Bangga Melihat Kapal Loading Ke Laut

Kamis, 12 Maret 2015

Dalam membangun sebuah kapal (shipbuilding), dibutuhkan perencanaan yang berisi tahap-tahap pengerjaan. Tahapan itu diantaranya adalah  Proses perencanaan kapal (perhitungan dan gambar kapal), kemudian  proses Mouldloft (lantai gambar), proses sand blasting dan primer coating, proses keel Laying (peletakan lunas), prose Fabrikasi (marking,cutting,forming) hingga proses sea trial atau pelepasan di pantai.

Selain dilakukan oleh tenaga profesional, semua proses kerja diawasi secara ketat. Seperti yang terlihat di lokasi pembangunan kapal milik PT Daya Radar Utama yang berlokasi tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Mendung ditambah gerimis tidak mengurangi semangat para pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Saat itu para pekerja tampak sedang membereskan sisa pekerjaan sebelum beranjak pulang. 

Matahari yang sudah hampir tenggelam di ufuk barat tampak tertutup awan. Jika tidak mendung, pemandangan di pinggir laut itu cukup menarik, apalagi menjelang sore. Biasanya saat jam kerja usai, para pekerja menyempatkan diri ngobrol sembari ditemani matahari tenggelam di balik horizon. “Disini suasananya cukup asyik” kata salah satu pekerja.

Sayangnya, Tabloid Steel Indonesia tidak bisa menyaksikan mereka sedang bekerja karena jam kerja hampir usai. Tapi sembari menunggu hujan turun, Tabloid Steel Indonesia sempat berbincang dengan sejumlah pekerja yang bersiap pulang.

Sebut saja Hendra (34), yang sudah bekerja di PT Daya Radar Utama belasan tahun. Sayang ia menolak untuk difoto oleh fotografer kami. Malu katanya.”Janganlah Mas, saya disini cuma pekerja tidak pantas difoto,” katanya tersenyum.

Imbal dari keberatannya difoto,  Tabloid Steel Indonesia bisa bercengkrama bebas tentang kehidupan para pekerja di galangan kapal. Ia membuka cerita bahwa bekerja di galangan kapal merupakan sebuah keasyikan tersendiri. Apalagi saat melihat jika kapal sudah jadi.

“Rasanya punya kebanggaan kalau melihat kapal itu jadi. Bayangkan, hanya dari secarik kertas kok ya bisa jadi kapal sebesar itu,” katanya sembari menunjuk sebuah kapal pesanan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dipimpin Menteri Susi Pudjiastuti.

Ia menuturkan, saat kapal diserahkan kepada pembeli biasanya ada pekerja yang yang mendampingi selain direksi. Hendra mengaku termasuk yang pernah menyaksikan penyerahan kapal. “Saat kapal buatan kita diserahkan kemudian loading ke laut, bangganya tidak terkira,” katanya.

Jam kerja di galangan kapal sama dengan jam kerja di perusahaan lain. Mulai pukul sembilan pagi hingga pukul enam sore. ”Kalau sedang mengejar pesanan, ya kami dilemburkan,” kata Hendra.

Setiap pekerja di galangan kapal umumnya sudah memiliki pengalaman, atau minimal lulusan teknik perkapalan. “Kalau belum punya pengalaman sulit, kecuali sebagai tenaga kerja magang,” paparnya.

Hal itu terjadi lantaran seluruh proses pengerjaan kapal merupakan proses teknikal yang membutuhkan kecakapan. Kalaupun ada bagian-bagian yang dikerjakan secara manual, tetap saja membutuhkan skill tinggi.

“Misalnya pekerja las, walaupun keliatannya sepele, pengelasan di bidang perkapalan itu memerlukan teknik khusus, tidak bisa sembarangan mengelas,” tuturnya. Ia mengaku para pekerja las di perusahaannya sudah memiliki sertifikat.

Ada sebuah seloroh bagi para pekerja di galangan kapal, yakni bersiap-siap tidak pernah melihat wanita cantik. Maksudnya, pekerja di galangan kapal memang nyaris tidak ada yang wanita seperti di kantor-kantor pad umumnya. “Disini hampir semuanya pria,  kecuali bagian administrasi atau keuangan, itu pun mereka bekerja di kantor, tidak di sini,” kata Hendra sembari terkekeh.

Meski begitu, rasa persaudaraan begitu erat terlihat. Sesama pekerja biasanya punya tenggang rasa yang tinggi karena terkadang suasana cair dibutuhkan, “Pekerjaan kita sudah cukup keras, maka kita harus pandai-pandai menikmati. Kalau waktunya bekerja ya bekerja, tapi saat istirahat ya becanda juga,” katanya.

Bicara soal gaji, Hendra hanya bisa mengucap syukur karena selama ia bekerja gaji tidak pernah telat dan ia mengaku dibayar cukup sesuai keahlian. Sistem kerja di perkapalan menurut Hendra biasanya mengacu pada sertifikasi yang dimiliki pekerja. Semakin tinggi sertifikasinya, semakin besar gaji yang diterima.

Di lokasi pembuatan kapal Unit Tanjung Priok,  PT Daya Radar Utama memiliki lahan seluas 2,7 ha. Saat ini perusahaan itu sedang membuat 4 kapal Coaster bertonase 1.200 Gross Ton (GT). Semua kapal itu direncanakan dikirim tahun ini juga.

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga