Krakatau Steel Bidik Produksi Baja 7,1 Juta Ton, Naik 127%

Minggu, 31/08/2014

Perseroan dengan menjalankan empat strategi guna mengoptimalkan kinerja perusahaan ke depan. Langkah-langkah tersebut adalah meningkatkan daya saing biaya, memperbesar kapasitas produksi, meningkatkan produk bernilai tambah tinggi, dan meningkatkan bisnis non-baja.

Irvan memaparkan, peningkatan kapasitas produksi dilakukan guna memenuhi pasar baja domestik yang terus tumbuh serta mempertahankan posisi Krakatau Steel sebagai pemasok baja utama. Krakatau Steel akan membangun hot strip mill (HSM) II.

Fasilitas hot strip mill (HSM) II merupakan lini baru untuk memproduksi baja lembaran canai panas berkapasitas 1,5 juta ton/tahun, serta yang telah selesai adalah pendirian pabrik baja terpadu PT Krakatau Posco dengan kapasitas produksi 3 juta ton/tahun, terdiri atas produksi 1,5 juta ton pelat dan 1,5 jutaan ton slab untuk bahan baku perseroan, serta pendirian pabrik baja profil dan batangan PT Krakatau Osaka Steel (bekerjasama dengan Osaka Steel Corporation) berkapasitas 500 ribu ton/tahun.

Sementara itu, upaya meningkatkan daya saing biaya dilakukan melalui pembangunan pabrik Blast Furnace, dengan target menurunkan biaya produksi slab SSP1 dan SSP2 sebesar US$ 64 per ton, yang dihasilkan melalui penurunan biaya bahan baku dan konsumsi listrik di Steelmaking.

Menurut Irvan peningkatan produksi produk-produk bernilai tambah tinggi dilakukan, antara lain dilakukan melalui pembangunan pabrik Galvanizing & Annealing Line PT Krakatau Nippon Steel Sumikin. Pabrik hasil kerja sama dengan Nippon Steel Sumitomo Metal Corporation ini akan memproduksi baja galvanizing dan anealing untuk sektor otomotif dengan kapasitas 500.000 ton per tahun

Irvan menambahkan, manajemen juga melakukan diversifikasi portofolio guna memperbesar pendapatan dari bisnis non-baja, melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga gas & uap PT Krakatau Daya Listrik, sebesar 120 MW, guna memenuhi kebutuhan listrik perseroan, menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keandalan peralatan. 

Melalui PT Krakatau Tirta Industri, kapasitas pasokan air bersih ke kawasan industri akan ditingkatkan dari 37 juta meter kubik (M3) menjadi 56 juta M3/tahun serta ekspansi kapasitas pelabuhan PT Krakatau Bandar Samudera sehingga pelayanan bongkar muat meningkat dari 10 juta ton menjadi 25 juta ton/tahun.

Menurut Irvan, seluruh strategi tersebut dijalankan manajemen guna menyikapi dinamika perekonomian global saat ini dan di masa mendatang. 

Ia menjelaskan, hingga pertengahan tahun 2014, pertumbuhan ekonomi dunia masih mengalami perlambatan sebagai dampak krisis keuangan yang berkepanjangan di negara Eropa. 

"Kondisi ekonomi dunia tersebut berdampak pada menurunnya jumlah permintaan baja di pasar global maupun domestik yang diikuti dengan turunnya harga jual produk. Hal tersebut diperburuk dengan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," kata Irvan.

Ia menambahkan pada tahun 2014-2015 perseroan juga sedang menjalankan program peningkatan pendapatan dari aspek non operasional melalui optimalisasi lahan PT KS Group seluas +/- 62,5 hektare (ha) dengan keuntungan bersih +/- US$ 115,69 juta. 

Irvan mengharapkan program optimatisasi lahan tersebut dapat memperbaiki kinerja Perseroan dari aspek profitabilitas maupun likuiditas. 

"Perseroan juga merencanakan pembelian lahan pengganti dengan harga yang lebih murah untuk mengantisipasi kebutuhan lahan pengembangan industri ke depan," katanya.

">

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga