Industri Galangan Kapal Nasional Harus Bangkit

Kamis, 12 Maret 2015

Indonesia punya luas laut 5,8 juta kilometer persegi, terdiri dari perairan teritorial seluas 300 ribu km2, perairan pedalaman dan kepulauan seluas 2,8 juta km2, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 2,7 juta km2, serta lebih dari 17.500 pulau. Semuanya menyimpan kekayaan yang luar biasa.

Begitu besar potensi angkutan laut di Indonesia yang sampai sekarang belum bisa termanfaatkan dengan baik.  Bisnis galangan kapal, misalnya, selama ini belum mendapat dukungan berbagai pihak sehingga sulit bersaing.

Beberapa kendala yang dihadapi oleh industri galangan kapal adalah sulitnya berproduksi secara efisien. Kemudian kebijakan tarifnya masih lebih mahal dibanding perusahaan galangan kapal di negara lain. Bahkan, dukungan dari industri komponen masih minim.

Dukungan industri komponen diantaranya, masih terbatasnya bahan baku besi baja maupun peralatan teknis lainnnya yang masih tergantung dari impor. Padahal marketnya cukup besar. 

Market Galangan Kapal

Untuk menggambarkan berapa market industri ini, ada dua hal yang bisa jadi patokan. Pertama, menurut data Indonesian National Shipowners' Association (INSA), 75% dari 13 ribu kapal niaga nasional berusia 20 tahun keatas yang memerlukan revitalisasi atau peremajaan.

Kedua, permintaan jumlah kapal diyakini akan meningkat seiring pemberlakuan azas cabotage pada tahun 2015 ini. Azas Cabotage memungkinkan industri pelayaran nasional terutama untuk angkutan laut berkembang pesat. Pada gilirannya akan berdampak luas juga kepada pertumbuhan industri galangan kapal.

Utilitas dari kedua sektor itu sejauh ini masih belum maksimal. Untuk industri galangan kapal reparasi, fasilitas produksinya sebesar 214 unit dengan kapasitas 12 juta dead weight ton (DWT) per tahun dan utilisasi sebesar 85%. Sedangkan galangan kapal baru, fasilitas produksinya sebanyak 160 unit dengan kapasitas 1,2 juta DWT per tahun dan utilisasi 35%.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, saat ini dari 250 galangan yang ada hanya 50% yang aktif alias masih berproduksi, selebihnya mati suri. Dari segi kontribusi, industri galangan kapal hanya mampu memenuhi sekitar 10% kebutuhan kapal baru di dalam negeri. 

Jika azas cabotage diterapkan konsisten, maka industri galangan kapal menjadi sektor bisnis yang  menggiurkan lantaran ada kekosongan suplai kapal baru hingga 90%.

“Dari 250 galangan yang ada hanya 50% yang aktif alias masih berproduksi, selebihnya mati suri. Dari segi kontribusi, industri galangan kapal hanya mampu memenuhi sekitar 10% kebutuhan kapal baru di dalam negeri.“

Hitungan realistisnya pernah dikemukakan Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Gati Wibawaningsih,  kepada Tabloid Steel Indonesia. 

Ia mengungkapkan, kebutuhan kapal nasional selama 5 tahun dalam rangka mendukung program tol laut yang dicanangkan Presiden Joko Widodo mencapai 1.574 unit.

“Dari 9 jenis kapal yang beredar di Indonesia, dibutuhkan kapal sampai 1.574 unit dengan biaya investasi sebesar Rp 160,6 triliun,” katanya.

Jika selama ini industri dalam negeri hanya mampu menyuplai 10%, maka kebutuhan kapal baru sampai lima tahun mendatang sebesar 1417 unit kapal niaga. Angka itu tinggal dikali saja dengan harga kapal yang berkisar Rp 3 miliar-100 miliar per unit.

Dari 9 jenis kapal yang banyak beredar di Indonesia, jenis kapal tongkang (tug boat), kargo, dan bulk carier (kargo curah) merupakan jenis yang paling laris. Bahkan lima sampai sepuluh tahun lalu, produksi kapal untuk 3 jenis tersebut Indonesia mampu menempatkan posisi sebagai produsen penting.

Itu sebelum industri galangan kapal China, Philipina dan Vietnam berkembang pesat seperti sekarang. Ketiga negara itu kini menjadi pesaing berat Indonesia dalam produksi kapal. Sementara Indonesia perlahan justru menjadi pasar bagi mereka.

Pertumbuhan Lambat 

Jika marketnya demikian besar, lantas kenapa industri galangan kapal masih sulit berkembang? Penyebab adalah adanya pengenaan bea masuk komponen berkisar 5% hingga 12,4%, ditambah PPN 10% terhadap penyerahan atau penjualan kapal sehingga struktur biaya pembangunan kapal baru di Indonesia menjadi tidak kompetitif.

Tingginya biaya fiskal untuk pembuatan kapal akhirnya berimbas pada harga jual kapal dalam negeri yang lebih mahal ketimbang buatan luar negeri. Disparitas harganya bisa mencapai 30%, sehingga tak heran banyak pengusaha pelayaran lebih memilih membeli kapal buatan asing.

Pertumbuhan industri galangan kapal meski tumbuh positif, namun selama 5 tahun belakangan angkanya tidak lebih dari 10%. Ini kalah jauh dibandingkan dengan industri galangan kapal China misalnya yang pertumbuhannya bisa mencapai diatas 20% per tahun.

Saat ini idnustri galangan kapal masih terkonsentrasi di wilayah Batam. Suplai kapal baru menurut Kementerian Industri masih ditopang 75% dari galangan kapal Batam. Padahal beberapa wilayah lain di Indonesia misalnya Jawa Timur dan Makasar memiliki potensi yang begitu besar.

Selain masih hanya terkosentrasi di wilayah Batam, fakta lainnya, teknologi pembuatan kapal di Indonesia juga masih konvensional. Misalnya, dalam pembuatan blok-blok badan kapal belum diintegrasikan secara optimal dengan pekerjaan outfitting (perpipaan dan perlengkapan kapal lainnya). Dengan demikian, tingkat produktivitasnya masih rendah dan sulit menyaingi galangan-galangan kapal di negara-negara yang sudah maju teknologi produksinya.

Dari sisi eksternal, turunnya harga batubara juga mempengaruhi lesunya pesanan kapal di Batam. Itu terjadi lantaran sumber daya mineral seperti batu bara sedang turun, padahal  pesanan kapal baru lebih banyak tongkang untuk mengangkut batubara. 

Laporan produksi kapal di Batam yang diterima Tabloid Steel Indonesia, ekspor atau pesanan kapal tongkang ke luar negeri kini menurun drastis hingga 75% akibat fluktuatifnya harga batu bara yang merupakan komoditas angkutan utama jenis kapal tongkang.

Bermacam masalah ini harus segera diselesaikan semua pihak. Sebab industri galangan kapal secara umum termasuk industri strategis dalam mendukung pemerintah terkait program poros maritime dunia yang dicanangkan beberapa waktu lalu.

Lebih jauh, ini bukan semata soal bisnis tapi soal nasib 250 ribu pekerja yang nasibnya bisa terancam jika industri galangan kapal ini mati suri. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, industri galangan kapal nasional harus bangkit.

Sumber Berita :
Tabloid Steelindonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga