masih tetap stagnan akibat perlambatan perekonomian nasional. 

”Pangsa pasar baja canai panas perusahaan juga naik menjadi 44% dari posisi tahun lalu sebesar 41%. Sedangkan, kapasitas produksi meningkat seperti pada lini produksi hot strip mill yang naik dari 76% menjadi 78%,” paparnya. 

Sepanjang tahun lalu harga baju flat di Asia Tenggara turun tajam dari bulan Januari 2014 sebesar USD540-570 / ton (cost and freight/ CFR) menjadi USD460-470/ton CFR pada akhir tahun 2014. ”Bahkan, produsen baja China berani banting harga jual bajanya demi mendapatkan pesanan dari pembeli dan cash flow perusahaan, yaitu dengan memasang harga jual baja hanya sekitar USD405/ ton diluar pajak pada Desember 2014,” ucapnya. 

Meski demikian, ujar Irvan, pihaknya optimistis tahun ini pasar baja nasional akan lebih baik. Dia memperdiksi harga baja dunia akan kembali pulih pada Mei 2015 . Sedangkan untuk menghadapi persaingan impor baja dari negara China, Irvan yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA), meminta pemerintah untuk meningkatkan tarif bea masuk dari saat ini 5% menjadi 20%. 

Selain itu, kata dia, proses penyelidikan anti damping juga harus dipersingkat setidaknya sama seperti di Malaysia yang hanya 24 hari. Bandingkan dengan di Indonesia yang memakan waktu dua tahun. 

Di bagian lain, dalam keterbukaan informasinya, emiten baja pelat merah tersebut mencatat, sepanjang tahun 2014 mengalami rugi bersih sebesar USD149,81 juta atau setara Rp1,87 triliun. Kerugian tersebut naik dibanding tahun sebelumnya yang hanya USD13,99 juta. 

Sementara, pendapatan bersih perseroan merosot sebesar 10,10% menjadi USD1,87 miliar atau setara Rp23,37 triliun dibanding tahun sebelumnya USD2,08 miliar. Pendapatan keuangan menyusut menjadi USD5,01 juta dari USD6,90 juta dan laba bersih selisih kurs bersih menurun drastis dari USD37,36 juta pada 2013 menjadi USD4,49 juta pada tahun lalu. 

Secara keseluruhan, kata Irvan, volume penjualan KRAS mengalami pengurangan sebesar 2,5% yaitu dari 2,37 juta ton menjadi 2,31 juta ton. Dampak anjloknya harga baja dunia juga membuat pendapatan perusahaan turut merosot sebesar 10,3% menjadi USD1,86 miliar. 

Direktur Keuangan Krakatau Steel Sukandar menjelaskan, meski harga baja dunia terus merosot, untuk menggenjot produksi, perseroan akan tetap meningkatkan kapasitas volume pada tahun ini. Perseroan pun mengalokasikan belanja modal (capital expenditure /capex) sebesar USD500 juta sepanjang tahun ini. 

”Dana capex digunakan untuk kelanjutan pabrik blast furnace dengan kapasitas 1,2 juta ton per tahun. Dengan menghasilkan metal panas untuk proses pembuatan baja, dapat menurunkan produksi USD60-80 juta per ton,” paparnya. 

Sementara alokasi belanja modal tahun lalu yang sebesar USD424 juta baru terserap USD336,9 juta. Belanja modal tahun lalu digunakan untuk pembangunan pabrik blast furnace dan juga anak usaha perseroan sebesar USD87 juta.

Sumber Berita :
koran sindo

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga