Carmelita Hartoto

Kamis, 12 Maret 2015

Dalam industri pelayaran nasional, nama perempuan kelahiran Surabaya ini tak pernah ketinggalan disebut. Carmelita Hartoto atau biasa disapa Meme, adalah Direktur Utama Andhika Lines, sebuah perusahaan pelayaran nasional yang berdiri sejak 1972.

Parasnya yang anggun dan terjun di bisnis pelayaran yang  notabene dikenal sebagai dunianya lelaki, sosok Carmelita memang cukup menyedot perhatian. Tapi itu hanya fisik belaka. Jauh di dalam, di balik keanggunannya, Carmelita adalah sosok wanita cerdas dan tangguh. 

Percaya atau tidak, mungkin dialah satu-satunya wanita yang paling berpengaruh di sektor bisnis pelayaran nasional saat ini.  Carmelita adalah Ketua Umum Indonesia Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pelayaran Indonesia (Indonesian National Shipowner’s Association/INSA) yang terpilih sejak tahun 2011.

Sebagai Ketua Umum INSA, Carmelita bertanggung jawab besar membawa kepentingan seluruh anggota INSA khususnya, dan mendorong tumbuhnya bisnis pelayaran nasional yang pada gilirannya mendorong perekonomian nasional.

 

Bukan Putri Mahkota

Pada 1994, Carmelita merampungkan pendidikan pascasarjana bidang keuangan dan bekerja di sebuah perusahaan perdagangan di London, Inggris. Ia pulang ke Jakarta untuk berlibur dan mendapati ayahnya terkena serangan jantung.

”Ayah saya meninggal. Mendadak saya harus meneruskan posisinya di perusahaan karena saya anak paling tua dan partner ayah saya di perusahaan juga masih diwakili keluarga,” ujar sulung dari tiga perempuan bersaudara ini.

Ia berterus terang, bahwa ayahnya memang tidak mempersiapkan Carmelita untuk meneruskan bisnis keluarga. Sang ayah menginginkan perusahaan ditangani kalangan profesional, bukan dikelola sebatas turun-temurun. ”Mungkin waktu itu ayah saya merasa ini dunia laki-laki. Jadi, saya mulai dengan belajar dari nol,” ujarnya.

Tahun 2002 ia mengambil langkah berisiko, melepaskan diri dari kemitraan. Pecah kongsi karena perbedaan visi itu membuat Andika Lines ”menyusut” dari 33 kapal yang sebelumnya dipunyai menjadi dua kapal. Kini, perusahaan yang sepenuhnya sudah dipunyai keluarga Hartoto ini memiliki belasan kapal dan mengoperasikan 3 kapal lain dalam kemitraan.

”Ada perbedaan ”suasana” bekerja di perusahaan orang lain dan perusahaan milik sendiri,” kata Carmelita sambil tertawa, ”Dulu saya disuruh atasan, sekarang disuruh anak buah.”

 

Justru Tampil Cantik

Bekerja di bisnis pelayaran, berhubungan dengan para awak kapal yang mayoritas lelaki,  serta hilir mudik di pelabuhan yang dicitrakan sebagai dunia keras, adalah hal baru bagi Carmelita ketika itu.

Tapi Carmelita bergeming. Ia menikmati semua pekerjaan itu. Bahkan ia memiliki cara yang cenderung unik, yakni tetap tampil cantik sebagaimana wanita kantoran ketika berada di pelabuhan atau saat memantau aktifitas bisnis.

Carmelita merasa tidak perlu tampil gagah tiap kali ke pelabuhan. Kasihan kalau karyawan di pelabuhan tidak pernah melihat bos mereka tampil cantik dan keren, begitu kira-kira alasan Carmelita. “Anak buah kan senang kalau lihat bosnya cantik,” katanya tersenyum.

Meski begitu, Carmelita menerapkan aturan buat dirinya sendiri: emosi hanya boleh muncul dalam kantor sendiri. ”Di luar sebisanya saya menahan emosi, kalau orang marah-marah, kasih senyum saja. Lama-lama mereka capek sendiri,” kata perempuan yang tak pernah mengungkapkan tahun kelahirannya kepada awak media yang mewawancarainya. 

Bagi Carmelita, senyum adalah modal besar dalam berhubungan bisnis, terutama saat menghadapi klien. “Di pelabuhan kan udaranya panas, dengan senyum kepada orang-orang, kita malah membuatnya terasa cair,” katanya.

 

Asas Cabotage 

Tahun ini masa kerja Carmelita di INSA akan segera berakhir. Banyak hal yang sudah dilakukan Carmelita untuk pengembangan bisnis pelayaran. Salah satunya mengupayakan pemberlakukan asas cabotage yang sehurusnya diterapkan konsisten tahun ini juga.

Carmelita mengungkapkan momentum percepatan pembangunan industri maritim, khususnya pelayaran dan perkapalan, melalui penguatan asas cabotage sangat tepat. Terlebih saat harga kapal di pasar internasional kini sedang lesu. 

“Pengusaha pelayaran nasional masih bisa berinvestasi membeli kapal dalam jumlah yang besar meskipun perekonomian sedang melemah,” ujarnya. 

Saat ini mnurut data INSA, daya angkut kapal (total tonnage) juga berkembang, yakni dari 5,6 juta ton pada 2005 menjadi 19,2 juta ton pada Februari 2014 atau tumbuh hampir 300%. “Angkutan laut dalam negeri dari semula hanya 45% dikuasai asing, sekarang 99% sudah diangkut kapal nasional,” papar dia. “Itu berkat asas cabotage.”

Menurut dia, salah satu dukungan pemerintah adalah memberikan insentif fiskal bagi industri pelayaran dan perkapalan seperti penghapusan pajak pertambahan nilai (PPN) atas bongkar muat barang pada jalur perdagangan internasional dan pembelian bahan bakar kapal. 

Carmelita melanjutkan, pelaku pelayaran dalam negeri tidak perlu takut dengan persaingan terbuka dalam MEA 2015. Sebab, hal itu justru memiliki semangat untuk menjalin kerja sama di bidang perekonomian, dengan menghargai prinsip cabotage masing-masing negara. 

Sumber Berita :
http://steelindonesia.com/

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga