Gunung Steel Group Tetap Optimis Meski Pasar Baja Sedang Lesu

Kamis, 12 Maret 2015

Bicara pabrik besi baja, nama Gunung Steel Grup (GSG) tidak bisa dilepaskan begitu saja. Jika Krakatau Steel yang milik pemerintah memproduksi 3,15 juta ton besi baja tahun 2013,  maka GSG memproduksi hingga 1,3 juta ton. Itu artinya, perusahaan ini merupakan perusahaan besi baja swasta terbesar di Indonesia. Bukan hanya itu, GSG merupakan pemain utama industri besi baja di tingkat Asia Tenggara.

Hal ini diakui sendiri oleh Menteri Perindustrian Saleh Husin saat melakukan kunjungan kerja ke lokasi Pabrik GSG di Cikarang, Jawa Barat beberapa waktu lalu. “Betul, Gunung Garuda memang menjadi salah satu produsen besi baja terbesar di Indonesia,” kata Menteri Saleh sembari melihat-lihat proses produksi peleburan baja.

GSG pertama kali didirikan pada tahun 1986 di Medan Sumatera Utara diawali dengan bergabungnya PT Gunung Gahapi dan PT Gunung Sakti pada tahun 1978. Selanjutnya, perusahaan ini mengalami perkembangan yang cukup pesat.

 

Pada tahun 1992 mulailah dibangun unit Steel Service Center (SSC) yang fungsinya untuk melayani jasa pra-pabrikasi dan jasa konstruksi. Berturut-turut kemudian dibangun juga Engineering Service Center (ESC) untuk melayni pelanggan secara teknis pada tahun 1997. 

 

Secara organisasi, manajemen GSG sejak dulu sudah membangun berbagai unit atau layanan khusus sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Setidaknya ada enam layanan khusus yang dimiliki GSG, yaitu Steel Service Center (SSC), Engineering Service Center (ESC), Forming Service Center (FSC), Bar Service Center (BSC), Plate Service Center (PSC),  dan Coil Service Center (CSC).

 

Selain berfungsi sebagai unit layanan, kelimanya juga berfungsi sebagai unit kajian yang terus melakukan inovasi atau peningkatan kualitas produk. Sekarang keenam unit itu melebur ke empat perusahaan di bawah bendera GSG.

 

Saat ini sebagai perusahaan konsolidasi, GSG memiliki empat anak perusahaan yaitu, PT Gunung Garuda yang membawahi layanan SSC dan ESC serta memproduksi 8 produk keluaran yaitu Angle, Honey Comb, King Cross, H Beam, Cell Form, Wuenn Cross, H-Beam dan IWF.

"Kita rencananya akan bangun dua blast furnace, satu di Cikarang dan satu lagi di pabrik Medan, pembangunan itu akan selesai pada Maret 2016 untuk tahap pertama dengan kapasitas produksi mencapai 750 ribu ton hot metal per tahun"

Selanjutnya PT Gunung Raja Paksi yang didirikan pada tahun 2001 dengan lini layanan Forming Service Center (FSC), Bar Service Center (BSC), Plate Service Center (PSC),  dan Coil Service Center (CSC), serta lebih dari 25 produk besi baja mulai dari plat baja, pipa ERW, kawat besi,  hingga paku. 

 

Perusahaan ketiga adalah PT Gunung Gahapi Sakti yang memproduksi besi baja untuk kebutuhan kontruksi dan industri berskala besar. Saat ini PT Gunung Gahapi Sakti berlokasi di Medan, Sumatera Utara.

 

Perusahaan yang paling muda adalah PT Gunung Steel Constructions yang berlokasi tidak jauh dari Gunung Steel Group di Cikarang. Perusahan ini melayani jasa konstruksi dinataranya pembangunan jembatan atau gedung.

 

Tidak hanya di dalam negeri, PT Gunung Steel Construction yang sudah melaksanakan proyek di luar negeri, diantaranya pembangunan Smith Brigde di Australia. Di dalam negeri, proyek yang dikerjakan di antaranya  jembatan lengkung Sabak, Jambi, dan jembatan lengkung di Seruyan Palangkaraya, Kaltim.  Saat ini PT Gunung Steel Coinstruction juga sedang mengerjakan proyek jembatan Merah Putih yang akan dipasang di Ambon. 

 

 

Tetap Optimis

 

 

Perlambatan ekonomi di tahun lalu sementara belum dapat diprediksinya kondisi ekonomi di tahun ini memang berimbas pada lesunya pasar besi baja internasional.

 

Saat ini, menurut Direktur Marketing GSG, DR. Chairuddin menyatakan, industri besi baja nasional saat ini  sedang mengalami tekanan dari berbagai sisi sehingga kondisi kinerja perusahaan produsen baja diperkirakan masih memburuk. 

“Kita tidak perlu malu-malu mengakui bahwa produksi memang sedang turun karena minimnya permintaan serta tekanan dari aspek lain misalnya tingginya biaya produksi,” kata DR. Chairuddin kepada Tabloid Steel Indonesia.

Diungkapkannya,  kapasitas produksi baja GSG sebelumnya mencapai 1,3 juta ton per tahun, namun sejak enam bulan terakhir angka produksinya mengalam penurunan menjadi di bawah 1 juta ton dengan proses produksi hanya 10 hari dalam sebulan dan sudah terjadi selama tiga bulan.

 

Kondisi tersebut membuat perusahaan mengalami over stok selama enam bulan terakhir, karena produk baja GSG kalah bersaing dengan produk impor baja dari Tiongkok. Meskipun begitu tidak sampai pada proses Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), namun yang dilakukan perusahaan adalah mengurangi insentif bagi para karyawan perusahaan.

 

DR Chairuddin mengungkapkan jika perusahaan tetap bertahan untuk tidak melakukan PHK. Selain itu perusahaan juga menjaga pendapatan karyawan agar tetap di atas UMR, jadi para karyawan mendapatkan penghasilan UMR ditambah insentif yang jumlahnya agak berkurang, karena produksinya berkurang.

 

Meskipun begitu ia mengaku optimis kepada Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo yang dapat menggenjot kembali industri baja nasional dengan berbagai kebijakan yang diberikan. Seperti salah satu kebijakan pemerintah yang akan mengenakan bea masuk impor baja sebesar 15 persen dengan tujuan melindungi industri baja dalam negeri.

 

Proyek Blast Furnace Jalan Terus 

Ditengah kondisi yang belum stabil, GSG tetap melakukan ekspansi dengan meneruskan proyek pembangunan blast furnace. Biaya pembangunan ini diperkirakan membutuhkan dana paling sedikit 200 juta USD.

 

“Kita akan rencananya akan bangun  dua blast furnace, satu di Cikarang dan satu lagi di pabrik Medan,

pembangunan itu akan selesai pada Maret 2016 untuk tahap pertama dengan kapasitas produksi mencapai 750 ribu ton hot metal per tahun,” katanya.

 

Sedangkan untuk pembangunan tahap kedua akan mulai dibangun ketika pembangunan blas furnace tahap pertama mendekati penyelesaian yakni pada pertengahan 2016 dengan kapasitas mencapai 750 ribu ton hot metal per tahun, sehingga total kapasitas produksinya mencapai 1,5 juta ton per tahun.

 

Ia juga menambahkan jika pembangunan blast furnace ini merupakan ekspansi usaha yang dilakukan GSG di tengah lesunya industri baja nasional, karena dibanjiri produk impor dari Tiongkok. Bahan baku yang akan digunakan untuk pengolahan smelter itu berasal dari Kalimantan, Padang, Jambi dan Aceh.

 

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga