KEK Tanjung Lesung Bisa Raup Devisa Rp. 150 Triliun

Kamis, 12 Maret 2015

PT Banten West Java Tourism Development Corporation (BWJ) menyatakan siap mendukung target pemerintah untuk mencapai devisa negara dari wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2015 sebesar US$ 12,05 miliar atau setara dengan Rp 150 triliun (Rp 12.500/US$1). Bahkan target tersebut akan terlampaui jika memperhitungkan devisa dari wisawatan domestik.

 

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau Special Economic Zone Tanjung Lesung adalah satu dari tiga kawasan ekonomi yang telah ditetapkan pemerintah selain KEK Semangkai di Sumatera Utara dan KEK Morotai di Maluku Utara.

 

Jika dua Semangkai dan Morotai cenderung didorong menjadi kawasan industri, maka Tanjung Lesung melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 26/2012, Tanjung Lesung disasar menjadi kawasan ekonomi yang berbasis pariwisata.

 

Bahkan dalam rencana pengembangannya,  EK Tanjung Lesung akan dijadikan sebagai International World Class Destination dengan fasilitas terintegrasi berkelas dunia dan eksostime alam budaya di atas lahan seluas 1500 ha dan garis pantai sepanjang ± 13 km. 

 

Infrastruktur dan Fasilitas 

 

Menurut Direktur Utama BWJ, Setiawan Mardjuki,  Operasional KEK Tanjung Lesung sesuai dengan amanat undang-undang, harus beroperasi pada akhir Februari 2015 dan saat ini telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.  

 

Tujuannya pembentukan KEK Tanjung Lesung untuk mendorong investasi pariwisata. Sehingga secara nasional investasi, sektor pariwisata mampu memberikan kontibusi 12% terhadap investasi nasional dari realisasi selama ini sekitar 5–6%.

 

 “BWJ siap mendukung target-target pencapaian devisa negara dari sektor pariwisata, khususnya yang berbasis maritim. Bangsa kita harus memiliki keunggulan daya saing di bidang pariwisata  dari Negara lain,” ujar dia.

 

Saat ini BWJ tengah bersiap untuk meningkatkan berbagai infrastruktur dan fasilitas pendukung lainnya. Pertama, Airstrip yang akan mengakomodasi penerbangan carter Susi Air dengan pesawat seri Cessna Grand Caravan dengan rute Jakarta (Halim Perdana Kusuma)–Tanjung Lesung.

 

Kedua, pembangunan lapangan golf. Ketiga, pembangunan marina untuk kapal pesiar yang bekerja sama dengan PT Pelindo II. Keempat, pembangunan Theme Park. Kelima, pembangunan Pusat Studi Budaya Maritim Nasional bersama President University dan Smart City bersama PT Telekomunikasi Indonesia. “Pengelolaan kawasan atau estate management berstandar Singapura dan eco friendly,” papar Setiawan.

 

Sementara itu, terdapat dua proyek infrastruktur besar yang sedang dikembangkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi Banten di Tanjung Lesung. Yaitu, Bandar Udara Banten Selatan dan Jalan Tol Serang–Panimbang yang melalui jalan tol Jakarta–Merak.

 

Tak hanya itu BWJ juga telah menandatangani kerjasama dengan PT. Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) untuk membangun terminal standar (cruise terminal) kapal pesiar dan kawasan Marina di daerah tersebut.

 

Direktur Jababeka, SD. Darmono mengatakan, kerjasama ini merupakan sebuah langkah awal dan sinergi guna mengembangkan daerah pariwisata, sesuai dengan Visi Jababeka dalam mengembangkan Tanjung Lesung agar menjadi tempat tujuan turis asing yang menggunakan Kapal Pesiar.

 

Hingga saat ini, lanjut Setiawan, bermodalkan lahan seluas 1.500 hektare (ha), KEK Tanjung Lesung telah memiliki sejumlah penginapan bertaraf internasional seperti 44 unit villa istimewa dengan fasilitas private pool yaitu Kalicaa Villa Estate, 61 unit villa di Tanjung Lesung Beach Hotel, the Blue Fish, the Sailing Club, dan Green Coral Exclusive Camping.

 

Banyak hal yang dapat dilakukan selama berada di Tanjung Lesung, khususnya bagi para pecinta olahraga air. Snorkeling, diving, banana boat, hingga sailing dapat dilakukan di fasilitas The Beach Club. Wisatawan tak hanya dapat melakukan aktivitas olahraga air, namun juga berpartisipasi melestarikan lingkungan laut dengan mempelajari cara transplantasi terumbu karang di lokasi konservasi yang terletak di tengah laut.

 

 

Persoalan SDM

 

Presiden Direktur PT Jababeka TBk, grup properti yang membawahi BWJ, SD Darmono mengungkapkan, persoalan besar pengembangan KEK Tanjung Lesung salah satunya adalah ketidaksiapan SDM lokal.

 

“Ini tidak bisa tidak dipungkiri, SDM lokal yang rencananya ingin kita libatkan masih terkendala dengan skill atau kemampuan yang terbatas. Padahal kami berharap jika kawasan ini berkembang dapat menyerap hingga 1 juta tenaga kerja,” kata Darmono.

 

Tapi Darmono yakin, pada saatnya nanti, SDM lokal akan dapat bersaing karena penciptaan kondisi.

Artinya, kondisi ekonomi yang berkembang di sekitar KEK sejatinya akan mendorong pula keinginan masyarakat sekitar untuk meningkat kemampuan agar dapat berkontribusi.

 

Besarnya kebutuhan SDM ini berkaca dari potensi ekonomi yang berkembang di KEK Tanjung Lesung ke depan. Sebelumnya Pemerintah Kabupaten Pandelang berharap pihak pengelola Tanjung Lesung dapat memperkerjakan karyawan lokal sebanyak 70% dari kebutuhan yang ada.

 

 

Target Pemerintah

 

Data Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 mencatat, target kunjungan wisman tahun 2015, sebanyak 10 juta kunjungan. Angka ini naik dari capaian tahun 2014 sebanyak 9,44 juta orang, dan hanya 8,32 juta orang pada tahun 2013. Dan nilai devisa wisman tahun 2015 ditargetkan sebesar US$ 12 miliar. 

 

Lalu tahun 2019, pemerintah mematok angka wisman sebanyak 20 juta orang. Sebelumnya, pemerintah menargetkan mampu memobilisasi wisatawan domestik hingga 254 juta perjalanan dan pengeluarannya mencapai Rp 201,5 triliun.

 

Pemerintah menargetkan kunjungan wisman meningkat menjadi 20 juta wisman dan wisatawan domestik naik menjadi 275 juta (2019) dari 9,44 juta wisman dan 210 juta wisatawan domestik (2014). Serta daya saing pariwisata Indonesia akan meningkat berada di ranking 30 besar dunia (2019), dari posisi ranking 70 dunia menurut World Economic Forum (WEF).

 

“Dengan target pemerintah tersebut, maka diharapkan KEK Tanjung Lesung dapat berkontribusi dalam membuka lapangan kerja baru bagi 300 ribu orang secara langsung, dan jutaan orang lainnya secara tidak langsung dan tenaga kerja ikutan di sektor informalnya bila seluruh lahan telah dikembangkan,” kata Setiawan.

 

Sumber Berita :
http://www.penabahari.com/?p=1969

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga