Wawancara Menteri Perindustrian Saleh Husin

Kamis, 12 Maret 2015

Akhir Februari silam Menteri Perindustrian Saleh Husin melakukan kunjungan kerja ke produsen besi baja Gunung Steel Grup (GSG) yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat. Ini merupakan kunjungan kementerian pertama dari jajaran Kabinet Kerja pimpinan Presiden Joko Widodo ke Gunung Garuda.

Memakai kemeja putih lengan panjang, Menteri Saleh Husin diterima di Club House Gunung Steel Grup. Di sana Menteri Saleh Husin mendengarkan paparan dari sejumlah petinggi GSG diantaranya dari Direktur Marketing GSG DR. Khaerudin.

Di sela-sela kunjungan tersebut, Tabloid Steel Indonesia berhasil mewawancarai Menteri Saleh Husin usai menjalankan shalat Dhuhur bersama di Club House. 

Berikut petikan wawancaranya :

 

Apa makna kunjungan Bapak ke GSG ini?

Industri besi dan baja sebagai salah satu indsutri prioritas memegang peranan penting bagi pengembangan industri lainnya mengingat besi dan baja adalah bahan baku dasar. Misalnya, industri galangan kapal, industri di sektor oil and gas, industri alat berat, otomotif, elektronika dan lain sebagainya.

Selain itu industri besi dan baja adalah salah satu komponen utama dalam mendukung pengembangan infrastruktur yangs edang kita canangkan sperti itu pelabuhan, rel kereta api, bandara dan lain-lain.

Terkait dengan itu, kami ingin mendengar masukan perkembangan industri besi dan baja nasional mengingat PT Gunung Garuda dan PT Gunung Raja Paksi adalah perusahaan baja swasta terbesar di Tanah Air.

Lalu apa masukan dari mereka kepada pemerintah?

Tadi kita sudah dengar sendiri, kesulitan industri ini adalah minimnya bahan baku serta masih banyaknya regulasi yang menghambat. Ini kita perlu pikirkan dan cari solusi bersama. Sebab biar bagaimanapun industri besi dan baja merupakan industri strategis yang terkait dengan industri lainnya. Jika kita abaikan, bisa mempengaruhi pertumbuhan industri lainnya.

 

Terkait regulasi limbah B3 bagaimana kabarnya?

Sejumlah petinggi Gunung Garuda juga sudah mengeluhkannya kepada saya. Ini bukan isu baru, sejak lama memang ini jadi persoalan. Masak barang bekas besi dikategorikan limbah, padahal bisa digunakan untuk pengerasan jalan misalnya. Kita harus segera selesaikan ini. Kami sudah rapat dengan kementerian terkait, dengan Kementerian Perhutanan dan Lingkungan Hidup. Mereka sudah sepakat untuk mengubah ini.

Kapan perubahan itu bisa terealisasi?

Kita tunggu. Soalnya kalau hal ini kan yang punya kebijakan adalah Kementerian Perhutanan dan Lingkungan Hidup, kita hanya merekomendasikan perubahan itu. Tapi poinnya kita sepakat ini harus dirubah.

 

Menurut Bapak, bagaimana perkembangan industri besi baja nasional saat ini?

Dari sisi kebutuhan,  setiap tahun terus meningkat. Contohnya, kalau tidak salah angkanya pada tahun 2009 sekitar 9,4 juta ton kemudian di tahun 2014 kebutuhannya menjadi 12,7 ton. Angka ini tolong dicek ya ke dirjen, sebab saya tidak ingat secara detail. Tapi sekitar segitu. 

Dari sisi pertumbuhan, kit abisa lihat, pertumbuhan ekonomi  nasional tahun 2014 mengalami sedikit perlambatan yaitu sebesar 5.02%. Imbasnya, sektor industri logam dasar juga kena, menjadi 8,38%. Namun demikian pertumbuhan industri logam dasar 2014 tetap tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Seberapa penting sektor ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional?

Industri besi dan baja tentu punya peran besar. Kita, seiring program pembangunan infrastruktur yang nilai proyeknya diperkirakan Rp 5.519 triliun sampai tahun 2019 membutuhkan pasokan baja hingga 17,46 jutan ton per tahun. Ini besar sekali.

Menurut Bapak, apa yang harus dilakukan oleh pelaku industri besi baja?

 

Dalam pembanunan infrastruktur di Indonesia khususnya kontruksi, dibutuhkan baja yang berkualitas seperti yang diproduksi PT Gunung Garuda dan PT Gunung raja Paksi yang setiap tahun kapasitas produksinya mencapai 1,3 juta ton per tahun.

Untuk itu, kita meminta para pelaku industri terus meningkatkan kapasitas dan kualitas produknya. Tujuannya selain untuk memenuhi kebutuhan nasional juga untuk meningkatkan daya saing dengan produk impor.

Menurut Bapak, apa saja kelemahan industri ini?

Tidak dipungkiri kita masih tergantung dengan bahan baku impor. Kemudian daya saing juga masih rendah. 

Apa saja yang sudah dilakukan pemerintah untuk melindungi industri ini?

Tentunya pemerintah berupaya melakukan beberapa hal yaitu dnegan memberlakukan penerpaan SNI wajib, trade remedies, kenaikan tariff bea masuk, P3DN, serta penurunan harga gas dan komponen kenaikan dasar listrik (TDL) sehingga dapat meningkatkan kapasitas dan kinerja industri baja nasional.

Saat ini ada 170 pos tarif industri hilir baja, 130-nya sudah diusulkan untuk dikenakan bea masuk 15%, sementara itu, 40 pos tarif di industri hulu baja sedang dibahas untuk dikenakan bea masuk 15% tersebut. Kami usulkan bea masuk 15% itu, supaya daya saing industri baja dalam negeri bisa bertahan dari produk baja dari negara lain.

Apa harapan Bapak untuk keberlangsungan industri besi baja nasional?

Kita harus melakukan percepatan pertumbuhan industri. Ke depan, pelaku industri saya harap bisa menjaga kapasitas dan kualitas produk,  sementara dari sisi pemerintah tetap bisa memberikan perlindungan terhadap industri. Kalau ini berjalan sinergis, kita yakin industri besi baja akan berkembang pesat.

 

Sumber Berita :
http://steelindonesia.com/

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga